Kidung Wahyu Kolosebo, M. Jakfar Shodiq (Caleg DPR RI PPP Dapil Jogja No.07) dan Kebrutalan Gus Sugi Nur

0
M. Jakfar Shodiq
M. Jakfar Shodiq

‘Judul tulisan ini aneh, rumit dan absurd,’ begitu mungkin yang pembaca pikirkan saat mengintip judul tulisan di atas. Saya pun berfikir hal yang sama, jadi tenanglah kita ini sefaham. Tapi apa daya, memang begitulah adanya, isi tulisan ini akan memabahas tiga tema pokok dalam susunan kalimat tersebut. Jadi begini para Cebongers dan Kempreters, eh maaf becanda, saya ulang ya?

Jadi begini sahabat-sahabati yang budiman, sebelum memiliki tekat kuat untuk menulis esai ini, saya terlebih dahulu secara tidak sengaja membaca status Whatsaap (WA) seorang sahabat baik. Siapa dia? Iya betul, namanya adalah M. Jakfar Shodiq, seorang pria bertubuh tambun—untuk tidak mengatakan dia gendut—, tegap dan gagah—sebenarnya dia memang gemuk—serta memiliki warna kulit hitam manis—iya, beda banget lah sama di bener-bener kampanyenya. Dan memang begitulah dunia politik, eh pemilu; citra diri menjadi penting walaupun bukan yang utama. Lalu, apa yang utama? Jumlah suara toh ya, masak visi-misi, integritas dan kapasitas, huft… itu politik jaman old sayang.

Tapi tenang saudara-saudara, saya tidak hendak melakukan black campaign atas situasi pemilu hari ini. Tepatnya, hanya akan bertindak sebagai seorang teman dari salah satu Caleg muda, cerdas, berbakat dan progressif, walaupun mungkin tidak revolusioner—kan yang taglinenya ada ‘revolusi-revolusinya’ mudah dituduh PKI, jadi harap maklum, ini semata karena basis (kesadaran) masa belum siap—. Kalau boleh cerita, teman saya itu sejak kuliyah memang sudah mengabdikan diri pada masyarakat, maksudnya adalah masyarakat kampus alias mahasiswa. Ia sempat menjabat ketua BEM di Jurusan Bahasa Arab dan lalu mengetuai Ikatan Mahasaiswa Jurusan Bahasa Arab se-Indonesia. Jadi wajar, jika hajatnya berpolotik (nyaleg) mungkin sudah merupakan kehendak Ilahi.

‘Heh Cuma ketua BEM? Yang benar saja Bro, ini negara bukan kampus,’ nah begitukan pikiranmu?

Jangan under estimate dulu lah kawan. Itu dulu, kamu gak tau kan?, setelah dia lulus ngapain?

‘Nikah…?’

Salah, bagaiaman ia sanggup menikah, jika rakyat masih menderita?—ini aku agak lebay sih. Ya walaupun memang ada salah satu tokoh pendiri republik ini yang berfikir demikian; konon ia bersumpah “belum akan menikah, sebelum Indonesia merdeka”. Benar, dialah Muhammad Hatta, seorang negarawan yang lebih mirip aku ketimbang Jakfar.

‘Hah, kamu belum akan menikah sebelum rakyat sejahtera?’

Nggak, aku belum akan menikah sebelum dapat jodoh, dasar kamu lebay. Tapi kalau Jakfar akan segara menikah kok, nanti setelah jadi anggota Dewan, kalau gak sama Jihan Audy ya sama Tasya Rosmala. Jadi nitizen santai saja, jangan biasakan membully Caleg jomblo, apalagi Capres jombl*, tuh kan keceplosan.

Baik kembali ke aktivitas Jakfar usai kuliah. Didasarkan pada kesaksian Si Mbok penjual pecel depan Ambarukmo Plaza, saat wawancara dalam mimpi, Jakfar ini adalah pribadi mandiri dan pekerja keras, ia juga merupakan pembelajar tangguh. Layaknya kisah hidup dalam realitiy show  TV swasta nasional yang digandrungi adek-adek mahasiswa baru pegiat MLM, seperti itulah kehidupan Jakfar.

Walaupun tidak terlahir miskin, ia sering kali mengupayakan mencukupi kebutuhan hidup dari keringat sendiri. Saya mencatat, ada dua usaha kecil-kecilan–dan tidak beranjak besar karena gulung tikar–yang digelutinya, yaitu jualan cemilan dengan dititipkan di Burjo (Warmindo) dan Kafe dan jualan roti bakar di pinggir jalan. Keduanya dikerjakan sembari menempuh S2, jadi saya ralat ya, usai kuliah maksudnya lulus S1.

