Agustus dan Upaya Menegakkan Benang Basah

0
Agustus dan Upaya Menegakkan Benang Basah
Agustus dan Upaya Menegakkan Benang Basah

Pada zaman Hindia Belanda, mengupayakan kemerdekaan adalah ibarat menegakkan benang basah. SDI/SI boleh bermassa besar dan sibuk menguatkan pribumi saudagar. Budi Utomo boleh sibuk menyetarakan diri dengan meniru Belanda. Indische Partij boleh teriak Hindia untuk Hindia sampai kering tenggorokan. PKI bahkan sudah berani melakukan pemberontakan dini (1926) karena penjajahan Belanda tak tertanggungkan. Tapi, sekali lagi, kemerdekaan pada masa itu adalah ibarat menegakkan benang basah.

Namun, bukan berarti kemerdekaan itu suatu kemustahilan. Untuk menegakkan benang basah, orang hanya butuh dua hal, layang-layang yang bagus dan mengerti kapan angin berhembus. Ketika perang dunia kedua berlangsung dan angin berhembus merubuhkan Jepang, para pemimpin dengan sigap menerbangkan layang-layangnya, namanya proklamasi Agustus 1945. Dan spirit “orang merdeka” menyebar ke seluruh rakyat jelata. Pekik merdeka menggema dimana-mana.

Di sisi lain, pasukan Sekutu sebagai pemenang perang dunia, datang untuk mengambil Indonesia dari Jepang, dengan Belanda membonceng di belakang dan hendak kembali menjajah. Di situlah mereka tak sadar kalau sedang menegakkan benang basah, sehingga seorang Mayor Jenderal KNIL, Van Straten, sesumbar “de geheele Republiekbeweging heeft niet veel om het lijf… Bij eenig machtsvertoon zal…. de zaak ineen storten als een kaartenhuis, mits enkele leiders worden geisoleerd.” (Seluruh gerakan republik itu tidak penting. Dengan kita adakan sedikit demonstrasi kekuatan militer, semua akan roboh seperti rumah kartu jika segelintir pempinnya kita tangkap sekaligus). Dan memang mereka menerjunkan militer di Surabaya, sembari “menahan” para pemimpin di Jakarta. Tapi kegagahan militer pemenang perang dunia itu tak berkutik di Surabaya. Satu-satunya jalan yaitu memanfaatkan para “tahanan” di Jakarta itu atas nama diplomasi, yang—sayangnya—ternyata berhasil. Atau minimal setengah berhasil. Dari situlah wujud penjajahan bermutasi, yang saat ini menemui wujudnya yang sangat canggih.

Menegakkan kemerdekaan memang ibarat menegakkan benang basah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here