Cerpen Frida Kurniawati: Tujuh Kematian Rimba

0

oleh: Frida Kurniawati

Seperti apakah lara itu? Barangkali ia menitis dalam raungan Mamak saat mendapati Kemetar mati. “Oh Dewo[1], kembalikan anak kami!”

Ia cergas menjelanak ke antero Kedundung Mudo, menitahkan tangan-tangan untuk menutupi tubuh mungil Kemetar dari mata kaki hingga kepala. Ia juga yang menabahkan lengan Bapak untuk memanggul tubuhnya ke sudung[2] jauh lebih ke dalam rengkuhan hutan. Di sanalah, Kemetar akan tidur panjang. Di ribaan batang-batang kayu yang bergandengan, di bawah jalinan daun-daun kering, barangkali adik terkecilku yang masih bayi itu akan memimpikan hutan kami yang dahulu. Hutan yang lebih rapat, lebih sejuk, dan lebih ramai oleh suara langkah riang kelinci, jejak gelisah rusa, dengusan panik babi hutan, dan raungan beruang. Hutan yang dulu senantiasa murah hati, tak seperti kini, ketika kami bersyukur sangat jika saja seminggu sekali rusa kami dapati. Hutan yang belum berubah membosankan dengan hanya satu atau dua jenis pohon seragam. Hutan, tanah ulayat[3], yang tak akan membiarkan kami kelaparan.

“Apakah kelaparan ini kutukan dewo? Lantaran kita tak lagi bisa sepenuhnya menaati seloko[4]bertubuh onggok, berpisang cangko, beratap tikai, berdinding baner, melemak buah betatai, minum air dari bonggol kayu, berkambing kijang, berkerbau tenu, bersapi ruso[5]?” rintih Mamak untuk kesekian kali, berdesing-desing nyaris seperti mantra, sambil menengok ke belakang tak henti-hentinya. Tanpa sadar, aku turut menoleh ke belakang. Kemetar masih lelap dalam tidurnya.

Kulihat Bapak, temenggung[6] kelompok kami, menggeleng sepemakan sirih. “Mungkin bukan sepenuhnya karena itu. Kita tahu sendiri apa penyebabnya…”

Seperti apakah lara itu? Barangkali ia yang merapalkan energi ke dalam otot-otot kaki selama kami melangun[7] kemudian. Berjalan kaki sembari menebasi bibit-bibit kesedihan yang ditanamkan oleh kematian Kemetar di hati kami. Barangkali kesedihan tak akan pernah berhasil punah. Atau malah ia berhasil membantu menahan rasa kenyang di dinding lambung kami erat berkelindan. Hatta, ia melambungkan asa kala kerongkongan kami lebih gersang ketimbang sebatang air yang kami jumpai kerontang. Namun, yang belakangan ini kuyakini, kesedihanlah yang mengukir parit-parit di wajah Bapak. Pun ia yang melukis lembah hitam di bawah mata Mamak.

Ini adalah kematian ketujuh baru-baru ini.

“Hutan kini tak lagi cukup memenuhi kebutuhan hidup kita…,” bisik Mamak.

***

Malam tadi aku berbaring di atas lantai kayu, di dalam salah satu kamar rumah penampungan yang dimiliki oleh orang-orang yang peduli dengan nasib kami. Letaknya di Desa Bukit Suban, sekitar dua jam dari sesudungon kami di Kedundung Mudo. Kemarin, begitu tiba, kami disambut dengan raut-raut seperti ketika aku menemukan pohon rambutan penuh buah bergelantungan di tengah hutan seminggu yang lalu. Itulah pohon rambutan penuh buah pertama yang kami jumpai. Pun sejak pagi sampai matahari membelai ubun-ubun bumi hari itu, belum kami dapati sungai yang berair. Oh, bisa kusesap rasa manis bercampur sedikit masam yang terperam dalam belitan daging buah.

