Tumbangnya Bhisma dan Nilai Dasar Pemberontakan Atas Narasi Tunggal

0

Dewa Brata atau lebih dikenal dengan nama Bhisma adalah putra Raja Santanu dari istri Dewi Gangga. Dalam wira cerita Mahabarata, ia merupakan seorang kesatria unggul–dididik langsung oleh para Dewa dan Wasu—sekaligus pewaris tahta kerajaan Hastinapura. Namun sayangnya nasib berkata lain, Bhisma batal menjadi Raja justru lantaran cinta dan bhakti kepada Ayah dan kerajaannya.

Diceritakan, setelah lama ditinggal pergi Dewi Gangga dan putranya (Bhisma), Raja Santanu jatuh cinta kepada seorang putri nelayah bernama Satyavati (Durgandini). Perempuan cantik dengan bau tubuh yang harum, selain ia adalah pribadi yang teguh dan berambisi. Dimabuk asmara, Raja Santanu pun hendak mempersunting perempuan yang dicintainnya itu.

Tetapi ketika hendak mempersuntung Satyavati, Bhisma kembali ke kerajaan Hastinapura.  Mengetahui putranya kembali—dan tumbuh menjadi kesatria tangguh–, Raja merasa bahagia dan segera menobatkan Bhisma sebagai putra mahkota.

Mendengar kabar itu, Satyavati merasa sedih. Ia berfikir, jika pun ia menikah dengan Raja Santanu, putra yang dilahirkannya tidak memiliki hak atas tahta kerajaan. Merasa haknya sebagai ratu akan terabaikan jika pun menikah, Satyavati menolak pinangan Raja Santu. Penolakan itu membuat Raja Santanu kecewa dan jatuh sakit.

Bhisma yang khawatir dengan kondisi Ayahnya, berusaha mencari tau penyebab penderitaan yang dialami Raja Santanu. Setalah mengetahui akar permasalahan, Ia segera menemui Satyavati dan meminta agar mau menerima pinangan Ayahnya. Satyavati menolak, sekaligus memberi penjelasan atas penolakannya tersebut. Bhisma yang merasa bersalah karena menjadi penyebab kegagalan pernikahan Ayahnya, serta demi menjunjungan nilai-nilai kebenaran (bhakti dan kerelaan berkorban), mengikat sumpah untuk tidak mengambil tahta Hastinapura dan hidup salibat (tidak menikah)—agar tidak terjadi pertentangan kekuasaan antara keterunannya dengan anak-cucu Satyavati—serta akan setia melayani kerajaan seumur hidupnya—sampai Hastinapura mendapatkan pewaris tahta yang tepat.

Yakin pada sumpah Bhisma, Satyavati akhirnya menerima lamaran dari Raja Santanu. Bhisma pun mundur dari tahta serta hidup dalam sumpah setia pada kerajaan.

Sampai disitu, tidak ada yang salah dengan apa yang telah dilakukan Bhisma. Tahta kerajaan tetap aman dan belanjut, berjalan sesuai garis keturunan Satyavati. Segala gejolak yang timbul pun dapat ditangani oleh Bhisma. Hingga suatu ketika, tepat pada generasi ketiga, dimasa perselisihan antara Kurawa dan Pandawa, Bhisma mengalami delema. Ia merasa bingung harus berpihak pada pada kelompok mana. Pada Kurawa, anak-anak Destrarasta yang sedang memerintah dan menguasai Hastinapura atau pada Pandawa para putra Pandu mantan Raja Hastinapura yang telah mangkat.

Secara pribadi ia berharap pemerintahan Hastinapura dilanjutkan oleh Yudistira (Pandawa) sebagai pewaris sah secara tradisi kerajaan. Tetapi dalam kobaran perang, Ia terikat sumpah untuk tetap setia pada kerajaan dan pemerintah sah Hastinapura.

Menjunjung nilai-nilai kebenaran yang Ia yakini (sumpah setia). Dalam perang Bharatayuda, Bhisma pun berpihak pada Kurawa. Ia bahkan menjadi komandan perang yang hampir mustahil dapat ditakhlukan oleh pihak musuh (Pandawa). Dimasa kepemimpinan Bhisma itulah, pasukan Pandawa terdesak dan hampir mengalami kekalahan. Sampai pada hari kesembilan perang–setalah memberikan petunjuk atas kelemahannya sendiri pada Arjuna–, Bhisma dapat dikalahkan.

