Ditanya “Kapan nikah?”

1
Ditanya Kapan nikah

Pertanyaan “kapan nikah?”, “kamu kelihatan kurusan”. “ kamu kelihatan gemukan”, “kamu lihatan makin hitam” kalimat pertanyaan seperti itu adalah kalimat intimidasi, shaming, dan olokan. Bukan pujian, dan bukan bentuk rasa kepedulian, perhatian dari si penanya kepada yang ditanya. Sejauh ini memang pertanyaan seperti itu masih dianggap sekedar bahan bosa-basi percakapan, lucu-lucuan, bentuk kepedulian dan perhatian antar sesama manusia, dan juga dianggap sebagai cara mengakrabkan. Seyakin itukah kalimat-kalimat tanya itu mampu membuat nyaman, dan mengakrab seseorang dalam perbincangan?. Kalau aku sih enggak dan tentu ogah. Ogah merasa nyaman. Ogah akrab. Bagiku, pertanyaan itu cukup menyakiti nurani, dan membuat psikisku makin tidak sehat.

Peduli dengan menyakiti memang beda tipis. Terutama dalam hal bosa-basi, lucu-lucuan, dan berusaha memberi perhatian lebih pada teman dengan menyatakan “kapan nikah?”, “kamu kelihatan kurusan”. “kamu kelihatan gemukan”, “kamu lihatan makin hitam”. Peduli, dan perhatian itu baik, namun akan lebih baik jika peduli itu tidak berusaha merubah tatanan yang ada. Maksudnya setiap orang memiliki standar idealnya masing-masing dalam hal berkehidupan. Baik, memutuskan waktu yang tepat untuk menikah, dengan siapa menikah, dimana tempat yang tepat untuk menikah, menghabiskan berapa materi untuk menikah, memiliki bentuk tubuh seperti apapun, dan berwarna apapun tubuhnya, tentu itu pilihan pribadi. Sesungguhnya satu orang, dengan orang lain tidak bisa disamakan.

Tiap kali mendengar pertanyaan “kapan nikah?” yang terbayang dalam benakku adalah ada standar umum untuk melakukan pernikahan. Jika di lingkungan tempat tinggalku menikah umum dilakukan setelah lulus dari SD, SMP atau SMA, maka saat mampu menempuh pendidikan di universitas dianggap aneh. Dianggap tidak mampu menjodohi, menikahi lawan jenis, dan dianggap tidak bisa up sale pada dirinya sendiri. Mendapat predikat perawan tua, perjaka tua. Semua kesimpulan itu muncul karena pada umumnya menikah itu ya di usia setelah SD, SMP, SMA. Setelah kuliah sudah ketuaan, dan kurang laku lagi.

Semulia apapun cita-cita orang yang berpendidikan sampai tingkat universitas, pada akhirnya ia hanyalah perawan tua dan perjaka tua. Pendidikan bagi sebagai orang tidak bisa memberikan solusi atas keresahan hidupnya. Resah karena tekanan ekonomi, dan masa depan terancam suram. Menikah adalah solusi terbaik untuk meredam rasa resahnya pada masa depan, dan kesejateraan.

Pendidikan dianggap tidak mampu memberikan solusi atas keresahannya. Karena ijazah tidak mampu memberikan peningkatan kesejateraan seseorang. Dengan ijazah seseorang tidak bisa tiba-tiba mendapatkan pekerjaan. Ijazah dan pendidikan tidak cukup menjadi solusi. Sedangkan menikah bisa. Sempat seorang teman mengatakan “enak ya nikah, saat terhimpit tekanan ekonomi bisa gadai buku nikah. Andai ijazah sarjana kita bisa digandai juga.” Pernyataan itu sudah terlihat, bahwa menikah itu baik, dan setelah menikah akan ada banyak berkah, dan keabikan dalam hidupnya. Bahkan buku nikah (akta nikah) saja bisa digunakan jaminan hutang. Kurang berkah apa lagi dari pernikahan. “apa kita nikah saja?.” Kata seorang teman kepadaku. Iya nikah demi bisa gadai buku nikah untuk mengurangi tekanan ekonomi yang tragis.

