Segelas Es Teh

0

Oleh Arjuneda Semesta

Aku sedang berpikir, bagaimanakah aku akan mati? Apakah dengan remeh temeh? Atau serupa pahlwan? Entahlah.

Kusedot es teh di hadapanku, dengan setengah perasaan geram kugigit pipa plastik kecil berwarna hitam yang kunamai selang surga itu, terus menyedot sampai batu es pendingin tidak lagi mengambang. Jogja sedang diserbu kemarau panjang, sementara hujan di bulan november beberapa hari ini menyamar Paslon saat kampanye, berjanji, dan berhenti di situ.

“Kurasa, kau akan mati kalau terlalu banyak minum es teh dan menggigit pipa plastik itu,” Komentar Naila yang sedari tadi duduk di seberang meja tepat di hadapanku. Ia menggeser kursinya empat sentimeter ke arah depan. Wajahnya sedikit membungkuk menjatuhkan wajahnya di depan wajahku.

“Kau akan mati, sebab suhu tubuhmu tak seimbang,” tambah Naila lagi.

Aku terkekeh. Rasanya kok malas sekali menggubris Naila, biar dia tahu rasa, tidak digubris itu bagaimana perihnya.
Naila kembali duduk. Membuang napas kesal, melihat ke kiri dan kanan, lalu membungkuk meraih sebatang rokok, mengambil korek, menyulut rokoknya. Mulut dan hidung Naila menyemburkan asap serupa lubang asap motor butut yang tak terawat.

“Kau tahu, kupikir kau juga akan mati dengan sebatang rokokmu.”

“Ya aku tahu, aku akan mati.”

“Lalu, untuk apa memikirkan kematian, oleh segelas es teh atau sebatang rokok, sama saja, semua orang akan mati,” tambahku.

Aku meraih gelas es tehku lagi, sementara Naila menyedot rokoknya lebih dalam. Aku tahu, pertemuan ini akan berakhir, dia akan meninggalkan aku dan aku pula akan meninggalkan diriku sendiri.

Seperti pertemuan-pertemuan pada umumnya, maksudku pertemuan di mana hanya salah satu dari dua orang yang bertemu berharap bahwa pertemuan itu memiliki makna.

Manusia mungkin kerap lupa, sayangnya memang lupa itu adalah manusia, pertemuan selalu saja harus berpisah, selalu saja, seperti kekasih yang pergi tanpa pamit, atau kau sedang mabuk anggur dan kepura-puraanmu perlahan meninggalkanmu.

Tanpa ucapan basa basi yang perlu penafsiran, Naila pernah melakukan itu padaku, ia pergi, aku memohon, dan ia tak menggubris, aku kecewa, apakah manusia melakukan sesuatu karena kecewa? Entahlah, aku berhenti hidup untuk sepenggal kata besok setelahnya. Aku benar-benar meninggalkan kehidupan esok hari.

Naila berdiri, ia membungkuk mengemasi barang-barangnya yang ada di atas meja kafe. Tanpa pamit, ia melangkah keluar kafe.

Aku tak menahannya, aku rasa tak perlu juga, besok aku tak akan hidup, aku tak perlu melakukan apa-apa! Lagi pula, peristiwa ini telah berulang kali terjadi di kehidupan yang pernah kami tinggali bersama sebelumnya.

Aku menatap pundak Naila yang hilang di telan kerumunan di luar kafe, kemudian kembali kepada segelas es tehku.

Tiga belas tahun kemudian

Aku dan Naila kembali satu meja, ruang yang sama di waktu yang berbeda. Ini tiga belas tahun setelah pertemuan terakhir kami. Mengingat kami bukan penganut kepercayaan akan kebetulan, pertemuan ini kami rayakan dengan hanya saling melempar tawa. Kemudian memutuskan duduk satu meja lagi.
“Kenapa kita saling tertawa?” tanya Naila.

Tatapannya seolah mengatakan “Setelah tiga belas tahun tidak bertemu” tetapi, ia tidak mengungkapkan kalimat itu.
Aku diam sebentar, tak tahu menahu kenapa kami saling tertawa.

