Semua Gara-Gara Somad

0
Semua Gara-Gara Somad

Aku takut malaikat tiba-tiba mengetuk pintu rumahku. Detak jantungku yang semakin cepat, kemudian tubuhku menggigil. Aku berpikir akan mati berdiri kemudian dikuburkan bersama pemuda yang mati gantung diri itu. Pemuda yang membuat suasana di desa semakin mengerikan, sudah 7 malam ini angin benar-benar mengisyaratkan agar menutup pintu selepas azdan marib dikumandangkan. Orang desa mungkin takut ada barang-barang kiriman yang konon katanya bisa mendatangkan malaikat kematian, atau kedatangan tamu-tamu yang tidak di  undang.

Biasanya hingga pukul 9 malam masih banyak pintu-pintu terbuka, desas-desus masih meraja, bayangkan saja ketika para ibu-ibu yang berdaster dengan rambut dicepol ke atas berkumpul. Aku sangat yakin mereka sedang mengungkapkan rahasianya masing-masing terutama rahasia desa. Sudah 7 malam ini sepertinya para ibu-ibu sudah tidak punya lagi rahasia yang ingin diungkapkan. Lampu-lampu selepas magrib telah padam dan jalanan desa sepi, sesekali sepeda motor yang bersuara. Angin dingin semakin kencang meniup daun-daun mangga yang dibiarkan rimbun oleh pemiliknya.

Aku yang sedari tadi duduk di dalam rumah mengintip lewat cela-cela jendela, barangkali ada hal menarik selain kematian di sepanjang jalan desa. Benar saja, tiba-tiba terdengar jeritan Marni tetanggaku yang super semok, tubuhnya adalah idaman pria di desaku paras cantik dengan bibir penuh yang merah, tapi sayang sudah janda anak tiga.

“Pasti mayat Somad mengetuk pintunya!” Bisik ibuku yang tiba-tiba muncul dari belakang punggungku.

“Kalau dibiarkan Marni bisa terkena serangan jantung Bu.”

“Diam saja!” Ibu menegaskan dengan membenarkan dasternya. Ibu kembali ke dalam mungkin menyelesaikan bacaan Qurannya yang terpotong sebab mendengar jeritan Marni.

Sehari sebelumya tetanggaku Markonah juga menjerit, kata warga jeritan itu disebabkan foto suaminya yang sedang merantau jauh terjatuh. Adapula desas-desus yang di bawah tukang sayur  Markonah didatangi mayat Somad. Biasanya setelah didatangi mayat Somad orang tersebut akan mati juga. Jadi Markonah membiarkan suaminya menduda, dia mati.

Pemuda yang mati gantung diri karena kesal pada warga yang menuduh Bapaknya merampas tanah, lucunya dia meninggalkan surat yang berbunyi

Setelah kematianku adalah kematianmu”

“Nanti kalau sudah ada pak kyai saja kau keluar, sebelum itu jangan keluar!” Ibu kembali mengingatkan agar aku tak keluar rumah.

“Kalau pak kyai tidak datang bisa saja besok mayat Marni yang ditemukan.”

“Biarkan saja, toh dia janda  mantan suaminya sudah tidak peduli, orang tuanya sudah meninggal. Tidak akan ada yang sedih merasa ditinggalkan” tegas Ibu.

“Tapi dia punya anak 3 Bu, siapa yang akan mengurusnya?”

“Mereka akan diserahkan ke Panti Asuhan”

“Kasian”

***

Setelah malam kejadian Marni, warga desa semakin waspada baik kepada mayat Somad atau waspada tentang surat yang dibawa mayat Somad. Pagi hari Marni benar-benar pergi, tetapi tidak mati sebab mayatnya tak ditemukan dirumahnya ataupun di hutan dekat desa. Marni pergi meninggalkan desa juga meninggalkan ke 3 anaknya yang menangis di rumah. Warga dibuat semakin gelisah, banyak kejadian yang menurut mereka tidak wajar.

Siang ini sangat terik, warung kopi Mbok Yem dipenuhi kaup Bapak yang bergosip, rupanya mereka kali ini mengalahkan ibu-ibu berdaster. Pisang goreng, tahu petis, dan rokok adalah teman minum kopi juga bergosip. Siapa sangka kepergian Marni lebih menarik ketimbang kedatangan mayat Somad yang membawa surat.

Warung Mbok Yem juga ramai dengan para pekerja proyek mall baru yang dibangun di pinggiran desa di Jawa Tengah. Bangunan yang dipaksaan oleh pemerintah, katanya agar kami hidup lebih maju. Melek teknologi.

“Mbok, apa benar si Marni pergi?”

Bener, sejak pagi anaknya menangis. Ketika ditanya tetangga katanya ibunya pergi!” Jawab mbok Yem dengan semngat.

“Saya pikir setelah kedatangan mayat Somad, Marni juga akan menjadi mayat”

“ Huss!”

“Tapi ini benar aneh, kenapa Marni tidak mati, apa kerena dia cantik, semok, sehingga mayat Somad tidak tega membunuhnya?” ujar Pak Dirjo ketua RT.

walah..walah..kopimu selak adem. Marni wes ilang ora usa diomongne” Mbok Yem menyela mereka agar pembicaraan Marni tidak berlanjut.

“Bisa saja, sebelum mayat Somad membunuhnya. Marni memberi esemane mautnya”

Somad yowes mati, Marni wes minggat. Ora usa diomongne”

“Seng perlu diomongne kui, lek Mol kae dadi koe-koe ape kerjo opo? Sawahmu wes ganti beton. Sapimu mangan suket karbitan. Anak bojomu mbuk pakani opo?”

Kami menyesap kopi, menyulut rokok ini sudah rokok ke 5 selama perbincangan Somad dan Marni. Hening, tak ada yang menanggapi ocehan Mbok Yem. Tak ada pembelaan, yang ada kami saling diam. Kami dihebohkan oleh Somad, warga desa ketakutan. Takut dihantui mayat, takut mati berdiri, takut surat dari Somad. Kami ketakutan, bukan ketakukan gedung yang semakin tinggi menjulang, gedung yang diperkirakan kokoh itu berdiri di tanah sawah kami. Kami tak sempat memikirkan itu.

“Biadab kau Somad.”

Pak RT memukul meja warung Mbok Yem, tangannya mengepal wajahnya merah bercampur kulitnya yang hitam legam.

“Ada Somad-Somad yang lebih menakutkan!” Imbuhnya masih sambil memukul-mukul meja.

Lha yo neng ndi ae to pak. Somad seng nyoto iku yo kae.” Nada bicara Mbok Yem Tinggi, membenarkan perkataan Pak PT.

Kami Ketakukan mayat Somad, tapi esok pagi kami masih bisa sarapan. Ternyata kami melupakan Somad-Somad yang lebih menakutkan. Bisa saja kami esok tak makan, tak ada cangkul yang akan kita bawa esok pagi. Tak ada kopi pagi di sawah, beton telah tertanam disana.

Selang satu bulan tiba, mayat Somad telah tenang di alam sana, anak-anak Marni sudah gemuk di Panti, Duda Markonah makin juga semakin ganteng. Warung Mbok Yem semakin ramai. Ramai oleh pagawai kontrusi, kami tak lagi ngopi. Di komandani oleh Pak RT kami tak lagi ramai di warung kopi, kami ramai meminta hak atas petani yang semakin tak jelas ini.

Tuban, 07/08/18

Kavya Atmaranti, kelahiran Lamongan mencintai Tuban. Alumni Universitas Muhammadiyah Malang.  Bisa sambung kata di IG @kavya_atmaranti/ 082213731411

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here