Menebang Pohon Tuhan

0

Alangkah menyedihkan menjadi pohon ini. Ia tumbuh menjadi tua hanya untuk berakhir di mulut api, atau menjadi bahan bangunan, atau menjadi properti-properti. Padahal, jauh-jauh hari, orang-orang tua sudah menamainya Pohon Tuhan. Selain untuk dijadikan sesembahan, pohon itu diharapkan agar jangan sampai ditebang. Sebab, siapa yang berani membunuh Tuhan? Tetapi, kau mengatakan, Tuhan tidak bisa menjadi pohon. Tuhan mutlak ada di langit, dan sulit bagi kita melihatnya. Apa benar Tuhan ada di langit? Kau membalas, bukan, maksudku bukan seperti itu. Tuhan ada di langit adalah kiasan saja, bahwa Ia selalu berada di tingkat teratas. Seperti raja, seperti pengatur semua cerita. Jadi, hanya orang bodoh saja yang menganggap pohon sebagai Tuhan, sebagai sesembahan.

Maka, kau menebangnya. Kau, bersama orang-orang seumuranmu di kampung Maranti, menebang pohon ini. Kau menggunakan jasa tubuhku yang terbuat dari besi untuk menumbangkan pohon ini. Betapa juga sungguh sangat menyedihkan menjadi gergaji. Lahir dan ditakdirkan hanya untuk menyakiti.

**

Aku adalah pohon yang kau tebang itu. Mula-mula, kau kumpulkan seluruh warga, lalu kau beri tahu mereka, bahwa aku adalah pohon yang menyesatkan. Banyak orang tua menyembahku dan itu tidaklah dianjurkan di dalam agamamu. Kau beri tahu mereka bahwa aku bukanlah Tuhan, aku hanya pohon yang berbahaya, yang tua, yang sudah keropos dan kalau rubuh, akan menimpa siapa saja yang kebetulan ada di dekatku.

Beberapa warga tidak setuju perkataanmu. Kebanyakan yang tidak setuju itu dari golongan orang tua. Mereka meyakini bahwa akulah pembawa berkah, akulah yang mengirimkan malati jika tidak diberi sesaji. Jangankan untuk menebang, menyentuh saja mereka tidak berani. Mereka begitu menghormatiku. Mereka meninggikanku. Mereka tidak peduli aturan agamamu, yang mengatakan bahwa hanya Tuhan yang wajib dihormati dan ditinggikan.

Kau, anak muda yang baru saja selesai mengenyam pendidikan di negeri yang jauh, mengeluarkan kepandaian bicaramu. Kau memberi seribu alasan kenapa aku harus ditumbangkan. Mulai dari alasan ideologi, maupun aturan agama yang kau yakini.

Maka, kau tetap menebangku, karena teman-teman sebayamu orang-orang yang begitu taat pada agama menyetujui usulanmu. Kau nyalakan gergaji mesin, dan tidak butuh waktu lama, aku tumbang dan nyawaku terbang ke dunia yang lain. Sungguh, aku memang bukan Tuhan yang tidak mengenal kematian, maka dengan mudah aku tumbang.

Setelah menumbangkanku, kau menumbangkan pohon-pohon yang lain, yang bahkan tidak dianggap Tuhan.

**

Di tanah ini, kata orang-orang, Tuhan telah ditumbangkan. Maka, tak ada lagi penyelamat: ketika kemarau panjang, tanah kekeringan, matahari lebih terik dari biasanya, udara lebih pengap dari biasanya. Ketika musim hujan tiba, tanah gampang longsor, gampang banjir.
Di tanah ini, Tuhan telah ditumbangkan. Maka orang-orang di kampung Maranti, susah mencari pertolongan.[]

 

Pernah tersiar di Kedaulatan Rakyat, 18 November 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here