Seperti apakah lara itu? Barangkali ia berbentuk seperti rindu yang serabut-serabutnya menjalari sekujur wajah dan semalaman menahan mata tetap terbuka. Rindu pada kedalaman hutan, rumah kami yang sesungguh-sungguhnya. Di sini aku juga tidur beralas kayu, seperti sudung kami di tengah hutan. Namun, di atasku atap seng membayang, bukan atap daun serdang benal. Bahkan, tak jarang aku tidur di atas tanah beratap langit berbintang di sela-sela pepohonan. Pun, meski sama-sama berbentuk rumah panggung, sudung kami jauh lebih kecil dibandingkan rumah penampungan ini. Tadi malam tak ada suara mesin yang mengecupi satu per satu tubuh jernang[8] dan sialang[9] sebelum memenggalnya mati, pun tak ada suara tembakan gentayangan, tapi kesadaranku tak lekas diisap renyap. Malah, sulur-sulur ingatanku membelit masa bertahun-tahun yang lalu.

***

Siang itu, aku mengintip dari balik tubuh jenjang pohon rumbai[10]. Berpuluh langkah dari area sesudungon[11], Bapak dan wakil temenggung mendatangi tiga orang luar yang sedang melihat-lihat pohon jernang dan sialang di sekitar sesudungon. Salah satu dari mereka tengah membelitkan untaian pita panjang ke tubuh pohon sialang. Sebenarnya, sudah beberapa hari ini mereka datang ke sini, tapi tak mengucap permisi pada kami.

“Apakah yang sedang kalian lakukan itu?” tegur Bapak.

Salah satu yang sedang berdiri sambil merokok menoleh, lalu membuang rokoknya ke tanah dan menginjak-injaknya. Kuperhatikan pandangan Bapak memicing ke semburat asap yang masih tersisa di ujung batang rokok itu.

Orang itu lantas tersenyum. “Ah, ini, Pak, kami peneliti flora yang sedang mendata seluruh jenis flora yang ada di daerah ini. Wah, sungguh kaya hutan ini, ya, Pak. Contohnya saja pohon ____ ini, si penghasil kayu.” Aku tidak bisa menangkap dengan jelas nama asing dan panjang yang ia gunakan untuk menyebut sialang, tapi di otakku terpatri jelas senyum melengkung lelaki itu.

Malam harinya, terdengar suara bising dari arah belakang, cukup dekat dengan sesudungon. Kami semua terbangun. Bapak dan para lelaki dewasa dari kelompok kami mencari arah suara itu. Aku berlari ke luar, tapi Mamak menarik tanganku dan menyuruhku menunggu. Waktu melambai-lambai sebelum jatuh dan kemudian serentetan teriakan beradu.

“Ssst…, ssst…” Kudengar Mamak berdesis-desis di telingaku.

Desingan mesin yang tercecer di udara tiba-tiba sirna. Aku menahan napas. Teriakan-teriakan terdengar kembali, makin keras. Sejurus kemudian suara tembakan menggetarkan dedaunan, mencubit malam hingga lebam. Malam itu, wakil temenggung tewas, batok kepalanya tertembus peluru. Itulah kematian pertama.

Seperti apakah lara itu? Barangkali seperti ketika aku berdiri memandangi pohon-pohon jernang dan sialang bertumbangan. Banyak sekali. Mulutku terkatup rapat hingga dua baris pasukan gigiku saling menghantam. Bagi kami, Orang Rimba, setiap tanaman punya makna tersendiri. Tak ada yang boleh menebang sembarangan, atau sanksi adat dan dewa akan melaknat. Siulan-siulan lirih bersahutan memerangkap lesatan pandang. Segerombol burung balam dan murai batu terdiam di tanah, di sekitar gelondongan batang pohon. Sama sepertiku, mereka menatap pilu matinya rumah hidup mereka. Itulah kematian kedua.

***

Pagi ini aku makan sepiring sayur dan nasi. Aku bahkan tak ingat kapan terakhir kali sebelum ini makan nasi. Rasanya sudah lama sekali kelompok kami tak lagi berladang padi. Kata Bapak, kami tak bisa lagi berladang sejak wilayah hutan perawan digagahi mesin-mesin. Pohon-pohon bertumbangan, pun semak belukar mencecap ajal. Tak pernah kulihat hutan kami setelanjang itu sebelumnya. Sekejap kemudian, tampak calon-calon pohon berdiri, berbaris rapi. Di tahun yang sama dengan kelahiran Kemetar, pohon-pohon kelapa sawit itu telah mencuat, memerangkap sesudungon dari segala penjuru.

