JODOH DALAM PANDANGAN SAINS-ELEKTRONIKA DAN DINAMISME KEIMANAN

0
JODOH DALAM PANDANGAN SAINS-ELEKTRONIKA DAN DINAMISME KEIMANAN

Oleh : Nurohman

Iman itu dinamis, begitu kata orang-orang, yang jika dipikirkan lebih mendalam sebenarnya bukanlah sekadar berlaku pada keimanan itu. Maksudnya, jika iman yang kita miliki memang tidak pernah tetap, tentu ketidaktetapan itu dapat pula berlaku pada hal selain iman. Kita kerap menjumpai hal-hal yang berubah dalam waktu cepat, sebagaimana yang terjadi pada sinyal kelistrikan AC (alternative current).

Jika kita pernah mempelajari, atau minimalnya pernah mendengar tentang arus listrik dari PLN itu, bentuk sinyalnya sebenarnya adalah berupa kurva sinus yang naik turun dari 0, kemudian naik ke plus 220, kemudian turun lagi ke 0 hingga turun ke minus 220, lalu naik ke 0 hingga ke plus 220. Begitu seterusnya. Dan, itu pun tidak stabil pada angka 220. Sebab angka 220 yang selama ini kita kenal bukan tegangan peak-to-peak (puncak plus ke puncak minus), tapi cumalah tengangan efektifnya saja.

Begitu pula yang terjadi pada suara, sound, atau musik. Sinyal kelistrikan yang dihasilkan dari gitar, bass, piano, violin, vokal, dan bahkan drum-perkusi pun berbentuk kurva sinus sebagaimana listrik dari PLN itu. Hanya saja, jika PLN itu tegangannya sampai 220 volt dengan frekuensi 50 Hertz saja, tegangan suara tidak sampai sebegitunya, meski dengan frekuensi yang bisa mencapai berkilo-kilo Hertz. Dan, kombinasi tegangan dan frekuensi itulah yang memengaruhi, apakah arus itu bertenaga menhujnam tubuh ketika tersetrum ataukah tidak.

Kaitannya dengan kedinamisan iman, pernah suatu ketika seseorang menjelaskan bahwa perihal keimanan yang dinamis itu, pun berlaku pada kehidupan, kematian, dan bahkan soal perjodohan. Dalam kehidupan-kematian, misalnya, manusia akan menjumpai dalam dirinya keadaan hidup dan mati secara bergantian, atau pula keadaan yang tidak terlalu hidup dan tidak terlalu mati.

Sesuatu yang menjadikan seseorang itu benar-benar hidup ada dua, yaitu harapan dan makna. Siapa pun yang mempunyai harapan, apa pun itu, akan merasakan dirinya begitu hidup guna mencapai yang diharapkan itu. Begitu pula, siapa pun yang menemukan makna dari kehidupannya, akan menjalani hidup dengan sebenar-benarnya hidup pula. Tapi, bandingkan dengan kehidupan orang yang kehilangan harapan dan tak menemukan makna apa pun. Tentu akan berbeda.

Maka, kita tentu pernah mengalami dalam hidup kondisi yang demikian. Yaitu, suatu titik yang menjadikan kita amatlah hidup, dan suatu titik lain yang menjadikan kita berasa mati tak berdaya. Dalam serial Mahabharata, ketika dikisahkan bahwa Drupadi ditelanjangi di ruang istana yang di sana ada Dewabrata Bisma, diamnya Bisma sebenarnya menunjukkan bahwa dia sudah mati. Makna kehadirannya di tempat itu sudah tiada, meski harapan untuk mencegah peristiwa itu mungkin ada. Dan, sebagaimana listrik yang kehilangan salah satu dari penyusunnya akan menjadikannya mati (entah itu tegangan, arus, atau bahkan frekuensi), hidup pun demikian, kehilangan makna atau harapan pun, dapat menjadikannya mati pula.

Maka, sebenarnya problem mati dan hidup bukanlah hal yang begitu mengerikan. Setiap saat kita mati dan hidup secara bergantian dalam frekuensi yang tidak beraturan. Sebagaimana frekuensi lampu kamar yang sebenarnya berkedip-kedip antara hidup dan mati sebanyak 50 kali per detik (50 Hertz), sebagaimana musik yang sebenarnya tersendat-sendat antara bunyi dan redam sebanyak hingga ribuan kali per detik (Kilo Hertz), tetapi kita tetap menganggap lampu itu nyala dan musik itu bunyi. Yang benar adalah, di dalam hidup lampu itu, ia mengalami mati 50 kali tiap detiknya, dan di dalam bunyi musik itu, ia mengalami mati ribuan kali tiap detiknya.

Lalu, soal kelahiran dan kematian itu?