“Ah, mungkin aku tertawa sebab kau tidak mati karena sebatang rokokmu,” kataku.

“Dan kau tidak mati karena segelas es teh saat kemarau november tiga belas tahun lalu,” Naila menimpali.

“Aku traktir kau segelas es teh,” tawar Naila.

“Akanku bakarkan sebatang rokok untukmu,” tawarku pula. Ia mengangguk setuju.

“Aku tengah mengidam-idamkan suatu sore denganmu, matahari di ufuk barat yang jingga serta kamu yang cerewet minta dipotret.”

Aku mulai menyedot sekaligus mengigit dengan rasa geram pipa surga hitam yang menghubungkan aku dengan teh di dalam gelas, sampai batu es tak mengambang lagi. Persis tiga belas tahun lalu.

“Tapi, sore itu masih jauh. Kita hidup saat ini, hanya saat ini, siapa tahu satu detik atau tengah atau setelah kau menulis kisah soal kita, aku dan kau menjadi tiada.”

Aku manggut-manggut seolah mengerti serupa bocah kecil yang kumal setelah purna dinasehati soal “jangan main kotor”.

Naila menatapku, aku menatap Naila, kami saling tatap, bola mataku malu dan ingin sembunyi tetapi keburu dipeluk bola mata Naila. lalu bola mata itu bicar.

“kau potret ini saja.”

“Ini ufuk barat dalam gelas, kau harus selesai soal matahari di ufuk barat, kita hanya hidup saat ini.”
Jadilah, pikirku, kemudian aku yang memotret, bahkan dia tidak minta dan tentu tidak cerewet bahwa harus ada gambar siluet tubuhnya di dalam gelas itu.

“Bagaimana kalau aku mati karena es tehmu ini Nai?” tanyaku sembari meletakkan gawai pada samping es teh di atas meja.

“Kalau kau mati, berarti aku tidak akan menikah,” ujarnya.

“Kalau aku tidak mati, kau akan menikah?”

“Tidak juga, mungkin kita akan saling tertawa sebab kita akan bertemu lagi di tempat yang sama tanpa janji, dan tentunya tiga belas tahun lagi.”

“Apa hubungannya?”

Naila pergi, tinggal aku dan segelas es teh yang ia beli, ia membawa serta rokok sebatang yang aku sediakan.

Seminggu setelahnya, aku dengar kabar dari seorang teman bahwa Naila ternyata mati sebab terpleset di dapur saat tengah menyeduh teh. Sungguh di sayangkan. Aku belum bilang padanya kalau dia mati apakah aku akan menikah atau tidak. Lalu, setelah tiga belas tahun aku dan Naila masih akan saling tertawa ketika kami bertemu di ruang yang sama.

Kupikir cara dia mati tidak begitu keren, seperti nyamuk sial yang menggigit orang khusuk main game, ditampol si pemain game sampai badan nyamuk itu remuk, atau seperti kodok yang keselek jangkirk di tengah sawah. Ternyata sebab musabab kematian hanya serupa itu. Aku diam di kamar, tak ada siapa pun, semua barang telahku lempar keluar melalui jendela, hanya ada aku dan Segelas es teh dari Naila. Apakah aku akan mati dengan sepuntung rokok? Sebab ternyata Naila mati karena segelas teh, entahlah, aku mau mengigit pipa surga ini, lalu menaruh sebatang rokok menyala pada bagian ujungnya, mungkin ketika tengah menghisap rokok dan setelahnya aku akan mati. Entahlah, kuputuskan untuk tidak peduli apa-apa, kematian tak pernah bisa diduga, baiknya mungkin kita tak perlu terlalu cemas padanya. Maka kematian akan datang pada kita dengan mengetuk pintu terlebih dahulu.

 

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi semester lima, Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam. AktifAktif di Media Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam Serambi.net
Dapat di hubungi melalui Email: hexidarakoet16@gmail.com atau bisa di pantau di Twitter @arjunedasemesta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here