Pacarku Menginginkan Tuhan Menghilangkan Matahari

1

Oleh: Endri Maeda

Tanggal delapan belas bulan maret kau berdoa agar Tuhan menghilangkan matahari saja, supaya orang-orang tetap bercinta tanpa memikirkan aktivitas di siang hari. Menghangatkan tubuhnya yang dingin bersama kekasihnya dengan caranya masing-masing. Di kamarnya sendiri, di taman, di bawah lampu, di gedung-gedung penyewaan tempat tidur, atau di lorong-lorong bagi mereka yang menyukai tempat itu, atau bagi yang terpaksa karena itu adalah tempat terakhir.

Tapi alasan yang tepat bukan karena itu kau meminta Tuhan menghilangkan matahari. Aku tahu. Aku juga mengamini doa mustahil itu.

“Aku tak ingin ada pagi,” katamu malam itu di sebuah bangku bersamaku.

“Pagi akan mengusik kita di bangku ini, lalu kita akan meninggalkan tempat ini dan entah apakah kita bisa seperti ini atau tidak,” kau melanjutkannya dengan muka yang sepertinya semakin tidak terima bahwa kenyataan pagi akan segera datang.

Aku meraih tanganmu yang sejak tadi kau biarkan di pangkuanmu. Mencoba menenangkan dari perkataanmu barusan. Tanganmu dingin, kau benar-benar takut akan pagi yang beberapa jam lagi akan tiba dari perjalanannya. Aku pun begitu. Tidak bisa membayangkan berapa banyak pagi lagi aku bisa bertahan. Apa ini pagi terakhirku, atau di pagi berikutnya aku masih bisa bernapas.

Malam ini tidak ada daun yang berjatuhan, meski angin bisa saja menjatuhkan beberapa daun dari rantingnya, juga menerbangkan plastik atau daun kering yang berhasil lolos dari tukang sapu. Malam telah menyempurnakan kesedihan kita yang masih balita. Menyediakan angin resah dan hawa dingin yang renta.

“Kepastian yang pasti adalah mati, tapi kepastian yang tidak bisa dipastikan kapan aku akan mati,” katamu yang semakin menyedihkan.

“Kenapa tidak kita?” sahutku sambil meraih tanganmu. Kau diam.

“Tapi aku tetap ingin mendapatkan gaji,” kataku yang agak konyol.

“Gaji?”

“Iya, gaji. Seperti para lakon-lakon yang memainkan perannya dalam sebuah pertunjukan. Meski dia berperan sebagai orang miskin yang tak pernah kaya, atau si bujang yang tak pernah menemukan cintanya, dia akan menyelesaikan perannya dan tidak mugkin keluar dari panggung supaya mendapatkan upah. Mungkin kita bisa saja mengartikan hidup seperti itu. Tuhan akan memberikan imbalan untuk kita yang masih bertahan di panggungnya. Kalau kita memerankan cerita yang diberikan dengan baik, aku yakin kita akan mendapat upah yang sesuai. Sedangkan kalau kita memerankannya dengan tidak sungguh-sungguh, kita akan mendapatkan upah yang tak seberapa. Apalagi kita keluar panggung saat peran kita belum selesai.”

Tanganmu dingin. Air mata itu lagi-lagi keluar tidak bisa dibendung. Bahkan pelukanku sia-sia.

“Biarkan panggung itu kosong tanpa ada pamerannya. Kalau tidak ada jalan lain dan harus memerankan semua ini, sekarang juga aku ingin menolaknya. Biarkan, biarkan saja kalau itu memang harus terjadi,” katamu pelan.

Kali ini kuraih pundakmu sebelah kiri, lalu kusandarkan tubuhmu ke pundakku yang ringkih ini. Kugerakan pelan-pelan tanganmu supaya ketenangan bisa kau dapatkan. Meski kau tahu berapa jam lagi ketenangan ini tidak bisa kita rasakan lagi.

“Apakah Tuhan mengabulkan doa itu?”

“Tuhan sudah mendengar. Tenanglah, Tuhan akan mengabulkan doa kita,” jawabku sambil membenarkan rambutmu yang tidak terlalu berantakan.

Aku tahu, malam ini akan terlewati bersama bangku-bangku yang berjajar. Membicarakan kehidupan kita dengan bahasanya masing-masing. Atau mungkin ada beberapa yang merasa kasihan lalu mendoakan kita. Kuharap mereka cukup mengamini doa kita.

Tanggal sembilan belas bulan maret, di situlah kesedihan kita benar-benar lahir. Kesedihan balita. Kesedihan yang tidak bisa kita ketahui apakah setelah kesedihan itu dewasa nanti akan semakin menerkam. Atau akan hilang dengan sendirinya.

Belum apa-apa, belum juga tanggal itu jatuh, atau doa kita benar-benar tidak dikabulkan, aku sudah membayangkan dengan anganku yang duka ini; ada kamu di sampingku, di sini, setiap malam, duduk di sebuah bangku dan membiarkan sinar lampu bebas merabai.

Entah berapa kali hanpone itu berbunyi. Aku tidak ingin menanyakan dari siapa. Kau juga membiarkannya. Mungkin kita sama-sama tahu tanpa harus membukanya. Seseorang yang akan menanyakan keberadaanmu, atau mungkin mengingatkanmu tentang esok yang akan datang.

Kau bangun dari pundakku. Membenarkan rambut yang sebenarnya tidak usah kau benarkan akan terlihat lebih cantik. Tanganmu kembali kuraih lalu kugenggam. Kau memberikan balasan dengan genggaman lebih hangat dari yang sebelumnya. Tak lama kau merebahkan tubuh lelah itu di bangku dengan posisi kepalamu di pangkuanku.

“Di panggungmu tanpa aku sebagai pemain kau akan menemukan kebahagiaan itu. Kini pejamkan matamu, kau harus tidur. Biarkan aku melihatmu tidur untuk yang terakhir kalinya,” kataku membisikimu.

Tidak ada pilihan dalam diriku, selain membiarkan tubuh ini berkolaborasi dengan duka-duka. Membiarkan duka menjadi partner setia. Tapi sesungguhnya aku ingin mencari ramuan penangkal duka, lalu kusuruh kau meminumnya, supaya rasa yang sama persis aku rasakan ini tidak bersemayam dalam dirimu. Entah apakah aku akan mendapatkannya, atau kau sendiri yang membuat ramuan itu dengan caramu sendiri. Aku hanya tak ingin kau bersemayam dengan duka.

“Apakah matahari benar-benar datang?” kau bertanya pelan dengan posisi matamu yang masih terpejam.

“Apakah Tuhan sudah mengabulkan doa kita? Tadi aku berdoa, kalau Tuhan keberatan untuk menghilangkan matahari, maka lelaki itu saja yang di hilangkan.”

“Matahari tidak akan datang, tenanglah. Aku tidak melihat tanda-tanda matahari akan datang. Gelap. Matahari sudah menghilang bersama lelaki itu, tidurlah,” kataku pelan.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here