‘Nah setelah lulus S2 ngapain?’

Pertanyaan ini cerdas. Setelah lulus S2 itulah aktivitas jakfar mulai merepresentasikan dirinya yang lebih utuh. Walaupun bukan Cu Patkai (pengagum Cang Er), dia berkembang menjadi seorang pembelajar tangguh.

‘Nggak kerja?’

Ya kan bisa kerja sambil belajar. Dia itu sepenuh hati ikut mengabdikan diri pada dunia pendidikan, terutama bagi masyarakat pelosok—bukan tertinggal, sebab diskursus semacam ini lahir dari sistem kapitalisme liberal—dan terluar—jauh dari pusat kekuasaan–, soal dapat uang saku itu berkahlah ya. Kamu bennar dia ikut program Indonesia mengajar yang diinisiasi bapak Gubernur Jakarta, Anis Baswedan—alhdulillah, semenjak beliau jadi Gubernur, Jakarta belum kena banjir, kita doakan ya? ‘doakan banjir?’ bukahlah.

Sudah kebayang kan kalau dari situ saja, Mas Jakfar ini punya segudang pengalaman hidup bersama masyarakat, mengajar anak-anak dan membaur. Soal Indonesia mengajar cukup ya?

‘Kok namanya “Indonesia Mengajar” sih, kan arogan banget itu, sok pintar aja mereka itu mau ngajari orang’. Itu pendapatmu dan tidak masuk tema esai ini, tapi soal sok pintar akan kita bahas kok, sabar ya.

‘Nah sejak kapan Jakfar mengenal politik praktis?’

Sejak ijazah Magisternya keluar dan merampungkan kontrak di Indonesia Mengajar. Punya modal bagus, pemuda yang kalau tidur ngorok itu langsung melamar di Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Disana ia dipertugaskan sebagai Tenaga Ahli (TA) anggota dewan di salah satu Fraksi. Nah terangkan sekarang? Kalau urusan legislasi dan regulasi Jakfar ini khatam. Jadi jangan ragu kalau mau pilih mas Jakfar.

Bagi saya pribadi, ia memang layak dan memenuhi syarat untuk menduduki kursi Dewan. Sebab sebagi Caleg muda, ia termasuk yang memiliki gagasan dan tidak sekedar jualan tampang—‘kan gak laku kalau itu yang dijual’–. Gagasan-gasannya itu, selain tertuang dalam jilitan sekripsi dan tesis, juga termaktub dalam 2 judul yang telah beredar di toko-toko.

Saya lupa judul bukunya apa, tadi tak tanya lewat WA juga belum dibalas. Tapi seingat saya, tema dalam buku itu berkaitan dengan ubudyah (ibadah) sholat dan juga jalan sufi. Dalam tema buku itu, saya tidak hendak komentar, karena ia memang punya otoritas menulisnya. Pertama, karena dia suka membaca buku dengan tema mistik. Kedua, dia adalah santri yang mondok dari usia 10 tahun sampai kuliyah, belum lagi ngitung mondok di PMII. Lengkaplah sudah kesantriannya.

Nahkan, malah jadi jurkamnya Jakfar Shodiq. Saya hampir lupa mengulas satatus WA yang ditulis pemuda Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu. Betul, ia menulis soal Gus Sugi Nur. Hampir tidak pernah saya menulis panjang hanya karena membaca status orang. Jadi ini murni karena Jakfar. Bagi saya aneh, seorang berkepribadian lembut, tiba-tiba menulis dan mengomentari tindakan orang lain dengan nada sinis.

‘Kan ada motif politik Mas?’

Kamu itu lo negative thinking. Cobalah tengok ceramah-ceramah Gus Sugi Nur, disitu kamu akan tau, betapa rumitnya mengenali kebijksanaan dalam kata-katanya. Ia lebih terlihat sebagai seorang pembenci ketimbang orang yang berilmu.

‘Nah bukakah itu kritik? Setiap kritik dimaksudkan untuk kebaikan bukan?’

Harusnya begitu. Temen-temen saya yang suka demo dulu, bicaranya juga lantang dan kadang amoral, tetapi mereka selalu punya landasan dan mampu merasionalisasi atas situasi yang dicemooh itu. Hal ini berbeda dengan Sugi Nur, ia bahkan tak menyajikan apupun selain umpatan dan kutukan.

‘Berarti cari popularitas dong?’

