Hendri Krisdiyanto; Penebar Doa Dan Beberapa Sajak Lainya

0
Hendri Krisdiyanto; Penebar Doa Dan Beberapa Sajak
Sumber: dream.co.id

Menebar Doa

Aku berdoa
agar dunia diberi waktu lebih lama.

jalan-jalan adalah tempat setiap orang
memungut senyum dari bibirnya
dan melemparkan pada sesamanya.

Penyair tidak melupakan kesunyiannya
Menggapai segala yang bagi dirinya jauh

Februari, 2018

Suatu Malam Di Kafe

Seorang perempuan dengan senyum paling ringan
Membakar seluruh bebannya pada sebatang rokok yang usang.

Asapnya di hembuskan ke udara
Bagai kabut di tepi-tepi bukit pagi hari
Seperti tak ada apa-apa, dan memang tak ada siapa-siapa.

Hanya sisa beberapa puntung rokok
Di meja yang tak pernah menemukan kesunyiannya

Februari, 2018

Suatu Malam Di Angkringan

“Berapakah harga nasib yang baik, Pak”
Aku membuka suara pertama kali
Di tengah kesunyian yang mencekam.

Tak ada siapa-siapa di tempat ini
Pembeli hanya sisa jejaknya
Jalanan lengang
Kendaraan hanya tinggal bau asap yang sisa

Di langit mendung
Udara beku
Bapak itu menjawab
Dengan sisa tenaga yang terkuras

“Nasib hanya dijual untuk seseorang
yang keberuntungannya tiada”

Lalu, aku termangu
Membayangkan nasib.

Februari, 2018

Hikayat Pohon

Ia tumbuh menjejak tanah
Mengakar menimbun jiwanya

Di tubuhnya senantiasa angin titip udara
Sekaligus bencana alam semesta

Saat hujan jatuh di daun-daunnya
Ranting adalah makhluk pertama merasakannya

Maret, 2018

Seperti Lampu

Seperti lampu ruang kosong di jiwaku
Memancar mencari udara
Dan jalan kepada Nya.

Dunia bagai permata berkilau
Dari kerajaan khayal yang luas
Tetapi, tak ada apa-apanya
Dibanding kilauan cahaya Nya
Yang membutakan mata setiap Pencinta.

Maret, 2018

Kemalasan

Dari negeri manakah kemalasan berasal?
Seolah olah dunia di gelapkan oleh hasrat

Jalan kepada Nya tertimbun
Dengan berbagai kabut dosa

Lifah, Berdirilah
Jangan terlalu mencintai hujan
Karena selamanya mendung adalah
Mimpi buruk bagi cahaya yang terang.
Tetapi, kau mesti hati-hati dengan cahaya
karena ia selalu mampu menyilaukan mata.

Membaca takdir adalah pekerjaan
Paling sia-sia di muka semesta ini.

Bersihkan hatimu dari setiap Kekotoran dunia
Jadilah pencinta dengan merindukan Tuhan di dekatmu.

Maret, 2018

Sekilas Tentang Cuaca dan Diriku

Di halaman hujan mengguyur tanah
Air mengalir mencipta riak,
Sedang dalam jiwaku rindu menggebu
Melebihi debur ombak pada batu.

Ingatan menerka setiap
Peristiwa yang tanggal di masa lalu
Di dalam lebat hujan yang meleburkan
Setiap akal pikiranku.

Pohon-pohon berbagi gigil yang bertebaran sepanjang
Batangnya yang kokoh.

Tak ada angin menerpa.

Sedang di kaca jendela
Hujan berderai mengembun
Sepanjang kelam malam
Yang panjang.

Maret, 2018

Di Sudut Atap Kamar, Aku Melihatmu

Di sudut atap kamar
Aku melihatmu
Dengan rambut terurai
Ke pundak, baju
Yang menyerupai ekor burung
Dan layang-layang.

Di sudut atap kamar
Aku melihatmu
Tetapi aku tidak benar-benar sadar
Di dunia manakah ini?
Aku terus menerka-nerka
Dan kini ingat semuanya:
Aku telah mematikan lampu kamar
Menarik ujung selimut.

Maret, 2018

Empat Sajak Sedih Tentang Engkau

1.
Kau selalu bercerita tentang senja
Anak-anak yang bermain di tepi pantai,
Walau kutahu,
Suatu sore di tepi pantai,
Persis seperti ceritamu kepadaku
Kau pertama kali melabuhkan bibirmu
Di kening lelaki pertamamu.
.
2.
Kita sepasang kekasih berbahagia
Aku berbahagia karena kau jatuh di pelukanku
Kau berbahagia karena kau jadikan aku pelarianmu.

3.
Kau selalu memintaku
Membelikanmu cokelat
Kau berkata,
Ini adalah cara terbaik untuk memalingkan punggung
Ke arah yang berbeda.

Aku tidak benar-benar tahu
Apa yang terjadi kemudian

Tetapi kau bertanya kepadaku:
Sudahkah kau merasakan kecupan?

4.
Dengan segenap ketulusan
Kau berjanji kepadaku
Demi Tuhan pemilik segala bentuk kasih sayang
Engkau lelaki terakhir yang aku cinta
Sebelum malaikat datang menjemput ajal.

Tetapi di dalam hati aku berkata;
Aku telah lama yakin
Bahwa janji tak pernah
Benar-benar nyata.

Maret, 2018

Pertemuan

Di langit bulan memancar
Cahayanya memantul ke muka pantai

Tak ada siapa-siapa di sampingku
Berhari-hari hanya debur ombak
Dan angin yang mengguncang daun telingaku

Di depanku api unggun menyala
Berkobar membakar jiwa yang hampa

Tiba-tiba engkau datang mengusir sepi
Tetapi membawa sunyi yang lebih abadi

Kau berkata
Setidaknya dalam puisi
aku dapat kau miliki

Maret, 2018

• Hendri Krisdiyanto lahir di Sumenep, Madura. Alumni Annuqayah daerah Lubangsa. Puisi-puisinya pernah dimuat di: Minggu pagi, Buletin Jejak, Tuban Jogja, Buletin kompak, Kabar Madura, Jejak publisher, Majalah Simalaba, Antologi bersamanya :Suatu Hari Mereka Membunuh Musim(Persi :2016), Kelulus (Persi :2017) Dan The First Drop Of Rain, Banjarbaru, 2017. Sekarang aktiv di Garawiksa Institute, Yogyakarta. Nama Fb: Hendri Krisdiyanto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here