Literasi Dari Bawah

0

Edi Setiyawan

Sudah, hentikan pertikaian masalah siapa yang akan jadi Presiden nanti. Apalagi masalah Milkita yang katanya setara dengan tiga gelas susu. Sejenak kita tinggalkan itu, kita fokuskan pada budaya literasi kita. Kota di pesisir yang punya perpustakaan megah tetapi tidak pernah dijamah. Bahkan ada yang tidak tahu kalau kota ini punya perpustakaan.

“Aku tidak setuju lho Rip, kalau ada orang yang mengatakan bahwa budaya baca masyarakat kita itu rendah.”

“Nyatanya begitu, Jo. Kau lihat saja, betapa sepinya perpustakaan, betapa kosongnya rak-rak buku di toko buku itu, kosong bukan karena dibeli, tapi karena saking gak lakunya jualan buku di kota ini.”

“Ah, kau ini Rip.”

“Coba lihat grup facebook yang katanya mempunyai member terbesar di kota ini, berapa banyak postingan yang masuk di grub itu, baik informasi valid, guyonan, atau Hoax sekalipun.”

“Coba lihat,” tambahku.

“Sudah? Sekarang lihat berapa ratus atau ribu orang yang berkomentar di setiap postingan. Sebegitu banyaknya orang di kota ini yang meluangkan waktunya untuk membaca satu postingan dan menyempatkan waktunya untuk menulis komentar atau sekedar like. Dan kau masih bilang bahwa budaya baca kita rendah?.”

Surip hanya diam saja mendengar penjelasan ngawurku. Kali ini aku benar-benar berkuasa atas Surip. Kupatahkan argument Surip kepadaku tentang “iman kepada senior”. Surip benar-benar tak berdaya menandingi argumenku.

Aku merasa perlu tertawa keras untuk itu. Tapi aku masih berlagak serius, aku masih tak tega bila harus tertawa di tengah keseriusan Surip yang terus menggeser-geser layar Android yang sudah retak itu. Wallpaper 3D katanya.

Memang benar bahwa budaya baca kita sebenarnya sudah tinggi, tinggal bagaimana mengarahkan menuju budaya baca yang benar. Bukan membaca postingan yang kadang belum tentu kebenarannya.

Melalui sebuah gerakan-gerakan literasi yang ada, sedikit membawa angin segar terhadap revolusi budaya baca kita. Meski disayangkan, gerakan pendidikan sporadis ini tidak didukung pihak-pihak yang seharusnya berwenang untuk memajukan pendidikan. Atau itu salah satu cara agar masyarakat tetap bodoh, sehingga akan mudah dibohongi? Atau mungkin aku yang terlalu buruk hati hingga berani menuduh sejahat itu.

Tapi, aku sudah pernah mengalaminya, betapa keringnya kota ini terhadap kemajuan literasi. Beberapa kali masuk instansi yang (katanya) berwenang memajukan pendidikan, nyatanya hanya menjadi bahan tertawaan mereka. Seolah kota ini sudah tidak butuh ilmu. Atau terlalu sibuk dengan regulasi atau aturan-aturan sehingga melupakan tugas pokoknya. Ah sudahlah.

Pengaruh Literasi terhadap demokrasi bangsa ini juga sangat besar. Menurut pandangan Ricklefs, “Di sebuah Negara yang masih ditandai oleh tingginya tingkat buta huruf, rendahnya pendidikan, buruknya kondisi ekonomi, lebarnya kesenjangan social, dan mentalitas otoritarian, wilayah politikmasih merupakan hak istimewa milik sekelompok kecil elit politikus”. Budaya demokrasi harus mengedepankan adanya empati dan partisipasi, sedang kemampuan empati dan partisipasi ini bisa ditumbuhkan oleh kekuatan literasi. Begitu kata Lerner.

Yunani yang dirujuk sebagai “ibu demokrasi” karena berakar pada tradisi literasi yang kuat. Revolusi demokratik terjadi di Prancis, bukan di Inggris ataupun spanyol. Sebab Prancis merupakan masyarakat dengan budaya literasi tertinggi di Eropa. (Rude, 1970).

Memang, mengkampanyekan budaya literasi tidak semudah bernapas, juga tidak sesulit menjari huruf “N” pada permen “YOSAN”. Atau tidak serumit mencari ketujuh bola naganya Son Goku. Semua tinggal butuh waktu dan kesadaran akan pentingnya berteman dengan buku.

Tiba-tiba aku teringat pesan Whatsapp salah satu teman pejuang literasi di daratan seberang lautan sana. “Berjuang literasi diperlukan kerja lebih keras, bertahan lebih gigih, siap lapar, selebihnya biarkan Tuhan yang bekerja. Menjadi salju ditengah gurun pasir itu tidak mudah, tapi tidak pula mustahil.”

“Aku hanya ingin menjadi benih jagung yang tetap tumbuh meski ditanam diatas batu, kelihatannya lebih keren mas,” balasku waktu itu.

“Mengajak itu lebih sulit daripada melarang, Jo,” celetuk Surip sambil menenteng buku setelah puas memainkan berhala kecil ditangannya.

“Melarang juga sulit, Rip. Melarangmu meminjam bukuku misalnya.”

“Dalam catatanku, sudah 15 buku yang sudah kau pinjam dan tak pernah kau kembalikan, Rip. Apa yang di tanganmu itu juga ingin kau bawa?” kataku sambil menunjukkan cacatanku tentang buku yang dipinjam orang.

“Kamu kok bisa baca pikiranku, Jo, hebat kau ini.”

“Itulah pentingnya literasi, Rip.”
Akhirnya Surip pergi sambil tetap membawa satu bukuku.

Pondok Jati, 11/10/2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here