MAKRAB

0

Oleh Lisa

MENCINTAI KPMRT. Malam yang bahagia untuk Keluarga Pelajar Mahasiswa Ronggolawe Tuban. Dengan suasana khas pantai Jogja, KPMRT melakukan MAKRAB season pertama yang bertema “Mencintai KPMRT”. (Selsa/29/12/2018).

Azam, selaku ketua suku KPMRT menegaskan saat menjelang pemberangkatan, “Saya tegaskan untuk makrab season pertama ini, warga KPMRT harus bahagia. Di samping itu, di sana nanti kita akan membahas planing besar terkait agenda kita yang akan datang, jadi supaya agenda-agenda itu bisa terlaksana dengan maksimal, kita harus bahagia dulu, mencintai KPMRT dengan sungguh-sungguh,” tegas RT (Azam) dengan penuh semangat andalannya.

Meski tidak sesuai waktu pemberangkatan yang seharusnya pukul 16.00 akhirnya terlaksana 17.15, rombongan melakukan perjalanan dengan lancar. Selain jalannya yang memanjakan tubuh, menyusuri jalanan yang gelap dan dingin, rombongan menyempatkan berhenti di sebuah masjid di salah satu kampung. “Salat. Setelah itu kita lanjut kembali. Biar hati kita adem,” ujar Dandi sambil mengeluarkan sarungnya.

Sesuai randon yang telah disusun oleh bu Frida, agenda selanjutnya yang bertema, “Ngobrol Seru Seputar KPMRT” berjalan lancar.  Suara ombak yang memanjakan telinga beserta angin yang terus membelai kulit, ngobrol seru pun mencapai puncak kehangatan. “Ya, saya senang sekali bisa berkumpul bersama teman-teman sedaerah. Setidaknya, di sini saya masih bisa mendengar logat khas Tuban, yang sudah setahun ini tidak mendengarnya,” ungkap salah satu mahasiswa URT (Universitas Ringroud Timur). “Dan saya cukup senang kakak-kakak di sini bisa menemukan saya, maksudnya, mungkin masih banyak mahasiswa di Jogja yang masih belum tahu apa itu KPMPRT. Jadi harapannya supaya orang-orang seperti saya bisa lebih banyak ditemukan,” tambahnya.

“Untuk membangun KPMRT lebih baik, langkah pertama yang wajib kita miliki yaitu niat yang kuat, niat yang di dalamnya ada unsur mencintai KPMRT apa adanya. Setelah kita memiliki rasa itu terhadap KPMRT, unsur-unsur yang lainnya akan mengikuti dengan sendirinya. Tidak ada lagi unsur kebencian sesama anggota. Yang sering kumpul, yang hanya rame di grup, yang tidak pernah mengikuti kegiatan, atau yang terlalu aktif pun akan kita sayangi semua, tanpa pilih kasih. Entah mereka dari geng apa,” ujar Maeda, selaku pimred tubanjoja.org.

Malam itu, selain mengupas apa itu KPMRT, rombongan juga sedikit menyinggung acara camfest yang akan dilaksanakan pada tanggal 19 Januari yang bertepatan di Tuban. Banyak ide-ide yang bermunculan, masukan, bahkan ada salah satu anggota yang baru saja gabung dengan KPMRT berkata, “Tahu begini, jangankan mbrangkang, ngesotpun akan memenuhi panggilan KPMRT dengan senang hati,” ujar Asma wanita asal Semanding yang sedang menempuh S1 di UIN Sunan Kalijaga.

Malam hari, ketika jagung menari-nari di atas bara api untuk segera disajikan. Rombongan terkejut oleh kedatangan beberapa sesepuh KPMRT dari berbagai angkatan. Malam pun bertambah hangat meski jelas-jelas udara terus-terusan masuk keluar pori-pori.

“Kita sudah besar. Tidak perlu lagi sebuah motivasi, yang kita butuhkan adalah seberapa besar keinginan kita untuk KPMRT,” ujar Ipung, salah satu sesepuh KPMRT.

“Tepat apa yang dikatakan saudara Ipung. Yang paling penting kita bisa kumpul, rukun, guyub, ngabdi. Itu sudah cukup bagus,” tambah Al, ketua suku preode 2016-2017.

Kopi, jagung bakar, dan suasana pantai Woh Kudu memberikan suasana kehangatan yang hakiki bagi KPMRT malam itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here