Lek, Bagaimana Jika Kita Menetap Di Sini?

0
Ilustrasi gambar diambil dari internet

Lek, Bagaimana Jika Kita Menetap Di Sini?

Oleh: Toni Kahar

 

Ento masih tidak percaya kenapa Sulastri belum bisa diajak tinggal di Madura.

***

Hayal tentang masa lalu di sawah bersama ayahmya, tiba-tiba hadir kembali saat melihat sepetak sawah di depan mata. Sawah yang baru saja ditanami bibit padi. Daun-daun kecilnya melambai-lambai pelan diterpa  angin. Ento. Dia sedang tersenyum. Mengingat kembali kenangan. Sejenak dia tidak sadar jika istrinya sedang merentangkan tanganya sembari terpejam menghirup udara sawah yang segar.

Nampak di matanya, Ayahnya sedang dibelakang dua sapi, tangan kanannya memegang cemeti, kanan kirinya memegang tampar untuk mengendalikan sapi agar berjalan mengikuti perintah ayahnya. Mulutnya berbunyi “jek lelele”, kalimat yang selalu ia dengar setiap kali petani sedang membajak sawah dengan sapi. Entah apa artinya. Dia mengira itu bahasa yang disepakti si punya sapi dengan para sapi mungkin. Begitu pikiran kecilnya dulu.

Dia pun sering meminta kepada ayahnya untuk diajak ke sawah setiap kali membajak sawah yang hendak ditanami padi. Alasannya sebenarnya hanya satu. Ingin bermain lumpur. Ayahnya tidak menolak permintaan Ento kecil.

Sawah menjadi tempat yang menyenangkan bagi Ento, begitupun ketika kemarau datang. Sebagaimana petani Madura lain, keluarga Ento juga menanam tembakau, tembakau adalah tanaman paling digemari oleh petani di sana. Dan tahun 80 atau 90-an adalah puncak-puncaknya harga tembakau. Hingga istilah daun emas dari pulau Madura menjadi istilah tren pada zaman itu. Dari hasil tembakau, Ayah dan Ibu Ento bisa pergi naik haji, Ento juga bisa membeli sepeda yang sudah ia inginkan selama tiga tahun. Kedua orang tuanya juga bisa membelikan baju baru untuk Hosaini, bakal[1] Ento, setiap daun tembakau mulai bisa dipetik dan dijual.

Ento suka membantu Ayahnya menanam tembakau kecil, membuat lubang kecil dari kayu lalu memasukkan akarnya dan ditanamlah tembakau kecil itu. Ento tidak disuruh, memang permintaannya ingin membantu. Biasanya ketika tembakau sudah sebahu ayahnya, dia mengajak tiga sampai lima temannya pergi ke sawah. Bermain petak umpet di sela-sela tembakau dewasa memang mengasyikkan. Ketika selesai pekerjaan Ayahnya dia dan temannya akan ikut pulang. Tawa lepas terdengar sepanjang jalan menuju pulang.

Itulah alasan kenapa dia tidak ingin pergi dari tanah lahirnya. Ia terlanjur jatuh hati pada sawah. Dulu di tengah sawah, Ento pernah bilang kepada Ibunya.

“Bu, nanti kalau besar Ento mau jadi petani saja ya.”

Ibunya tersenyum mendengarnya. “Iya. Mau jadi apapun akan Ibu dukung.” Ento tersanjung mendengar kalimat itu dulu. “Pada suatu hari nanti, tidak banyak orang tertarik bertani. Mereka akan lebih suka yang instan, kerja tidak banyak tenaga, tapi hasil melimpah. Itu yang dicari orang nanti. Terus terang Ibu senang mendengarnya.” Kata Ibu. Meskipun Ento masih kecil.

Baca juga: Tukang Kutuk

***

“Mas, apa yang sedang kau pikirkan.” Sulastri memegang pundak Ento.

Ento tersadar. “Eh. Tidak ada.” Ento tersenyum getir.

“Sekarang kita sedang berlibur. Seharusnya kamu bahagia dong.”

Ento melempar senyum yang dipaksakan. Dalam hatinya dia berkata, kau tak pernah tahu dahulu aku disini, Sulastri. Dan kau pasti tidak akan pernah ingin tahu tentang semuanya.

“Balik yuk.”