***

Sejak hutan tak lagi sama, burung-burung tak seriuh sedia kala. Pun tupai, kelinci, rusa, dan ayam hutan jarang kelihatan. Seminggu sekali saja kami berhasil menangkap rusa, Bapak akan merapalkan mantra-mantra mengucap syukur kepada dewa. Belakangan, musim kemarau mengisap nyaris semua urat sungai di dalam hutan. Buah-buahan sudah jarang kami temukan. Saat itu, kami masih dalam masa melangun setelah peristiwa tewasnya wakil temenggung. Sudah seminggu rombongan kami hanya bertahan dengan daging masam manggis, cempedak, rambutan, dan jarang sekali durian. Seminggu yang lalu, salah seorang sanak meninggal. Menyusul dua hari kemudian, sanak yang lain. Dan kemarin, salah seorang ibu hamil juga meninggal. Semua sudah pasti karena kelaparan. Itulah kematian ketiga, keempat, dan kelima.

Malam itu, kami tidur di sudung sederhana. Bunyi perut keroncongan mengantarkanku ke tepi tebing kesadaran.

Bepok! Bepok![12]” bisik kakak tertuaku memanggil Bapak, juga menarikku dari mimpi indah di mana aku sedang makan daging babi hutan dan ubi. Yang dipanggil langsung bangkit dari tidur, tangan kanannya mencengkeram parang di balik pinggang.

“Ada apa, Njalo?”

Dewo macan,” desisnya.

Aku turut bangkit dan mengikuti arah pandang mereka. Seekor harimau Sumatra melintas pelan-pelan beberapa langkah dari sudung kami. Cahaya pucat bulan mengelus loreng-lorengnya.

“Mungkin ini berkah dari dewa, Pak. Ingatlah, sudah berapa lama kita kelaparan. Kondisi ini sangat tak baik, terutama untuk anak-anak yang rentan sakit. Kita tak ingin kehilangan semakin banyak anggota rombongan. Bukan begitu, Pak? Dalam seminggu ini saja, tiga orang sudah tiada,” ujar kakakku lirih.

Ini bukan kali pertama aku berjumpa harimau Sumatra, tapi ini kali pertama aku merasa amat gentar dibuatnya. Entah bagaimana persisnya persepakatan itu terjadi. Aku melihat kakak tertuaku mengambil sesuatu dari tanah, kemudian ia melompat ke arah si harimau dan menusukkan tombak ke bagian perutnya.

“Graaauuuuumm!” Erangan si macan menampar-nampar langit malam. Itulah kematian keenam.

Beberapa jam kemudian, api menyala di depan sudung. Daging harimau repih kehitaman mendesis-desis di atasnya. Malam itu, pertama kalinya aku makan daging harimau, salah satu hewan yang kami hormati dan percayai sebagai obat penyembuh yang luar biasa, sehingga kami memanggilnya dewo macan.

Seperti apakah lara itu? Barangkali ialah yang merasuki Mamak malam itu. Sepanjang api meliuk-liuk, aku tak bisa melepaskan pandang dari wanita yang melahirkanku itu, sebab ia mengerkah sepotong daging macan sambil bercucuran air mata.

***

“Tahukah kau? Kebakaran hutan kembali menggeliat di banyak titik. Kemungkinan besar, peristiwa tahun lalu akan kembali terjadi.”

Aku mendongak dari kertas gambarku di atas lantai kayu. Itu suara Kak Dian, gadis berambut hitam sebahu dengan bola mata yang lebih kelam lagi, tapi selalu bersinar ramah. Selama tinggal di rumah penampungan, aku dan para pemuda serta pemudi lainnya mendapatkan pendidikan dasar dari kakak-kakak sukarelawan, salah satunya Kak Dian. Kini, aku sudah bisa membaca, menulis, dan berhitung, juga menggambar dan membuat beragam bentuk dari kertas warna-warni.

Melihatku balas menatapnya dengan pandang penuh tanya, ia meneruskan, “Aku memberitahumu karena selama ini aku mengamati bahwa kebanyakan lukisanmu menggambarkan hutan, tempat tinggalmu, tapi kau jarang menggunakan pensil warna hijau. Paling sering kau menggunakan cokelat, hitam, dan abu-abu. Aku berpikir, mungkin kau ingin berbuat sesuatu.”

Segenggam ingatan jatuh berdebam di pangkuan.

“Itulah kenangan terakhirku akan hutan.”

