Lamunan Malam

0
Lamunan Malam
Sumber: pintres

Lamunan Malam – Seperti ini situasinya! Semua itu terjadi di bulan April, saat anak baru mulai menduduki wewenang dalam organisasi, mereka disebar berdasarkan keaktifanya.

Saat semua orang mulai beradaptasi, mereka berkata bahwa dirikulah yang paling tidak berguna dalam organisais, atau bertingkah semaunya sediri diwaktu yang lain bekerja. Demi alasan seperti itu, mereka mulai membuangku dari kelompok. Diriku menjadi pendiam, dan mereka malah menjauhiku.

Aku hanya berpikir, Meski salah, meski kejam, meski bodoh, jika banyak orang mengakuinya, itu akan menjadi benar. Sehingga aku sadar bahwa keadilan bisa membawa mayoritas. Karena keadilan ditentukan oleh sejumlah, dan mayoritas adalah segalanya.
Itu sebabnya aku memilih menyendiri daripada bersosialisasi.

Aku jadi ingat kisah-kisahku yang dulu, tentang dimana mantan pacarku memegang kaosku dan menangis, seluruh tubuhku berdenyut seakan-akan menjadi jantung, dan rasanya sangat menyakitkan. Pada saat itu aku ingi memburu orang-orang yang membuatnya menangis dan menghajarnya, tapi hal itu tidak akan menyelesaikan masalah. Itu tidak akan mengutungkannya. Jadi berpikir. Berpikirlah. Tentang apa yang harus kulakukan?

Lalu, kami menuju angkringan yang berada dekat dengan kos yang aku tinggali tepatnya sangat strategis pinggir jalan. Di sana ada makan dan minuman, seperti biasanya yang disediakan angkringan Jogja. Makan malam yang disajikan diatas meja makan kayu yang berada disamping 3 ceret yang berisikan jahe, teh, air panas, dan suasana angkringan yang sedang ramai pelanggan. Dia berkata padaku, “terima kasih karena sudah mengajak makan malam.” Kim juga makan banyak, walaupun sambil memainkan handphone. Kami nasi kucing, gorengan, dan sate telor puyuh.

Saat aku mulai mengunyah, aku terus berpikir hal yang bisa aku lakukan. sehingga aku merogoh sakuku untuk mengambil handphone. Dengan bermodalkan itu aku membuka mesin pencari yang orang biasa menyebutnya mbah google dari situ aku mulai mencari solusi dan menganalisanya.

Kupikir aku bisa menanyakan pada Google untuk mendapatkan perspektif dari internet. Kupikir itu bisa memberikan sebuah petunjuk untuk menyelesaikan hal ini. Setelah aku telusuri, jika mencari kata “bully”, akan mendapatkan 28.700.000 hasil pencarian. Jika mengetik “cara mengenai bully,” akan mendapatkan 28.300 hasil pencarian. Dan solusi ini tidak ada yang berhasil 100%.

Didalam beranda webside, orang-orang yang sedang dibully dan membully. Orang tua dari kedua belah pihak. Orang-orang yang melihatnya. Orang-orang yang dibully di masa lalu. Aku bisa melihat 200 juta halaman dari beberapa tahun yang lalu dan membalas perdebatan dari berbagai pihak. Tapi aku tidak akan menemukan jawaban disini. Lebih jelasnya, disini hanya ada jawaban untuk orang-orang yang sudah melaporkan masalahnya.

Sehingga ini sangat bersifat relatif.
Orang-orang yang ingin minta maaf.
Orang-orang yang ingin mempertahankan dirinya.
Orangtua yang ingin membalaskan anaknya.
Orangtua yang ingin membersihkan nama anaknya.
Orang-orang yang ingin pembullyanya mendapat perlakuan yang sama.
Orang-orang yang ingin kembali ke lingkaran pertemananya.

Posisi dan kepribadian orang-orang yang terlibat sangatlah berbeda. Karena itu, tidak ada jawaban sempurna” untuk semua kasus. Tapi itu bukan berarti aku harus menyerah. Jika aku berpikir, “tidak ada jawaban yang bisa ditemukan jadi aku tidak akan melakukan apapun.,” berarti aku tidak akan maju. Setidaknya aku bisa tahu apa yang tidak boleh dilakukan. Dan itu bisa membuat orang lain berteriak, “kita harus memecahkan masalah ini,” dengan mengabaikan perasaan korban, dan maju ke depan dengan cepat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here