Sulastri memegang tangan Ento. Ento mengikut saja walaupun dia harus berpisah dengan bayang-bayang kenangan itu. Keduanya berlalu dari sawah, Ento berlalu dengan hayalnya itu. Sawah yang sudah tak dimiliki oleh keluarganya segera dia tinggalkan. Sempat dia memutar kepalanya untuk melihat sepetak sawah itu. Setelah itu dia menatap punggung istrinya. Tangan keduanya tetap bergandengan. Tiba-tiba spontan sekali Ento berkata kepada Sulastri. Dengan pelan dan penuh permohonan.

Lek, bagaimana jika kita menetap di sini.”

Sulastri menghentikan langkahnya. Menatap Ento dengan tajam. Seakan berisyarat tidak setuju dengan permintaan Ento. Ento melihat istrinya seperti lima belas tahun yang lalu. Ketika malam pertama yang gagal. Ketika pertama kali Ento mengucapkan permintaan agar sebaiknya setelah menikah keduanya tinggal di Madura. Saat itu Sulastri menatap tajam di tepi ranjang. Lalu kemudian dia meninggalkan sendiri Ento sendiri di kamar pengantin. Sementara dia tidur di kamar lamanya sebelum menikah. Tanpa alasan, tanpa penjesalan kenapa dia tidak ingin tinggal di Madura. Ento mengira mungkin kehidupan di Madura tidak meyakinkan. Apalagi saat itu memang bangkrut-bangkrutnya bertani tembakau.

Sulastri langsung melepas pegangan tangannya, lantas berjalan lebih cepat di depan Ento. Ento berusaha mempercepat jalannya, tidak memberi kesan seakan mengejarnya.

“Tapi kenapa kau tidak ingin tinggal di sini?” Tanya Ento.

Sulastri tetap melangkahkan kakinya lebih cepat. Ento enggan mengejarnya. Karena dipaksa bagaimanapun Sulastri tidak akan bicara. Dua hari, atau sampai satu minggu. Dia akan menganggap Ento seperti patung hingga kemudian amarah dihatinya luluh dengan sendirinya. Percakapan Ento itu akan dilupakan dengan sendirinya. Lalu dia akan bersikap seperti tidak ada apa-apa.

Memang terkesan aneh. Dia mencintai Ento sejak pertama kali bertemu di kampus mereka, sampai kemudian menikah. Tapi dia tidak mau tinggal di Madura.

Mereka sudah sampai di jalan aspal samping rumahnya. Sulastri masuk lebih dulu ke pekarangan. Ento tetap tidak berusaha mengejar. Apalagi, Ibunya yang duduk di lencak beranda akan tahu perselisihan mereka itu jika Ento ngotot mengejar. Sebenarnya Ento tahu alasannya. Hanya saja kenapa harus sampai lima belas tahun lamanya.

Sulastri masuk begitu saja ke dalam rumah. Ibu Ento menatapnya dengan heran. Matanya memandang Sulastri sampai menghilang di daun pintu. Kemudian matanya beralih ke Ento. Seakan bertanya, apa yang sedang terjadi. Tapi Ibunya tidak bertanya, dan Ento tak perlu menjelaskan.

Ento duduk di samping Ibunya. Dia memindah tongkat Ibunya. Memberi tempat untuk dirinya sendiri.

“Bu, Aku ingin membeli tanah kita lagi.” Ucapnya setelah sekian menit duduk disamping Ibunya.

“Untuk apa, Nak?”

Ento diam. Dia hanya ingin membeli tanah orang tuanya dulu saja. Tidak lebih, dan tak tahu sebenarnya apakah dia akan seperti dulu lagi. Bertani kembali.

“Ayahmu sudah meninggal untuk menggarap sawah.” Ibunya menangis sesenggukan. “lagian, mengurus Ibumu sendiri saja kamu tidak sempat apalagi mengurus sawah.”

Ento langsung menangis sejadi-jadinya. Walaupun kalimat itu tak terkesan penuh amarah. Ibu Ento mengucapkan itu hati-hati sekali.