Tetapi sebagaimana dalam setiap skuel film Mahabarata—sebelum kematian tokoh utama dalam perang—selalu ada adegan dialog yang oleh M. Dawam Rahardjo (2014) diumpamakan sebagai yaumul hisap atau hari pembalasan. Dimana Krisna, avatar/penjelmaan Wisnu, akan menghentikan roda waktu dan menuntut pertanggung jawaban para tokoh (Bhisma) atas sikap, pilihan dan filsafat hidup (utamanya keberpihakan dalam perang) untuk membongkar bias nilai yang menjadi selubung dan menutup kebijaksanaan (kebenaran absolut) diri.

Dalam edegan itu, diceritakan Krisna merasa frustasi karena Bhisma begitu kuat, sedang Arjuna sebagai komandan perang pihak Pandawa, berperang setangah hati melawan Bhisma, kakeknya sendiri. Kecewa atas situasi tersebut, Krisna pun maju mengangkat roda kereta dan hendak menyerang Bhisma, serta melanggar sumpahnya sendiri—untuk tidak ambil bagian dalam perang dengan senjata dan hanya bertindak sebagai kusir. Melihat Krisna hendak melanggar sumpah, Bhisma pun merasa murka. Ia segera menegur Krisna dan mengangkat busur panah membidik krisna. Tetapi tak satupun anak panah yang dapat mengenai Krisna. Bhisma yang heran, lalu menanyakan jati diri Krisna yang sebenarnya.

Berikut ini cuplikan berdebatan antara Bhisma dan Krisna:

Bhisma : Siapapun yang berani mencoba menyerang Hastinapura maka aku tetap akan membunuhnya disini.

Krisna : Kau memang benar Bhisma yang agung. Bukan keahlian mu yang kau tampilkan dalam pertempuran ini  tapi justru kelemahanmu yang kau tunjukkan. Jika engkau memang mampu melakukannya, bukannya dengan mengambil nyawa dari ahli waris keturunanmu. Kau sebenarnya bisa tentukan keputusan itu sendiri.

Bhisma : Aku sudah terikat dengan kewajibanku Vasudeva.

Krisna : Kewajiban memberikan kebebasan, kewajiban yang mengikatmu dipastikan itu bukan kewajibanmu. Tetapi adalah sebuah jerat, sebuah belenggu.

Bhisma : Jangan pernah meragukan kewajibanku Vasudeva. Di semua kehidupanku tidak sedetikpun aku berlaku tidak adil, untuk memenuhi janji yang pernah aku buat, untuk ayah ku dulu, aku hanya melakukan yang patut di lakukan.

Krisna : Demi kewajibanmu saja kau mau menjerumuskan seluruh dunia ke dalam bahaya. Aku tidak mengangap hal ini sebagai suatu karakter (kewajiban) yang kuat.  Karakter yang kuat mestinya berjuang untuk semua manusia disetiap saat di dalam hidupnya.  Karakter itu telah TERNODA, bahkan pula KEWAJIBAN mu.

Bhisma : VASUDEVA!!! Kau sudah melewati batas yang kau punya. Aku sangat menghormatimu Vasudeva. Tapi Engkau tidak punya hak menyebut kewajiban seseorang itu sudah ternoda. Kewajiban adalah kebenaran, oleh karenanya tidak boleh seorang pun dapat mengalahkan ku sekarang, tidak seorang pun.

Krisna : Aku bisa mengalahkanmu.. Aku bisa mengalahkan mu disetiap saat Bhisma yang agung, jangan coba engkau menyulut kemarahanKu. Tidak ada logam yang tidak meleleh dalam Api, tidak ada sumpah, tidak ada kutukan ataupun berkah tidak bisa aku langgar. Engkau telah menjadi penghalang seluruh manusia dan takdirnya. Jika kau tidak meletakkan senjata mu sekarang. AKU pasti akan membunuhmu BHISMA!!!

SLOKA yadha-yadha hi dharmasya…………….

Krisna : Aku bahkan tidak membutuhkan senajata apapun untuk membunuhmu Bhisma, Aku bahkan bisa membunuhmu dengan roda dari kereta ini.

Arjuna : MADHAVA!!!

Bhisma : Kenapa tidak satupun anak panah bisa mengenaiMu, Vasudewa. He Krisna  Govinda  Mukunda hari murari…he nata Narayana Vasudewa.

Krisna : Aku bukan Vasudewa Krisna, Aku sekarang bukan Yadava, Aku bahkan bukan manusia, Aku adalah Dewa yang paling utama Bhisma. Aku adalah kebenaran, pengetahuan dan keadilan, kau bertempur atas seijinKu, kau hidup atas persetujuanKu, dan atas persetujuanKu kau mendapatkan kematian

Bhisma : Tolong maafkan aku Vasudewa. Aku tidak menyadari dengan wujudMu yang sebenarnya. Kau memang mampu untuk membunuhku, tapi untuk bisa membunuhku, kau bersedia untuk melanggar sumpahMu itu? Aku pasti sudah membuat kesalahan yang besar. Apa kesalahanku itu Vasudewa, katakanlah!