Sejauh ini pendidikan hanya melahirkan pemalas, dan pengangguran. Bagaimana tidak. Untuk bisa menyelesaikan  strata 1, itu membutuhkan waktu minimal 3,5 tahun. Jika dikalkulasi di 3,5 tahun itu kalau menikah sudah bisa menghasilkan 2-3 anak. Banyak anak, banyak rizki. Begitulah semangat Orde Lama. Dan kini semangat itu masih digaungkan untuk menyemangati diri, agar kesejahteraanya meningkat dengan memiliki banyak anak. Strata 1 dengan 3,5 tahun itu tidak ada pemasukan keuangan. Yang ada pengeluaran uang. Masa 3,5 tahun usai, yang beruntung bisa dapat kerja, yang kurang beruntung ya menyempatkan diri untuk nganggur. Tidak bekerja. Keadaan-keadaan ini nyata adanya, dan kesimpulan, bahwa pendidikan, sekolah hanya menghasilkan kemalasan dan pengganguran, kupikir benar adanya. Tuh, kuliah strata 1 minimal bisa ditempuh 3,5 tahun, tapi masih banyak mahasiswa yang enggan lulus dengan 3,5 tahun.

Di salah satu universitas negeri di Indonesia. Sebuat saja almamaterku sendiri, dialmamterku itu, dulu disekitar tahun 2011-2016 an setahuku, setiap bulan mampu meluluskan, dan memwisudan 1000 calon pengangguran. Kadang 1 bulan bisa mengadakan 2 kali wisuda. Jika setiap wisuda diisi 1000 calon pengangguran, maka 2 kali seremonial wisuda ada 2000 calon pengangguran. Itu di 1 universitas. Bayangkan, jika  di Indonesia ini memiliki 1000 universitas, lantas tiap bulan mewisuda 1000 calon pengangguran. Bisa jadi dalam 1 bulan di Indonesia ada 1.000.000 calon pengguran. Fantastik. Pada hal lowongan pekerjaan tidak berbanding lurus dengan penganggurannya. Jika mengandalkan lowongan pekerjaan yang ada, mungkin semua pengguran itu mustahil terserap.

Pernah ditanya “kapan nikah?”, kalau pernah mungkin usiamu sama denganku. Sama-sama hapir tidak remaja lagi ( International Planned Parenthood Federation (IPPF) ranks remaja 10-24 tahun). Jika tadi menikah adalah solusi meredam keresahan tentang masa depan. Kali ini, bagiku secara pribadi menikah itu pilihan. Menikah itu bukan tentang ikut-ikutan. “cah kae nikah, aku yow kudu melu nikah.” Setiap orang memiliki keidealan masing-masing.

Di Indonesia idealnya menikah tercantum dalam UU No. 1 tahun  1974. Di BAB II pasal 7 menjelaskan syarat perkawinan. Perempuan 16 tahun. Laki-laki 19 tahun. Dan dijelaskan pula untuk calon pengantin yang masih berusia dibawah 21 tahun harus ada izin dari orang tua. Itu ideal berdasarkan pada usia di tata aturan Negara. Namun untuk sebagain orang, menikah bukan tentang usia saja. Tapi juga mental, dan material. Walau kenyataan di lapangan, pernikahan hanya dipokok fokuskan pada usia. Masalah mental dan metrial itu urusan orang lain. Maksudnya orang tua juga memiliki peran aktif dalam pembentukan mental anak untuk menikah.

Awalnya anak belum berkeinginan menikah, namun karena orang tua tiap hari ngeyel dan menstimulus anaknya, dan memberikan kesepakatan-kesepakatan dengan segala hal, akhirnya anak pun “siap gak siap, siap ae.” Orang tua selain bertugas ngeyel dan tukang stimulus anak. Orang tua juga berperan sebagai event organizer pengurus segala kebutuhan pernikahan anaknya. Karena dalam UU No. 1 tahun 1974 pada BAB X Hak dan Kewajiban Antara Orang Tua dan Anak, di pasal 45 ayat 2 menjelaskan kewajiban orang tua yang di maksud (memelihara, menanggung anak) di ayat 1 pasal ini berlaku sampai anak itu kawin atau dapat berdiri sendiri kewajiban itu tetap berlaku walau kedua orangnya telah putus atau cerai. Jadi mengurus pernikahan anak, bagi orang tua menjadi hal final untuknya. Karena orang tua akan terlepas dari beban memelihara, dan merawat anak.

Kadang aku juga mikir. Ternyata anak itu juga beban. Maka menikahkan anak adalah cara terbaik untuk meringankan bebannya. Dan seorang anak menerima kesepakatan untuk menikah adalah kado terbaik untuk orang tuanya. Sempat aku berfikir, ternyata perempuan (aku) pada akhirnya hidup hanya dititip-titipkan. Pertama, Tuhan menitipkan perempuan pada orang tuanya, saat masih balita-sebelum menikah. Kedua, setelah beranjak dewasa, perempuan akan dititipkan ke pada suaminya. Baiklah, katakan terimakasih pada orang-orang yang telah berjasa merawat, dan menampung para perempuan. Dari balita hingga tubuh terlepas dari nyawa.

