Puisi-Puisi Astrajingga Asmasubrata; IMPROVISASI SEBELUM PERGI

0

Oleh Astrajingga Asmasubrata

 

IMPROVISASI SEBELUM PERGI

Aku tak mencarimu, tak perlu kau menunggu
Di ujung puisi ini. Kau boleh mengumpatku
“Teleksu!”, namun gadis yang akan kunikahi
Anak tengkulak bumbu di pasar Karanganyar
Kami juga bertekad memuliakan rasa lapar
Dengan benar, seperti rintik hujan suburkan
Ladang. Hidup kami akan kuning segar sayur
Opor santapan paling selera ketika hari raya

Aku tak mencarimu, kenapa kau bersikukuh
Termenung di ujung puisi ini? Jariku belum
Berdarah, meski pena telah berkali-kali diraut
Dengan hening kerling gadisku. O, noda merah
Di situ bukan bercak darah, itu selai stroberi
Dari roti bakar yang kubeli dengan honor puisi
Ini: kesunyian biru tua. Dan kau pun ragu —
Apakah harus berjalan atau tetap menunggu

(sorowajan, 2018)

 

PUISI DI DEPAN CERMIN

Kaupoleskan gincu untuk
Betahkan mataku. Padahal, aku
Cukup puas dengan senyuman palsu
Juga kerlingan gelapmu.

Sebaiknya kita berhati-hati pada gairah.
Maka berikan saja aku secuil rindu
Tanpa hasrat pada setiap sentuhan
Lembut tatapan matamu.

Aku tak bermaksud mengingatkan
Sebab ular yang berdiam di mulut kita
Semakin pandai menyamarkan desisnya

Ayo kita tuntaskan ini, beranjaklah
Dari hadapanku sebelum kesepianmu
Menampilkan wujud aslinya yang fana

(sorowajan, 2018)

 

JOUISSANCE

perihal sepi
apa yang akan kamu rasakan?

tentu ia hanya belaka
selebihnya ia sekadar jeda

membikin apa yang tampak
di dalam dan luar diri
seolah tak semarak

kamu tentu paham perkara waktu
yang bukan berputar melainkan berlalu
menyuguhkan sebuah saat

yang berkisar kini atau nanti
dengan sejumlah jawaban mungkin
atas tanya yang ditakzimi sebagai kira

cermatlah jika sepi tiba
itu adalah isyarat agar kamu ziarah
menemu diri yang sementara
seolah melenyut di lubuk duli

(sorowajan, 2018)

 

MEMBACA SITOK SRENGENGE

Paling magis dengar bunyi di sela sunyi puisimu
Ada semacam srengenge sembunyi di situ;
Memancar bagai binar mata pacar yang rindu

Ini bukan soal eufoni, barangkali cuma sisa
Gema sepasang genta dari gereja kota lama
Dibawa kata sebagai berkat bagi segala duka

Dan pelan-pelan puisimu mengepakkan sayap
Kirab anginnya mengoyang kelopak mawar
Yang mekar sempurna di benak para pecinta

Yang melantunkan puja bukan dengan lidahnya

(sorowajan, 2018)

 

PERTANYAAN PADA SUATU MALAM

aku sudah tidur, katamu,
ketika kita tiba di pos ronda itu

sungguh, ini perkara sederhana:
sarung yang membalut tubuh
dan nyala api unggun
gagal menangkal gigil

kita selalu gamang menghadapi sepi
tak seperti pencuri yang paham makna lari:
salak anjing, bisik-bisik tuan rumah,
sial yang anyir, juga jerat muslihat

maukah kau menyeduhkan kopi
untuk kantukku yang suntuk dan sepiku
yang semakin masyuk

kita keliling saja, katamu,
ketika tiba di pos ronda itu sembari
lambaikan tangan ke arah seseorang
yang memikul barang dengan sarungnya

(sorowajan, 2018)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here