***

Lima belas hari melangun telah kami jalani. Mungkin butuh waktu bertahun-tahun hingga kami bisa melupakan kesedihan akibat ketujuh kematian itu. Siang terkembang begitu dekat di atas kepala lantaran tangan-tangan kanopi pepohonan tak bergandengan seerat sebelumnya. Aku sedang berada di atas pohon, memetik buah duku. Kuicip sebuah, kemudian bijinya kusimpan. Sejak pertama kali berangkat melangun, aku gemar mengumpulkan bebijian. Mungkin suatu saat mereka akan dibutuhkan. Gerakanku memetik duku terhenti oleh sejumput bau daun dan ranting terbakar yang menaburi udara. Suara kepak sayap burung tiba-tiba likat di telinga.

“Meriau, kemaii[13]!” Suara Mamak nyaring memanggilku.

Aoh![14]” balasku, berteriak pula. Bagai main perosotan, beberapa saat kemudian aku telah meloncat ke atas permukaan tanah. Dari arah depan, Mamak, Bapak, dan anggota lain rombongan berlari ke arahku.

“Ayo, cepat kita pergi dari sini! Hutan terbakar, sebentar lagi asapnya pasti akan mengimpit kita!” ujar Bapak, menarik lenganku. Kami berlari, beberapa wanita dengan menggendong bayinya, dan aku menggendong tas selempang berisi harapan. Ratusan langkah kami telah melukiskan jejak pada hamparan serasah. Pada bonggol akar yang terduduk resah. Pada lambaian daun serta juluran ranting yang hampir patah. Pada asap yang menjelanak dengan senyap, yang tiba-tiba menyergap kami dari segala arah. Ujung jari kabut abu itu menyentuh mataku, mencocok lubang hidungku, dan membekap mulutku. Batuk-batuk terlontar dari mulutku. Tak lama kemudian ia terlontar bersahut-sahutan dari mulut semua orang, meningkahi bunyi kicauan panik burung-burung, dan cericitan para hewan kecil. Asap memekat, mengaburkan sosok Mamak yang mengibaskan selendangnya ke sekitar anak-anaknya. Lantas aku juga mendengar suara kain dikoyak. Selangkah kemudian, dari belakang tangan Mamak menutupkan potongan kain itu ke hidung dan mulutku.

“Ayo, cepat! Kita sudah dekat!” teriak Bapak, diikuti suara batuk dan tarikan napas berderak.

***

Seperti apakah harapan itu? Aku yakin, ia mengambil rupa bibit-bibit pohon damar, rumbai, jernang, sialang, duku, rambutan, dan cempedak, yang berdiri berderet-deret di dalam plastik hitam di halaman rumah penampungan. Mereka tampak begitu hidup dengan daun-daun mungil hijau segar dan batang pohon yang senantiasa bertambah besar.

“Mari kita pergi,” ujarku sambil tersenyum pada Kak Dian dan para sukarelawan lain yang hendak masuk ke hutan untuk memadamkan api. Dan menanam harapan.[]

Frida Kurniawati, seseorang yang menulis demi menjaga dirinya tetap cukup waras untuk menjadi gila—dan sebaliknya. Bekerja di LAPAN, tapi menemukan dirinya lebih tertarik mempelajari gender daripada roket. Salah satu bukunya; “Akan Kau Kenang Sebagai Apa Aku Nanti” (Laksana, 2018) dan menerjemahkan “Pengakuan” (Basabasi, 2018). Email: kimririn93@yamail.com


[1] Dewa

[2] Pondok

[3] Tanah adat

[4] Seloka

[5] Kurang lebih bisa diartikan bahwa Orang Rimba sehari-hari hidup tanpa baju, kecuali cawat untuk menutup kemaluan, tinggal di rumah beratap rumbia, berdinding kayu, makan buah-buahan dari hutan, minum air sungai dengan bonggol kayu, tidak makan hewan ternak, tetapi kijang, ayam hutan, dan rusa.

[6] Jabatan tertinggi dalam suatu kelompok Orang Rimba.

[7] Kegiatan mengembara mencari tempat tinggal baru jika ada anggota keluarga yang meninggal dunia, untuk melupakan kesedihan.

[8] Salah satu jenis rotan.

[9] Sering disebut juga “sialong”, sejenis pohon kayu kruing.

[10] Pohon meranti.

[11] Pemukiman untuk satu kesatuan sosial, berupa pondok-pondok yang berdekatan.

[12] Bapak! Bapak!

[13] Kemari!

[14] Iya!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here