Kelahiran bayi dan kematian manusia sehingga dikuburkan sebenarnya adalah bagian dari kedinamisan hidup dalam skala besar. Yang dalam satu siklus besar itu, kita mengalami jutaan siklus hidup-mati kecil, yang dialami hampir setiap hari tergantung kadar harapan dan makna yang kita miliki.

Maka, sebenarnya begitu juga dalam hal jodoh. Pernikahan sebenarnya hanyalah satu siklus besar tentang perjodohan itu, bahwa setiap makhluk itu diciptakan berpasangan. Meskipun, konsep berpasangan itu pun berkaitan dengan budaya, yang kebetulan budaya manusia itu selalu membuktikan keberpasangan ialah dengan menikah, bukan yang lain.

Sebagaimana kelistrikan dan kehidupan yang dalam satu siklus besar ternyata memuat ribuan siklus-siklus kecil, yang juga di dalamnya berarti mengandung kedinamisan yang tidak bisa dipisahkan, perihal jodoh pun demikian. Sehingga, jika jodoh itu disusun atas kasih sayang dan kecocokan, maka kedinamisan itu pun ada sebab rasa kasih sayang dan cocok yang juga dinamis.

Ketika orang akan menikah, tentulah pasangan itu berjodoh, dengan kadar kasih sayang dan cocok yang penuh—katakanlah demikian. Namun, seiring berjalannya waktu, kejodohan itu pun akan menurun, kemudian naik lagi, kemudian menurun lagi, atau bahkan menghilang, dan begitu seterusnya. Hingga, beberapa pertanyaan yang kerap datang itu, yaitu “apakah yang poligami itu jodohnya banyak?” atau “apakah yang menyudahi pernikahan berarti masa jodohnya habis?” dapat dijawab dengan gampang. Yaitu, benar bahwa pada titik itu, seorang yang poligami itu jodohnya berarti banyak, tapi hanya pada titik itu, entah besok-lusanya. Dan, benar pula bahwa yang menyudahi pernikahan itu masa jodohnya telah habis, entah keesokan harinya akankah terisi lagi sehingga bisa kembali rujuk.

Maka, dalam siklus hidup sebenarnya, setiap perjumpaan yang di dalamnya ada kasih sayang dan kecocokan, dapat pula kita pahami sebagai jodoh. Ketika manusia memiliki kendaraan yang amat disayangi, misal, dan cocok dengannya, maka itu pun jodoh. Begitu pun dalam pekerjaan, yang jika pekerjaan itu amat sesuai dengannya dan mencintainya, maka itu pun jodoh. Dan, kendaraan dan pekerjaan itu bukan berarti akan jadi jodoh selamanya. Ada naik dan turun sebagaimana iman yang juga naik-turun. Dan itu merupakan suatu keniscayaan. Mana mungkin kita bisa menolaknya, wong kita punya qalbun, kok, yang sifatnya memang demikian.

Persoalannya adalah, dalam kedinamisan itu, dalam naik-turunnya iman, hidup, bahkan jodoh, pilihan kita selanjutnyalah yang sebenarnya menjadi kunci. Yaitu, ketika hal-hal tersebut sedang surut, apa yang kita perbuat? Atau, dalam menjangkau hal-hal tersebut agar tetap pasang, akankah kita akan membuka diri pada siklus-siklus kecil di luar diri kita?

Sebagaimana ungkapan “terus mencari jalan pulang, atau memutuskan inilah kepulangan”, akankah kita juga akan memutuskan inilah kehidupan tanpa terus melulu mencari hidup yang bagaimana-bagaimana, dan juga memutuskan inilah kejodohan tanpa terus melulu mencari jodoh yang bagaimana-bagaimana? Sebab, bukankah mendasarkan hal-hal yang demikian pada suatu kepastian yang mutlak adalah yang mustahil mengingat hal itu memang tidak pasti?

Tentang penulis: Nurr dilahirkan di Teluk, Purwokerto Selatan, Banyumas, Jawa Tengah, pada hari Senin Pahing, 16 September 1991. Ia tumbuh dari keluarga petani yang sederhana, dari pasangan Achmad Sobirin dan Saodah yang amat taat beragama. Sehingga, selain Nurr, ia sering pula menggunakan nama Nurrohman bin Achmad Sobirin. Dan, nama aslinya adalah Nurrohman.

Masa kecil hingga remaja ia habiskan di kampung halamannya. ketika sekolah dasar, ia termasuk anak yang cukup diperhitungkan, meski tidak sampai pada peringkan 5 besar. kemudian, pendidikan tinggi ia selesaikan di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Purwokerto. Dan, setelah menyelesaikan pendidikan tinggi paa akhir 2016, ia pun hijrah ke Yogyakarta pada awal 2017 untuk bekerja sebagai editor DIVA Press.

*sumber gambar: unsplash.com 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here