Krisna : Kesalahamu adalah ketidaktahuanmu Bhisma! Kau tidak pernah mencoba untuk bisa memahami bentuk sejati dari keadilan, bahkan sampai pada kasih sayang yang ada di seluruh dunia, sampai keadilan di masyarakat yang saat ini belum lengkap, kau hanya berpikir tentang keluargamu saja selama ini, kau tidak pernah berpikir tentang seluruh manusia, karena itu seluruh pengorbananmu itu bentuk dari keegoisanmu!

Bhisma : Aku meninggalkan tahtaku untuk menjadi raja, demi janjiku kepada ayahku! Aku bersumpah seumur hidup untuk membujang. Tidak ada motivasi keegoisan disini.

Krisna : Sumpah untuk terus membujang  dan meninggalkan tahta untuk menjadi raja memang perbuatan yang besar. Tapi kenapa kau tidak memberikan tanggungjawabmu kepada masyarakat Bhisma yang agung?

Bhisma : Demi menghindari konflik antar bangsa dan menghindarkan perang di Hastinapura. Demi tahta  dan demi melindungi dinasti  Kuru  dari kesedihan, maka aku terpaksa mengambil sumpah ini Vasudewa.

Krisna : Lihatlah disekelilingmu sekarang Bhisma yang agung! Apa yang terjadi disini, sumpah yang telah kau ambil tidak bisa menghindarkan malapetaka ini. RENUNGKANLAH itu Bhisma yang agung! kau menganggap SUMPAHmu sebagai KEWAJIBAN, jika memang seperti itu tugasmu lalu kenapa perang besar ini bisa terjadi? Pada kenyataannya, keadilan bukanlah pikiran yang sederhana, bukan juga sebuah tradisi saja, keadilan adalah nama dari kehidupan dan kehidupan berubah terus menerus, perubahan adalah karakter dalam kehidupan, dan manusia pun harus bisa menerima perubahan itu sendiri. Kau juga harus menerima perubahan Bhisma yang agung.

Bhisma : Tapi aku telah bertindak dalam setiap langkah dari kehidupan yang ada disekitarku Vasudewa!

Krisna : Tidak Bhisma yang agung. Dalam kelahiranmu, demi menjaga diri mu akan dampak dari perbuatan, kau belum benar-benar terlibat dalam tindakan yang penting!  Arti dari tindakan dalam mengambil keputusan dan dapat menerima akibat dari perbuatan seseorang. Tapi apakah kau pernah mengambil keputusan Bhisma yang agung? Apakah penobatan Raja Pandu adalah hasil dari keputusanmu?

WIdura : Orang yang buta sejak lahir tidak layak menjadi Raja, karena itu aku anjurkan Pandu yang dinobatkan menjadi Raja”

Krisna : Apakah menikahkan Raja Drestharastra  dan Ratu Gandari adalah keputusanmu?

Ratu Setyawati  : pada hari baik Asarupya  Pangeran Drestharastra harus menikah dengan Gandari putri dari kerajaan Kandahar”

Krisna  : Kenapa kau tidak berusaha menghentikan Raja Drstharastra dari melakukan ketidak benaran  Bhsima yang Agung?

Sangkuni : Pangeran Duyurdhana telah diserang oleh orang–orang ini dan Anda harus mengkumnya yang mulia! Drstharastra : Hukum Pancung mereka semua! Bhisma : Itu terlalu mengerikan! Drstharastra : Laksanakan perintahku!”

Krisna : Ingatlah keputusan permaianan  dadu dan kau tidak menghentikan penghinaan terhadap Drupadi disana?

Drupadi :  Bhisma yang agung kejayaan mu bergema diseluruh wilayah Arya, dan kau putera dari Dewi Gangga! Meskipun kau telah menyaksikan kebejatan ini! bagaimana kau bisa diam seperti ini?”

Krisna :  Keputusan untuk mengobarkan perang ini!

Bhisma : Untuk menenggakkan kebenaran di wilayah Arya kembali harus dengan berperang!

Krisna : Demi menghentikan ketidak benaran ini tidak hanya berdasarkan kemampuan dan kekuatan saja. Tapi kau tidak bisa membuat keputusanmu Bhisma yang agung. Kau tetap terikat pada sumpah dan janjimu!

Bhisma : Aku akan hidup menjadi abdi kebenaran dan menjalankan sumpah  dan kewajiban!”

Krisna  : Dan kau sengaja menjauhkan diri dari tanggung jawab untuk membuat sebuah keputusan !

Bhisma : Apakah mengambil keputusan itu tidak menimbulkan ikatan Vasudewa?

