Biografi Amarah

0
Amarah
Ilustrasi Amarah

Amarah – Pada suatu hari, sebagaimana dicatat Imam Bukhari dalam kompilasi hadis sahihnya, Nabi Muhammad pernah mendapat permintaan sederhana dari seorang lelaki. “Berilah aku pesan,” kata lelaki itu. Nabi pun memberinya pesan yang sederhana, “Jangan marah!”. Kalimat ini diulanginya hingga beberapa kali.

Kalimat yang diulang-ulang menandakan bahwa pesan yang terkandung di dalamnya sangat penting. Adalah sangat penting bagi lelaki itu, tentu bagi kita pula, untuk menghindari dan mengendalikan amarah. Masalahnya, bagaimana cara mengendalikan amarah? Apakah dengan melawannya? Atau membunuhnya?

Baca juga: Tukang Kutuk

Amarah dikendalikan tidak dengan menahan gejolaknya dan memendamnya dalam hati. Pengendalian reaktif semacam ini justru menumpuk amarah dalam dada, ibarat mengisi kawah gunung berapi dengan lava dan magma yang sewaktu-waktu akan menimbulkan letusan dahsyat.

Terus-menerus menahan gejolak amarah dan memendamnya dalam dada akan menumbuhkan benih dendam. Amarah yang ditahan dan dipendam lebih berbahaya daripada amarah yang dilepas ringan. Bagai menenggak racun yang mematikan, memendam amarah merupakan usaha sadar untuk bunuh diri.

Namun, bila melepas amarah, artinya kita tidak mengendalikan amarah sama sekali. Dan kita pun tidak menjalankan pesan Nabi. Lantas, apa yang harus dilakukan untuk mengendalikan amarah?

Amarah dikendalikan secara preventif dengan memotong akarnya. Cara pengendalian ini menghasilkan manfaat yang lebih langgeng dan tidak menimbulkan efek samping berbahaya. Tapi sebelum dipotong, akar amarah perlu ditelusuri, diketahui, dan dipahami terlebih dahulu.

Sehubungan dengan hal ini, Yesus pernah ditanya umatnya, “Wahai Ruh Tuhan, apakah sesuatu yang paling hebat dan paling kejam di dunia ini dan dunia yang akan datang?” Putra Maria menjawab, “Amarah Tuhan”.

“Menurutmu, apa yang bisa melindungi kami dari amarah Tuhan?”

“Kendalikan nafsumu dan janganlah kamu marah.”

Dialog ini mengisyaratkan bahwa akar amarah adalah nafsu, ego, atau keinginan. Dengan demikian, mengendalikan amarah pada dasarnya adalah mengendalikan keinginan. Karena keinginan dirancang pikiran, maka amarah dikendalikan dengan mengendalikan angan-angan, khayalan, impian, harapan, atau cita-cita.

Untuk mencapai kesuksesan hidup, baik di dunia maupun di akhirat, tentulah kita menyusun rencana-rencana, lalu menerjemahkannya menjadi pogram aksi yang praktis. Tapi, rencana yang disusun perlu disesuaikan dengan kadar kemampuan, potensi yang dimiliki, peluang yang tersedia, dan sumber daya yang ada. Rencana harus rasional dan realistis!

Kalau tidak demikian, rencana akan gagal. Kegagalan mendatangkan rombongan penyakit hati: kecewa, putus asa, malas, apatisme, frustrasi, amarah, benci, dengki, dendam, mengutuk dan menyalahkan pihak lain, minder, pengecut, lari dari tantangan kenyataan, bertindak kalap membabi buta, serakah, mau menang sendiri, bermimpi secara utopis, dan sebagainya. Hampir semua penyakit hati, termasuk amarah yang tidak pada tempatnya, berpangkal pada kekeliruan dalam manajemen rencana.

Angan-angan dibiarkan terbang tinggi di angkasa pikiran. Standar diangkat tinggi sekali. Target dipancang jauh sekali. Para motivator melatih kita untuk terus bermimpi tanpa membimbing kita untuk mengenal diri sendiri. Dan banyak guru mengajarkan, gantungkan cita-citamu setinggi langit! Tapi mereka lupa mengajarkan, sebelum kau gantungkan cita-citamu setinggi langit, jawablah dulu pertanyaan: siapakah aku?

Mereka—barangkali tanpa sadar—menuntun kita untuk tenggelam dalam neraka kegagalan. Mereka mendidik kita untuk mengenakan pakaian akhlak tercela; menjauhkan kita dari Tuhan, kebahagiaan, dan kedamaian batin.

Hasilnya, kita pun menjadi angry bird yang mengutuk dunia dan berlari dari kenyataan. Kita menjadi radikalis, fundamentalis, dan teroris yang mengamuk untuk menghancurkan struktur sosial yang tidak adil. Dengan kalap, kita berlari tunggang-langgang dari dunia yang buruk ini menuju surga yang diliputi kenikmatan dan kesempurnaan hidup.

Di mata mereka, dunia ini buruk karena tidak sejalan dengan keinginanku. Dunia ini adalah tempat yang mengecewakan. Karena itu, aku memburu surga, tempat semua keinginanku terwujud, semua harapanku terlaksana, dan semua angan-anganku menjadi kenyataan.

Karena itulah, aku memonopoli surga—yang luasnya meliputi bumi dan berlapis-lapis langit—untuk kelompokku sendiri. Kelompok lain, dengan pandangan dan impian lain, akan merusak kesempurnaan surga yang telah kubangun dalam angan-anganku.

Surga menjadi isyarat nafsu, bukan lagi manifestasi cinta Tuhan dan ekspresi syukur hamba-Nya. Dunia menjadi sasaran amarah, bukan lagi ciptaan Tuhan yang indah, penuh hikmah, dan sarana manusia untuk beribadah sebagai mandataris Tuhan di muka bumi.

Inilah sebabnya, mengapa Tuhan—atas dasar cinta-Nya—marah kepada manusia yang pemarah. Inilah pula sebabnya, mengapa Nabi berpesan: jangan marah, jangan marah, jangan marah….

 

Baca juga : Manusia Langit

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here