Kamu Partai Allah, Dia Partai Setan, Lalu Aku?

0
Kamu Partai Allah, Dia Partai Setan, Lalu Aku?
Sumber: Pinterest

“Sekarang ini kita harus menggerakkan seluruh kekuatan bangsa ini untuk bergabung dan kekuatan dengan sebuah partai. Bukan hanya PAN, PKS, Gerindra, tapi kelompok yang membelaagama Allah, yaitu hizbullah. Untuk melawan siapa? untuk melawan hizbusy syaithan.”

Kalimat di atas adalah kutipan tausiyah Amin Rais  selepas mengikuti Gerakan Indonesia Salat Subuh berjemaah di Masjid Baiturrahim, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Jumat (13/4) pagi.

Hal ini memang mencengangkan bagi masyarakat Indonesia. Sebab selama ini perpolitikan Indonesia sudah bergeser pada penunggangan Agama. Khususnya “Islam” yang sering digunakan para politisi negeri ini untuk menjatuhkan lawannya.

Nah, hal semacam ini sebenarnya berpotensi memicu terjadinya pembelahan umat Islam sendiri dan Indonesia. Pasalnya, pendikotomian bisa membentuk persepsi pada masyarakat bahwa ketika mengikuti partai B misalnya dianggap “kelompok Setan”. Lalu, ketika mengikuti kelompok partai A dianggap “partai Allah”.

Selain pada dikotomi, kutipan di atas tadi juga berdampak pada pemilih atau pemilik hak suara dalam pemilihan umum misalnya. Ia bisa membingungkan para pemilih suara. Nanti yang memilih partai B dianggap mengikuti Setan, sedangkan yang mengikuti A, pengikut Allah. Sebenarnya apa maksud dari pengelompokan ini? Apakah Allah butuh kekuasaan sehingga disebut partai Allah? Apa yang menjadi dasar pengelompokan ini? Toh, mereka juga berniat membangun negara menuju yang baik dengan menyejahterakan masyarakatnya melalui program yang mereka buat.

Lantas bagaimana PAN, GERINDRA serta PKS di pemilihan tingkat daerah dan kota yang berkoalisi dengan partai lain selain ketiga partai tersebut untuk berkoalisi dengan partai lain dalam pemilihan presiden nanti? misalnya sebagaimana yang diutarakan wakil partai Gerindra Fadli Zon akan berkoalisi dengan Partai Demokrat dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Apakah mereka bisa kita anggap murtad sekaligus pengikut partai Setan? Lantas yang bagaimana partai Allah itu kalau toh ternyata partai mereka juga menjalin kerjasama selain ketiga partai tersebut?

Setidaknya, apabila memang bertujuan untuk membangun negara yang “baldatun toyibatun wa rabbun ghofur” dapat dilihat serta dipelajari bagaimana para sahabat memilih seorang pemimpin negara. Mereka melaluinya tidak dengan saling mencela dan menjatuhkan orang lain. Sama sekali. Misalnya saja ketika pemilihan Abu Bakar memang Nabi tidak pernah berwasiat siapakah yang akan menggantikan beliau. Namun, karena para sahabat sadar bahwa sahabat Abu Bakar layak menjadi seorang kepala negara. Begitu juga zaman Umar bin Khatab kala menjadi kepala negara. Setelah wafat, posisi digantikan oleh Usman bin Affan. Untuk menentukan penggantinya, Umar tidak menempuh jalan yang dilakukan Abu Bakar. Dia menunjuk enam orang sahabat dan meminta kepada mereka untuk memilih salah seorang di antaranya menjadi khalifah. Enam orang tersebut adalah Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Saad bin Abi Waqqas, dan Abdurrahman bin Auf. Keenam sahabat ini mempunyai hak memilih dan dipilih. Setelah Umar wafat, tim ini bermusyawarah dan berhasil menunjuk Usman sebagai kepala negara.

Dari praktik yang dilakukan para sahabat, setidaknya dapat dipelajari bahwa nilai demokratis bukan untuk saling mencela dan menjatuhkan lawan politiknya. Tetapi dengan menunjukkan dedikasi sebagai kepala negara yang memang layak dan bersaing dengan cara baik terhadap lawan-lawanya demi meraup suara yang menandakan dirinya layak sebagai pemimpin.

 

Oleh: Abu Muslim Wijoyo,

Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga

Yogyakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here