Krisna : Untuk membebaskan dirimu dari segala ikatan  kau harus mengerti kerja tanpa pamrih! Baru hidupmu dipenuhi dengan kebenaran! Untuk membebaskan dirimu dari ikatan, kenapa kau meninggalkan semuanya. Kau harusnya menciptakan hasil perbuatamu, bukannya mengajak seseorang yang menjadi kewajibanmu agar dapat membenarkan tindakanmu! Apakah kau tahu yang terdapat di masa depan? Keadaan selalu bisa berubah Bhisma yang agung!  Waktu memang sudah berubah, tetapi kau tetap saja tidak mau meninggalkan sumpahmu! Maka kau pun tidak menerima perubahan sebagai hasil dari semua itu, perang inilah yang mulai berkobar!!

Bhisma : Lalu apakah sumpah tidak ada nilainya?

Krisna : Memang tidak! Sumpah yang bermanfaat bagi seluruh masyarakat itulah yang bernilai! tapi bagaimanapun saat sumpah dan keputusan dari seseorang akan berdampak negatif bagi masyarakat, maka saat itu juga menjadi keharusan untuk melanggar sumpah tersebut, Bhisma yang agung! Jika bertempur di pihak  Pandawa adalah keputusan yang tidak bisa kau lakukan pada hari ini, maka paling tidak letakkanlah senjatamu dan terimalah kematianmu disini!

Bhisma : Aku menerimanya Vasudeva! Kalau aku sudah memperoleh pengetahuan yang diberikan oleh Mu sebelumnya maka banyak kejahatan yang bisa dihindari. Tapi jika tidak dalam kehidupan ini setidaknya dalam kematian pengetahuan yang Kau berikan sangat berguna. Mati ditanganMu akan menjadi kehormatan terbesarku. Akhirilah kehidupanku! Aku sudah siap!

Krisna  : Sesuai permohonanmu Bhisma yang agung.

Arjuna : jangan Madhawa!!!  Engkau sudah bersumpah untuk tidak ikut berperang!

Krisna : Kini saatnya untuk melanggar sumpahKu Partha! Itu sebabnya Aku melanggar sumpahKu

Arjuna : Tetapi Madhava, seluruh dunia nanti akan mengutukmu,.

Krisna : Dan Aku akan menerimanya nanti. Meskipun setelah pertempuran ini Aku nanti menanggung banyak penghinaan dan kutukan, engkaupun tidak menyadarinya nanti. Aku tidak akan merasa bahagia maupun sedih. Karenanya saat ini kematian Bhisma yang agung tidak bisa dihindari!

Arjuna : Jangan Madhava!! Berikan aku kesempatan. Aku akan memberikan semua kemampuan yang aku punya!, untuk bisa menghalahkan kakekku Bhisma. Tapi tolonglah Madhava, janganlah Kau melakukan dosa besar karena aku. Kalau ini terjadi karena aku maka saat ini juga aku akan mati dihadapanMu Madhava! Berikan aku kesempatan, tolong kabulkan permintaanku Madhava.

Bhisma : Kematianku ini sudah diramalkan di tangan Dewi Amba dari Kasi dan karena alasan itu Dewi Amba lahir sebagai Srikandhi di Bumi ini. Biarkanlah dia saja yang berhak membunuhku. Aku berjanji ! aku berjanji kepadaMu  Vasudeva , aku akan menunggunya  dan hari dimana aku berhadapan dengannya nanti di medan perang aku akan melepaskan semua senjata yang aku punya. Sebelum itu terjadi aku akan tetap melindungi pasukan Hastinapura tapi tidak akan ada lagi pasukan yang mati di tanganku ini bukan kewajibanku lagi atau perintah siapapun ini keputusan ku Vasudeva! Segeralah bawa Srikandhi ke medan perang!

Begitulah akhir kematian Bhisma. Ia tumbang ditangan Srikandi sesuai keinginannya sendiri atas anugrah yang dimilikinya, pemberian dari Raja Santanu.

Akhir kematian yang tragis bagi seseorang yang berprinsip, hidup mendarmakan diri pada sumpah setia dan juga nilai-nilai kebenaran. Tapi begitulah dunia, selalu bergerak dinamis dan segala sesuatunya akan terus diperbaharui, termasuk kontekstualisasi kebenaran. Dan cerita hidup Bhisma di atas, telah mengajarkan kepada kita tentang hal itu. Kebenaran yang Ia pegang telah diuji oleh arus gerak zaman. Dimana dibutuhkan keberanian untuk memilih jalan kebenaran yang lebih lapang, ketimbang kukuh atas arogansi sempit norma-norma–yang tak mampu menjangkau keluasan pengetahuan dan kebijaksanaan–, dan menjadikannya hanya sebagai narasi tunggal dari klaim kebenaran.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here