Kepribadian Indonesia

0
Kepribadian Indonesia

Modernisme itu soal keadaan pikiran (state of mind), dan bukan gaya hidup (life style). Di Barat sana, modernisme dimulai dengan menguatnya “individualisme” dari kekuasaan dewa-dewi yang maksudnya adalah gereja. Dalam konteks Nusantara, “pribadi” menguat seiring runtuhnya kerajaan besar ala Majapahit sebagai tumpuan. Dari situ, Denys Lombard lalu menyimpulkan bahwa agen modernisasi di Nusantara justru adalah Islam, dan bukan Barat. Islam datang membawa kesadaran akan individu atau pribadi, sebagaimana tampak dalam Syair Perahu-nya Hamzah Fansuri. Pribadi arti dasarnya berdiri tegak, tapi kemudian Barat datang membawa senapan dan meriam, memaksa manusia Nusantara jongkok berabad-abad. Jongkok sejak dalam pikiran.

Ketika kemerdekaan berhasil diraih dan Indonesia mulai berdiri, virus yang memaksa Indonesia jongkok warisan kolonial itu bermutasi, lalu berbiak pada zaman Orba dalam bentuk dwi fungsi ABRI, korupsi dan westernisasi. Dan ketika Orba runtuh karena kekuatan militer tak berkutik melawan tekanan jaringan finansial global, Indonesia memasuki babak baru, yang karena masih jongkoknya pikiran, dalam konteks negara kemudian kita minta tolong pada dewa IMF, suatu bentuk sembahyang gaya baru dengan anugerah berupa monetarisasi dan liberalisasi. Indonesia yang kelimpungan memikirkan caranya berdiri dipaksa tiarap dengan berkhayal bahwa dirinya telah berlari. Lalu dalam konteks masyarakat modernisme benar-benar disalahpahami sebagai life style. Bahwa gaya hidup yang mengacu pada Barat dianggap gaya hidup modern. Itulah yang menjelaskan mengapa wajah kebudayaan kita, pada hampir segala wujudnya, bopeng-bopeng oleh serbuan dari dunia luar. Dunia pendidikan misalnya, yang meski diaduk-aduk menjadi inovasi-inovasi dalam melahirkan kurikulum, pada intinya sama: belajar melamun dan lari kencang dari kenyataan, tak pernah terlintas apa itu kepribadian.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here