Saya tidak tau, hanya Sugi dan Allah yang tau. Tetapi mari kita ulas agak lebih serius soal kritik jakfar itu. Pada poinnya, setatus Jakfar itu berkaitan dengan politik dan kesalahan dalil Sugi Nur. Politik, maksudnya dalam ceramah tersebut ia menghujad pendukung salah satu calon, lalu ada ibu-ibu yang tidak terima dan mengkritik balik Sugi. Nah upaya menghalau kritik itu, Sugi—sebagaimana beberapa ustad salon—mengeluarkan jurus andalan dengan mengutip dalil al-Quran. Sayangnya, dalil yang dikutip salah dalam penyebutan surat dan ayat. Begitulah pemahaman saya atas kritik Jakfar pada Sugi Nur.

Kedua hal itu saya fikir sudah rampung di kritik singkat Jakfar  dalam status WA. Ditulisan ini saya justru tertarik mengulas soal budaya halqoh/pengajian dan diskusi masyarakat kita hari. Alih-alih hendak memberikan pengetahuan dan mencerahkan fikiran, seringkali kita tidak bijak menyikapi pandangan orang lain.

Sebagai contoh seperti yang terlihat dalam video yang viral iru, Ibu-ibu yang ingin berpendapat justru dipaksa untuk bertanya. Suasana dan kebiasan demikian juga sering saya jumpai di ruang kelas, seminar dll, dimana mereka yang datang dalam forum diskusi sebagai peserta seringkali direndahkan oleh moderator. Mereka disuruh bertanya dan bukan berpendapat. Bagi saya forum semacam ini nista, arogan dan kejam bagi indahnya ilmu pengetahuan.

‘Loh Mas, kamu kok mencela? Mirip Sugi aja.’

Astagfirullah haladzin… Oh iya maaf saya emosi. Ok, biar beda saya beri penjelasannya ya? Semoga tidak salah kutib ayat. Jadi begini sahab-sabati yang budiman;

Soal belajar dan mengajar yang bijak, saya teringat dengan dua orang, yaitu Socrates dan Konfusius. Ketiganya selalu memberikan ruang pada kebenaran orang lain.

Socrates misalnya, ia dikenal sebagai Filosof yang cerewet, bukan saja cerewet menjawab pertanyaan orang, tetapi cerewet menanyakan pendapat orang. Bagi Socrates setiap orang dapat menemukan kebijaksanaan diri dari pemikirannya sendiri. Ia hanya bertindak sebagai pemandu bukan penuntun.

Senada dengan Scrotes—dengan caranya sendiri–, Konfusiuspun demikian. Baginya, mengajar adalah belajar dan sumber penegetahuan tak terbatas.

‘Nah nabi Muhammad gak begitu Mas?’

Ya begitu juga. Bayangkan, nabi itu orang yang dijamin masuk surga, tapi soal bertani ya ikut senior kok.

‘Mas Jakfar ikut senior gak Mas?’

Pertanyaanmu aneh.

Analisis Tidak Serius Atas Tiga Tema Pokok

Walaupun layak, saya fikir Jakfar ini lebih cocok jadi Kyai ketimbang anggota Dewan. Tapi gak papa lah kan negara demokrasi, jadi siapapun boleh menjadi apa, keculai menjadi Tuhan bagi sesama. Ya siapa tau dia membidangi urusan keagamaan, jadi sambil menyelam bisa main bawah meja, eh minum air. Kan pas juga toh, orang-orang semacam Gus Sugi Nur ini juga biar bisa segera dikondisikian.

‘Lah kok Kidung Wahyu Kolosebo gak dibahas?’

Itu hanya pemanis judul saja, kalau pengen tau soal kidung wahyu kolosebo tinggal googling saja, sudah banyak ulasannya. Jujur ya, judul lagu itu masuk dalam penjudulan tulisan ini karena hal sederhana; pas nulis essai ini aku sambil denger lagu itu dalam versi reggae.

Oh iya, maaf. Ekspektasimu membaca judul tulisan ini terlalu tinggi dan naif. Jadi wajar, usai memabaca kalimat ini dadamu pasti akan terasa sesak. Maka mengumpatlah, sebab saya yakin kamu adalah pribadi yang baik.

Untuk M. Jakfar Shodiq sahabatku, apabila ada celaan dalam esai ini yang menyakiti hatimu, ruatlah ia sebaik mungkin agar menjadi dendam yang membakar amarahmu untuk menulis esai balasan. Sebagaimana kata Cak Sayuri “sebaik-baik intrikan adalah yang ditulis panjang lebar” hahaha, … Terakhir saya ingin membuat pengakuan; ditulisan inilah saya sebagai Caleg 2024 merasa menang sebelum tanggal 17 April 2019. Selamat berjuang sahabatku, saya doakan semoga melalui tulisan ini gambar wajahnya menyebar dan dibully dimana-mana, terutama di jogja dan sekitarnya. Lumayan kan hemat ongkos cetak benner, Hehe,…[Mbah Takrib]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here