Puisi-Puisi Hendri Krisdiyanto; Menunggu Hujan

0
Menunggu Hujan

Menunggu Hujan

Mula-mula saat kulihat langit mendung
Aku bergegas merias diri
Kupilih-pilih lipstik mana yang serasi
Dengan warna hujan
Aku menyisir rambutku
Kuserupakan membentuk garis lurus
Yang menyerupai gerimis.

Kekasihku berada di kota jauh
Dan aku rindu.

Tetapi, alam khayal sangat luas
Dan aku tahu cara terbaik
Mengelabui jarak dan waktu..

Kubayangkan ia menjelma setiap gerimis
Yang jatuh melalui atap-atap rumahku,
Aku ingat, ada satu titik yang bocor
Sementara aku telah berada tepat di bawah
Celah atap itu.

Dengan diri yang telah sempurna kurias
Kurasakan tetes pertama jatuh di keningku,

Di alam khayal telah kau kecup aku
Melalui gerimis yang kubayangkan sebagai dirimu

Sejenak aku berlari ke halaman
Agar hujan membasahi tubuhku
Agar engkau sepenuhnya memelukku.

November, 2018

 

Dengan Vira

Kita disatukan takdir
Menjadi kekasih yang tak getir
Dan berjanji bersama sampai akhir.

Sebuah keinginan kelak menikah
Memiliki permata, saat baru lahir tangisnya melengking
Ke tengah-tengah semesta
Matanya bercahaya sempurna
Bagai purnama.

Kau menggendong anak kita
Aku mencium keningmu

Ia tersenyum
Dan sepasang burung yang melihat kami
Tiba-tiba pergi, kupikir
Ia cemburu atau iri.

Di luar rumah saat malam hari
Dua ekor tikus berlarian
Tampaknya jantan dan betina
Kubiarkan saja,

Sejenak aku teringat
Dulu sekali pernah kita mengalaminya
Berkejaran berdua
Dan tak berpikir orang di sekitar
Apakah mereka senang dengan kebahagiaan kita?
Atau kita mengganggu?
Tetapi, bukannya dengan begitu
Cinta bekerja sesuai hakikatnya.

November, 2018

 

Doa 2

Apa yang mesti kupersembahkan pada-Mu
Sementara kabut gelap di lorong-lorong jiwaku
Menumpuk dengan berbagai bentuk dosa?

Seakan dengan dosa kucapai puncak gunung paling tinggi
Seakan dengan gelapnya jiwa kucapai luasnya samudra

Maka, selain pengampunan-Mu, Tuanku
Bisa apa aku si lemah ini
Tinggal di kerajaan-Mu yang megah itu?

Yogyakarta, 2018

 

Sebuah Khayal
Kepada Syarifa Meilani

Kami duduk berdua di taman
Dengan udara beku
Dan suasana kaku
Setiap kata yang keluar dari mulutku
Adalah kenangan dari masa-lalu

Langit mendung
Gerimis jatuh perlahan
Kita berteduh berduaan

Lalu, kau berkata, dan bertanya
“dari apakah dingin terbuat?”
Aku tak menjawab
Kemudian memelukmu erat-erat
Di dekat telingamu aku berbisik
“dalam pelukan dingin hanya
Sebatas bayang”.

Agustus, 2018

 

Dalam Duka

Waktu melesat jauh
Aku tertinggal di belakang
Sementara kepergianmu
Meninggalkanku jauh di masa lalu

Tuanku, dengan duka apalagi
Kau jatuhkan air mataku?

Agustus, 2018

 

Gerimis Pertama

Pada gerimis yang jatuh di daun-daun
Kemudian mengalir ke tubuhku
Kepadanyalah harap kutaruh
Untuk akar-akarku tetap kukuh

September, 2018

 

 

Hendri Krisdiyanto lahir di Sumenep, Madura. Alumni Annuqayah daerah Lubangsa. Karyanya pernah dimuat di: Minggu pagi, Kabar Madura, Koran Dinamikanews, Nusantaranews, Radar Cirebon, Radar Banyuwangi, Buletin Jejak, Tuban Jogja, Buletin kompak, Jejak publisher, Apajake.id, Majalah Simalaba, Antologi bersamanya :Suatu Hari Mereka Membunuh Musim(Persi :2016), Kelulus (Persi :2017) Dan The First Drop Of Rain, Banjarbaru, 2018 dan Suluk Santri(Antologi puisi penyair Islam Nusantara, 2018,) Sekarang aktif di Garawiksa Institute, Yogyakarta. Nama Fb: Hendri Krisdiyanto.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here