SAYA

0

Aku ingin cerita bagaimana cara mencintainya dengan semampuku. Aku tidak tahu ini benar atau tidak, atau bagaimana cara mencintai yang benar pun aku tidak tahu. Tapi setidaknya aku akan melakukan suatu cara untuk mencintainya dengan semampuku.

Yang jelas, aku tidak mampu mencintainya dengan cara bertemu setiap hari. Aku tidak mampu mencintainya dengan cara memberikan kabar atau menanyakan kabar setiap hari. Aku tidak mampu mencintainya dengan cara memanggilnya kekasih. Bahkan aku tidak mampu sekedar membayangkannya di malam hari untuk mengobati rinduku. Lantas, bagaimana cara mencintainya?

Sempat aku berpikir kalau sudah tidak ada cara lagi untuk mencintainya. Tapi setelah aku pikir-pikir ternyata masih ada cara, yaitu mendoakannya. Aku mendoakannya setiap hari, bahkan lima kali sehari. Aku berdoa, semoga dia sehat, lancar rezekinya, diberi kemudahan dan lain-lain. Kulakukan itu secara rutin. Tapi aku masih level manusia, penderitaan selalu muncul tiap kali melihat gambarnya yang tidak mungkin aku sebutkan itu. Semakin sakit rasanya, ah, tersiksa. Ya, tersiksa berkelanjutan, penderitaan, sakit.

Tapi aku masih mendoakannya di sepertiga malam agar dia tetap tegar jika mengalami sesuatu yang menyakitkan. Kemudian, entah aku seperti mendapat bisikan. Untuk (tetap) mencintainya dia harus membenciku. Setelah itu caraku untuk (tetap) mencintainya dengan mendoakannya. Memang terdengar konyol, tapi itulah yang terjadi.

Seperti itulah teman saya bercerita. Saya mendengarkan dengan baik. Anehnya, semakin cerita itu diteruskan semakin saya merasakan keasingan terhadap diri saya. Tapi itulah yang benar-benar sedang terjadi.

*

Dulu aku benar-benar bisa memperlakukan dia sebagai kekasihku. Keromantisan selalu bisa kita bangun di berbagai keadaan. Setelah sakit itu bisa aku sembuhkan aku benar-benar senang bukan main. Aku begitu bangga pada diriku sendiri yang mampu menahan sebuah nyawa agar tetap berada pada tubuhnya. Ya, dia sakit parah lalu aku sembuhkan.

Waktu itu aku sedang dengan kesibukanku seperti biasa, menaruh pantat di sebuah kafe murahan berjam-jam. Menyelesaikan pekerjaan yang terus-terusan menodong. Menyelesaikan satu dua karya yang cukup membuat diriku terpuaskan. Dia datang dengan penyakit yang telah memvonisnya. Bahwasanya sebentar lagi akan mati. Itulah yang sedang terjadi waktu itu

“Sudah empat hari kau di sini. Apa kau tak ingin pulang ke bengkulu?” kataku.

“Aku masih ingin di sini. Nanti jika ada yang membuatku harus pulang aku akan pulang.”

“Apa yang bisa membuatmu pulang?”

Dia tidak menjawab pertanyaan cerobohku. Diam, menampakkan wajah yang baru kali ini aku melihatnya; kosong seperti sudah tidak ada rencana lagi untuk beberapa jam ke depan.

“Baiklah, nanti biar kucarikan tumpangan.”

“Tidak usah, nanti malah merepotkanmu saja.”

“Tidak tidak tidak. Justru aku senang bisa membantumu.”

Hari itu juga aku mendapatkan inapan untuknya. Selama dia di sini kita sering menghabiskan hari di sebuah kafe langgananku sambil membicarakan apa yang perlu dibicarakan. Dia juga cerita apa alasan yang membuatnya tidak ingin pulang. sedangkan kalau malam hari kita lebih suka menikmati angin malam sambil jalan kaki.

“Hampir sebulan kamu di sini. Apa tidak ingin pulang?”

“Aku akan pulang, tapi sebelumnya aku ingin mengucapkan banyak terimakasih.”

“Iya, sama-sama. Trimakasih juga sudah menemaniku hari-hari ini. Aku senang sekali.”

“Sepertinya aku yang lebih senang,” katanya sambil tersenyum.

“Alasannya?”

Dari situlah kita memulai. Benar kata orang jawa, tresno jalaran soko kulino, suka karena kita sering bersama-sama. Juga suatu kebetulan dua hari sebelum dia pulang, ada dua orang yang tiba-tiba mendoakan kita supaya jodoh. Pertama ketika malam hari di jalan kenanga yang tidak jauh dari penginapanku, tiba-tiba seorang lelaki menghampiri kita lalu meminjam hp. Sebagai ucapan terimakasih lelaki itu mendoakan kita supaya tetap bersama sampai tua nanti. Kedua di sebuah warung makan, seorang bapak parkir yang baru saja kita beri uang dua ribu tiba-tiba mendoakan kita seperti lelaki malam itu.

Memang benar, dia ke sini membawa penyakit, dan aku menyembuhkan penyakit itu. Setelah kepulangannya aku melanjutkan hari-hariku kembali dengan perasaan yang berbeda. Dia pulang meninggalkan alasan-alasan penting yang membuatku terus memikirkannya.

Ah, saya yang tidak tahu siapa saya cukup senang mendengar cerita teman saya di bagian ini. Sepertinya ia sedang berbunga-bunga. Aku cukup menikmatinya. Dan, memang itu yang sedang terjadi di bagian ini.

*

Seperti kataku tadi. Sekarang aku tidak tahu cara untuk mencintainya. Aku sudah tidak mungkin bertemu. Tapi aku selalu mengandalkan doaku sebagai cara untuk mencintainya.

Kini aku yang sedang sakit. Pendek kalimatnya seperti ini; dia datang kepadaku membawa sakit dari seorang peria lalu aku menyembuhkan penyakit itu, setelah penyakit itu sembuh beberapa bulan kemudian dia kembali ke peria itu dan menitipkan penyakit yang harus aku rawat.

Hari itu seperti hari di mana aku tidak punya apa-apa, bahkan sepi pun aku sudah tidak bisa merasakan. Tanggal itu juga, di mana ritual sakral yang selalu di tunggu-tunggu pemuda, bahkan orang tua yang lupa usia—hari pernikahannya berlangsung. Waktu itu aku memutuskan untuk berjalan ke arah selatan. Menyusuri jalanan yang mungkin sudah mengetahui nasibku dan membicarakanku dengan bahasa mereka. Membawa raga yang sudah tidak ingin tahu urusan hati. Aku kehilangan pikiran. Kehilangan akal sehat. Kehilangan kewarasan yang lama aku bangun.

Jalanan yang panas menumpu kakiku yang sudah mati rasa. Bangunan-bangunan juga pohon-pohon di pinggir jalan diam tabah melihatku membawa ransel. Sampailah aku di sebuah pantai. Merayakan kesedihan di depan api. Meneteskan air mata yang menurutku itu sangat perlu sebagai bentuk bahwa aku juga merayakan perayaannya yang kini sedang mereka rayakan.

Saya rasa jika cerita itu diteruskan saya akan semakin kehilangan saya. Semakin tidak tahu saya. Dan entah ke mana saya harus mencari saya. Atau apakah tubuh ini adalah raga saya, atau, ini, emm, mungkin saya. Ah, siapa sih, saya? Dan, apakah anda sudah mengetahui diri anda?

sumber gambar: unsplash.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here