Seorang anak ingin meringankan beban orang tua, itu hal yang wajar. Karena balas budi atas segala yang pernah didapatkan dari orang tuanya. Anak pun berusaha meringankan beban itu dengan memutuskan untuk menikah sesuai kehendak orang tuanya. Ini sering kali terjadi. Terutama pada kondisi masyarakat yang terhimpit masalah ekonomi. Ketidak mampuan untuk menyekolahkan anaknya lagi. Sehingga keputusan menikahkan anak sebagai solusi terbaik untuk dirinya dan anaknya. Anak pun menerima keputusan orang tuanya.

Peristiwa seperti ini tidak hanya terjadi pada anak usia dini saja, namun anak diusia dewasa pun kasusnya sama. Setelah lulus sekolah dinikahkan. Baik selesai sekolah SD, SMP, SMA, Universitas semua bisa langsung diarahkan untuk menikah. Kerena menikah adalah solusi dari segala masalah. Masalah kemlaratan, dan keresahan masa depan. Di wilayah Jogja sendiri remaja yang menikah di usia remaja dan mengajukan dispensasi pernikahan di tahun 2015-2017 mengalami penikatan kasusnya. Di tahun 2015 ada sekitar 320 kasus pengajuan dispensasi menikah. Tahun 2016 sekitar 340 kasus, dan tahun 2017 ada sekitar 345 kasus.

Menikah dini atau bukan, orang yang rentan dalam hal ini tetaplah perempuan. Saat seorang perempuan memtuskan untuk menikah dini, maka saat itu pula dirinya rentan pada penyakit (organ reproduksi belum matang sempurna), keterbelakangan pendidikan (tidak mampu mengenyam pendidikan tinggi. Karena saat seseorang memutuskan menikah, maka saat itulah kesempatan sekolah tidak ada. Sekolah bisa menerima siapapun untuk sekolah (SD, SMP, SMA) asalkan orang tersebut tidak berstatus kawin). Orang yang mengalami kerentan kematian pun perempuan. Karena melahirkan diusia remaja, seorang perempuan memiliki resiko tinggi untuk mengalami kematian. Sedangkan perempuan yang memutuskan untuk enggan segera menikah di usia setelah menempun strata 1 pun rentan mengalami tekanan psikis. Karena di masyarakat masih ada stigma. Makin lama seorang perempuan membujang akan semakin tidak laku untuk menikah.

Dari analisaku, perempuan adalah manusia paling rentan dalam segala keputusan itu, karena perempuan memiliki beban fisik yang cukup berat. Perempuan itu tempat memproduksi, tempat melahirkan, dan perempuan juga yang memiliki masa monepouse. Beban-beban seperti itu yang membuat perempuan memiliki beban mental lebih tinggi, dari laki-laki. Bahkan peneliti dari University Of Melbourne Australia dari Nossal Institute For Global Health yang melakukan penelitian di beberapa kota di Indonesia tentang masalah kesuburan di Indonesia dari tahun 2010-2015  Linda Bannet menjelaskan, saat seorang perempuan dan laki-laki memutuskan untuk menikah, lantas mengalami masalah infertility orang yang mengalami tekanan psikis paling kuat adalah perempuan. Perempuan saat dihadapkan masalah seperti itu, perempuan mengalami ketakutan, jika dirinya mandul, takut ditinggal nikah oleh suami, dikucilkan keluarga.

Penelitian yang hampir sama juga dilakukan oleh Trudie Gerrits dari University Of Amsterdam Netherland yang sempat melakukan di penelitian di Macua Mozambique. Pasangan disana yang mengalami masalah infertility mereka yang mengalami tekanan mental yang kuat, terutama perempuan. Perempuan disana dikucilkan dari lingkungan, tidak boleh menghadiri ritual pemberian nama anak, mendapatkan pelecehan, dari keluarganya sendiri mau pun keluarga suami. Walau pun konteks kasus ini tidak ada di Indonesia. Namun konsteks yang dialami perempuan cukup menjadi pelajaran. Bahwa perempaun adalah orang yang rentan dalam berbagai hal.

Seperkasa apapun seorang perempuan. Seoptimis apapun seorang perempuan. Sebanyak apapun seorang perempuan. Perempuan tetaplah manusia yang rentan dalam segala yang diputuskan. Karena sekuat, perkasa, optimis, dan sebanyak apapun perempuan, perempuan yang menyadari tentang kerentannya itu lebih sedikit, ketimbang yang tidak sadar.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here