Apa yang dikatakan Ibunya tidak salah. Sejak kedua kalinya dia harus berpisah dengan orang tuanya, sejak itu pula dia tidak pernah menjenguk Ibu dan ayahnya. Pulang, hanya ketika istrinya ingin melepas penat. Bukan karena pelantara rindu atau apa. Sepuluh tahun sejak pernikahan, Ento tidak pulang dan dia tidak tahu kabar bahwa Ayahnya meninggal karena acarok dengan mertua Ento. Masalahnya, Ento menikah dengan Sulastri dan memutuskan tali bakal. Lima tahun setelahnya dia pulang satu tahun satu kali. Bukan untuk menjenguk Ibunya. Tapi karena permintaan Sulastri untuk melepas penat. Setelah satu hari di rumah Ento. Sulastri akan mengajak kembali. Padahal masih ingin Ento berlama-lama di Madura.

Dia tidak tahu jika Ibunya harus diurus oleh Mak Sina, tetangga Ento. Mungkin jika tidak ada Mak Sina yang rela mengurus Ibunya. Mungkin sudah mati Ibunya itu. Dan Ento harus menyesal yang kesekian kalinya karena tidak merawatnya di usia yang senja.

“Aku sudah menerima menantuku sepenuh hati, Nak.”

Ento menoleh. Kalimat itu pertama kalinya dia dengar dari Ibunya. Dulu, Ibunya sama sikapnya dengan Sulastri. Membiarkan Sulastri seperti patung. Ibu dan Ayahnya datang untuk menghargai Ento saja dan agar terkesan jika Ento itu punya orang tua. Setelah itu, rasanya Ibu dan Ayahnya tidak pernah mengakui adanya menantu di antara keluarga Ento.

“Sejak Ayahmu meninggal karena acarok dengan calon mertuamu dulu. Ibu sadar jika kebencian Ibu pada Sulastri yang telah merebutmu dari bhakalmu itu hanya menambah masalah. Jika saja kamu ada di sini. Mungkin Ibu bisa menenangkan semua masalah dengan mertuamu.”

Suara isak tangis terdengar. Perasaan Ibu Ento bercampur aduk antara menyesal dan rasa bersalah kepada Sulastri. Tiba-tiba aku mendengar isak tangis juga dari darah pintu. Ternyata Sulastri ada di sana. Menguping pembicaraan Ento dan Ibunya. Dia menangis. Kemudian, entah kenapa dia mendekat dan mencium tangan mertuanya itu. Ento terharu memandangnya.

“Maafkan Sulastri, Buk. Lima belas tahu kami meninggalkan Ibu dan Ayah. Maafkan Sulastri sudah merusak Babakalan Mas Ento. Tapi sungguh, sungguh, sungguh kami saling mencintai, bahkan ketika saya sedang memendam benci.”

“Tidak, Nak. Ibu dan Ayah yang salah. Sesungguhnya jodoh sudah ditentukan oleh Tuhan. Manusia tidak boleh bertengkar hanya masalah tidak sesuai dengan ketentuan mereka sendiri. Ibu minta maaf.”

Sulastri dan Ibu Ento saling memandang lama untuk pertama kalinya. Lalu Sulastri mengalihkan pandangan ke Ento.

“Mas, kita akan tinggal di sini kan?” Tanya Sulastri. Ibu Ento mengusap air mata Sulastri.

“Kau tidak takut ada di sini?” Ento mengerti, selain Ibu dan Ayahnya tidak suka. Dia takut pihak dari bakal Ento akan memberi perhitungan padanya.

“Tidak. Aku ingin merawat Ibu. Lagian aku banyak dosa pada Ibu.”

Ibu Ento tersenyum bahagia. Ento ikut tersenyum sembari mengangguk. Ento dan Ibunya terharu. Sulastri adalah istri yang baik. Keduanya saling memeluk. Membuang seluruh kebencian.

Rembang, 2018

[1] Tunangan; pengikat kedua pasangan yang kebanyak dilakukan sejak kecil.

Tentang Penulis

Toni Kahar, Lahir di Sumenep, Mahasiswa STAI Al-Anwar Sarang Rembang. Aktif di Komunitas Sastra ATAP Sarang, Pers Kampus, dan menjadi Pemred Majalah Al-Hibr STAI Al-Anwar. Beberapa puisinya termaktub dalam antologi bersama, cerpennya menjadi Nominator lomba PM4 Pesantren Mahasiswa An-Najah Purwokerto. Buku kumpulan cerpennya yang akan terbit berjudul Ketapel dan Burung-Burung Di Pohon Asam (FAM Publishing).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here