Laki-Laki Tidak Bisa Dijual

0

Dwi Lestari

Jika iklan seperti sabun, parfum, sampho, lotion, makanan, minuman, banyak ditampilkan perempuan. Kini aku memiliki asumsi, apakah laki-laki tidak bisa dijual selayaknya perempuan dalam iklan tersebut? Aku tidak tahu. Tapi, mungkin saja betul adanya. Laki-laki tidak laku diperjual belikan dalam iklan dan jenis lainnya.

Sejauh kutukan budaya patriarki masih melekat di masyarakat, di perindustrian iklan, dan bisnis lainnya. Kemungkinan laki-laki tidak akan bisa dinikmati khalayak umum dalam bentuk iklan atau jenis lainnya. Laki-laki hanya sebatas penikmat, dan tidak bisa dinikmati.

Aku mengatakan penikmat, tapi jangan lantas diartikan sebagai penikmat fisik, atau hal jorok lainnya ya gaes. Atau memang ini sudah ngomong jorok. Elohhh…, ini hanya tentang hasrat, imajinasi tok, ya. Hasrat, imajinasi itu kan tidak terbatas. Seseorang bisa mengimajinasikan dirinya dengan siapapun. Tapi seseorang tidak bisa memaksa siapapun untuk dibersamai.

Begitu pun dengan tubuh, yang sifatnya terbatas. Mungkin tubuh tidak memiliki arti apa-apa dalam hal ini. Karena di mana pun tempatnya yang namanya laki-laki dan perempuan itu, bentuk tubuhnya kurang lebih itu-itu saja, gitu-gitu saja. Namun dengan ingatan, hasrat dan imajinasi inilah seseorang bisa memiliki fantasi yang luar bisa pada seseorang.

Perempuan dalam hal ini adalah makhluk Tuhan yang mungkin selama ini yang menyumbangkan fantasi terbesar di tengah-tengah masyarakat. Bisa jadi perempuan memang  lebih laku, ketimbang laki-laki. Jika hal seperti ini menjadikan kecemburuan sosial pihak laki-laki kepada para perempuan karena laku dan tidak lakunya. Yang jelas ini terjadi bukan karena give (pemberian Tuhan), tapi ini bentukan dari budaya patriarki. Jadi kalau tidak terima kenapa laki-laki tidak laku dalam memunculkan fantasi di tengah-tengah masyarakat, itu karena patriarki. Salahkan sana patriarki, dan hancurkan sana patriaki. Biar kamu, para kaum laki-laki bisa laku terjual dalam membuat fantasi di khalayak umum.

Para perempuan, sepertinya kini sudah lelah dengan hal-hal demikian. Mungkin kini mereka juga ingin menjadi penikmat. Dan ingin pensiun dari peng-obyekan dirinya. Makanya kini mereka geram dengan iklan-iklan yang seksis dan berbagai macam kegiatan yang seksis lainnya. Kalau ditanya seksisme itu apa? Sependek yang kutahu seksisme itu sebuah prasangka yang bersifat negative terhadap kelompok lain, hanya karena perbedaan gender atau jenis kelamin. Mungkin hampir mirip dengan rasisme. Kurang lebih seperti itulah. Kalau salah, tanyakan kebenarannya ke para akademisi sana.

Iklan seksis itu, iklan yang dibuat dengan menampilkan perempuan sebagai obyek iklan. Perempuan dihadirkan sebagai pemanis iklan. Sebagai pemikiat. Makanya kadang ada iklan yang menonjol-nonjolkan ciri-ciri biologis perempuan. Itu bagian dari trik untuk memikat khalayak umum. Agar prodak yang diiklankan bisa terjual sebanyak-banyaknya.

Perempuan digunakan sebagai pemanis dalam iklan, bukan berarti perempuan di sana tidak memiliki arti, atau ada ketidak cocokan alur cerita atau fungsi, atau kegunaan dari jenis produk tersebut. Yang jelas kehadiran perempuan di sana cukup membantu pengiklan, dalam memikat khalayak dalam berfantasi dan memunculkan sexual drive.

Lantas apa hubungannya fantasi, sexual drive dengan iklan? Hubungannya adalah, ternyata masih banyak orang yang tertarik, dan memiliki minat yang besar pada iklan yang menimbulkan fantasi. Andai pun tidak tentang sexual drive, ternyataingatan itu lebih mudah mengingat hal-hal yang berkaitan dengan sexual drive.

Bahkan ada juga yang memanfaatkan kondisi ini, untuk memikat banyak massa. Andai tidak iklan prodak. Tapi iklan-iklan lainnya yang cukup kecil pun sering kali juga menggunakan trik ini. Aku sering kali melihatnya di akun media sosial. Ya, mungkin karena orang itu sudah tahu pasarannya, orang-orang di wilayah tertentu yang menyukai fantasi dengan perempuan. Makanya dibuat akun dengan gambar perempuan. Walau pun adminnya seorang laki-laki. Mungkin ini cukup menguntungkan pihak tertentu, walau pun tidak untuk perempuan. Kupikir hal demikian juga bagian dari kegiatan seksis.

Kadang aku berpikir, bertanya pada diri sendiri, dan tidak ada jawaban. Kenapa menggunakan gambar perempuan, dan ternyata adminnya laki-laki? Walau pun itu adalah gambar adiknya, ibunya, pacarnya, kakaknya, tantenya, sepupunya, neneknya, tetangga perempuannya atau siapapun itu. Mungkin benar, ini demi pasar, ini demi memikat massa sebanyak-banyaknya. Lantas setidak laku itukah lelaki, setidak menarik itukah lelaki, setidak percaya diri itukah lelaki? Hingga dia malu menunjukkan wajahnya atau dirinya?

Perempuan itu manusia, dia bukan benda. Dan yang manusia itu bukan hanya laki-laki, tapi perempuan juga manusia. Perempuan juga perlu dimanusiakan, bukan dibendakan, bukan diobyekkan secara terus menerus. Bahkan dimasif. Dalam hal ini perempuan dan laki-laki adalah sama-sama manusia. Namun karena budaya patriarki, seolah perempuan itu sah, normal dijadikan obyek dalam setiap karya laki-laki. Tanpa memikirkan sisi-sisi perempuan sebagai manusia. Bahkan bukan hanya laki-laki, tapi perempuan dengan sesama perempuan sendiri pun, masih ada yang menjadikan obyek kaumnya sendiri tanpa memikirkan aspek perempuan sebagai manusia. Ini karena budaya patriarki masih langgeng di tengah-tengah masyarakat. Bahkan yang menjadi korban bukan hanya perempuan, tapi laki-laki juga bagian dari korban budaya patriarki

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here