Puisi Cahya Ridlo Gusti; Ayat-Ayat Kakus

0

Ayat-Ayat Kakus

I

Ia tak tahu mengapa pada
setiap pagi sebelum
menunaikan ibadah mandi
jamban selalu memanggil-manggil
seolah meminta ditunaikan
segala kewajiban hari, bahwa
“ada atau tidaknya nasi yang
masuk, dua setengah persen
seisi perut harus jadi zakat
…datanglah, datanglah!”

II
Jalan menuju jamban
kadang berliku. Sebab ia tak tahu
sesampainya di kamar mandi
harus berkelit seperti apa
Karena terkadang yang mules
di perutnya itu bukan rasa
ingin lega, tapi memang
semalaman dihajar angin lapar

III
Namun ia lebih sering melamun
jongkok termenung. Sembari berpikir
tentang hari itu harus bekerja sekeras apa
Agar makan enak, hingga esoknya
bisa menyantuni jamban dengan
layak dan tak sebagai ritus ala kadarnya

Pesan Sabun

Sehari sebelum
malam yang terberkati
dan penuh dengan kasih
Ia bertolak ke mimpi

kembalikan perjaka
kamu, jangan?

Pesan Sampo

Ia diam-diam menjadi ketombe
yang khusyuk membaca kitab-kitab
suci nan rahasia yang tersisa di kepala
setiap kemalasan melandamu
untuk menunaikan ibadah keramas

Ia diam-diam menjatuhkan dirinya
di kedua bahumu. seperti jambu air
yang kelewat masak dan berguguran
mengotori sekitar halaman, seolah
dirimu rumah yang sudah lama
ditinggal pergi pemilikNya

Pesan Ciduk

tak jauh dari kesedihanmu tinggal
aku sudah lama mengajakmu untuk mampir

tak usah sungkan
kecut-sangit tubuhmu
akan diterima dengan ramah di sini

tapi maaf, tak banyak yang bisa dijamu
hanya sunyi, sisa potong sabun dan ricik leding
yang seringkali memang mirip sepertimu
: telah habis dikuras nasib

jika bosan, tentu kau boleh mengajakku bernyanyi
mengandaikan dirimu dalam sebuah pentas tunggal
dengan ingatan-ingatan yang tak
ingin dimiliki sebagai penontonnya

namun setelahnya,
tangkupkan aku dan sembahyang

Pesan Sisir
: F

Katakan kepadaku
mengapa setiap kesedihan selalu kau letakkan
pada sigar pinggir dan yang hampir?
Seolah tak ada jalan keluar meski itu
ada di belah tengah

Aku ulangi sekali lagi, katakanlah
mengapa ingatan kau kian semrawut
ketika aku mencoba menyisir bilah-bilah kulit kepala
Seolah pernah ada sebuah nama yang menjatuhkanmu
dari nasib demi nasib dan menyisakan masa tua yang karib

Tak ada yang lebih kusut, memang
selain ketabahan yang mencoba
mengurai kesedihannya sendiri
sebab tak ada lagi yang bisa terbaca
selain hitam dan putih sunyi yang terbagi

Tapi jika ini memang kehendak
Aku tak akan pernah memaksa
Sebab memang begitu adanya
Yang selalu tampil rapi belum
tentu rabi dan terberkati

Sakal

Padahal Kau telah membangun
banyak jalan lengang di tubuhku.
Namun, mengapa macet masih terasa
setiap kali aku ingin menempuhMu?

 

Cahya Ridlo Gusti atau akrab disapa Paijo ini seorang warga Yogyakarta asli yang lahir pada
8 januari 1993. Kini bermukim di Jakarta demi membahagiakan Ibu dan saudari-saudarinya
juga mencicil gengsi calon mertua. Sedang sibuk di Kelas Puisi dan berusaha menyelesaikan
manuskrip puisi tunggalnya. Dapat dijumpai di Intagram @chyrdlgst atau surelnya
cahyaridlo@gmail.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here