Gadis Pemuja Senja

0

Cerpen Endri Maeda

Dua orang tua duduk di pinggir dermaga menunggu umpannya disambar ikan. Seorang kakek tua membawa karung berisi rosokan bergegas menuju pulang. Dari jendela loket, terlihat dua bocah berlari membawa dua topi mereka masing-masing, yang satu berwarna hijau dan yang satunya berwarna merah pucat. Di bawah beranda senja yang jingga, terlihat sekelompok nelayan berjalan menuju pulang membawa ikan hasil tangkapannya. Dua gazebo tenang menunggu pengunjung menduduki. Sebuah dermaga yang malang, dengan kenangan yang tenang, seorang gadis berdiri seperti sedang memuja senja. Sedangkan di ujung loket para penjaga mempersiapkan diri untuk pulang, tempat wisata akan segera tutup. Dermaga Majapahit yang malang.

Orang-orang menjulukinya gadis pemuja senja. Ia akan datang ketika senja tiba dari perjalanannya. Dengan seikat bunga yang layu di tangannya, wanita itu akan berdiri di ujung dermaga menghadap senja. Mungkin dia wanita yang penuh luka. Atau, bisa saja ada yang terjadi pada kejiwaannya. Tapi percayalah, wanita itu begitu cantik.

Dia adalah gadis yang setiap harin melakukan rutinitas itu. Di sebuah dermaga yang kini telah menjadi tempat wisata. Dia selalu datang sendirian. Tepatnya, orang-orang mengatakan dia datang bersama senja.

“Gadis itu belum juga selesai memuja senja, padahal langit sudah mulai gelap,” Kata seorang nelayan.

Sore ini kebetulan air laut sedang pasang. Angin bertiup kencang. Ombak menghantam tembok karang seperti orang kesetanan. Perahu-perahu nelayan terombang-ambing. Beberapa pohon menahan angin seperti ingin tumbang. Wanita itu masih berdiri di pinggir dermaga. Ujung celananya basah terkena air yang berhasil mencapai tembok karang dermaga. Rambutnya menari-nari bebas. Wanita itu tersenyum, mengarahkan wajahnya ke ujung tenggelamnya matahari.

Malam telah tiba. Seperti biasa, tanpa di ketahui seorang pun gadis itu sudah tidak ada di ujung dermaga. Ombak kembali tenang. Angin berhembus teratur. Pohon-pohon tidur kelelahan. Beberapa penjaga dengan sorotnya mengelilingi dermaga yang sedang istirahat dari pengunjung.

“Apakah kau pernah bicara dengan wanita yang setiap hari di ujung dermaga itu?” tanya penjaga kepada temannya.

“Waktu itu, angin begitu kencang. Keadaan sedang tidak baik. Aku menghampiri wanita itu. Memang, beberapa orang mencegahku, katannya, aku akan percuma saja, dia tidak akan mau berbicara denganku. Tapi apa boleh buat, aku menghampiri wanita itu.”

“Lalu, apakah gadis itu mau berbicara denganmu?”

“Tidak. Tidak ada yang ia katakan. Perempuan itu pergi meninggalkanku tanpa meninggalkan sepatah kata pun.”

Keesokan hari tepat hari minggu dermaga Majapahit yang kini telah menjadi tempat wisata itu kebak pengunjung dari berbagai pelosok desa. Dari yang begitu muda sampai orang tua. Entah, tidak seperti minggu-minggu lalu. Kini tempat wisata begitu ramai. Anak-anak kecil berlarian kesana kemari. Pemuda-pemudi saling bergandengan memupuk asmara. Orang-orang tua duduk di sebuah gazebo menggenang masa mudanya. Beberapa ibu kualahan menahan anak-anak mereka yang terus berlari. Beberapa anak ada yang menangis, menangis di pangkuan ibunya, di pangkuan bapaknya, ada juga yang tersendu-sendu sambil membawa jajanan di tangannya. Di ujung loket, terlihat seorang lelaki bersama istri dan kedua anaknya tidak diperbolehkan masuk. Entah apa masalah mereka, yang jelas, beberapa pengawas wisata mencurigai barang bawaan mereka.

Suasana sangatlah ramai. Para pedagang minuman, cemilan, rokok, kacang, kuaci, permen dan lain sebagainya terlihat di setiap sudut. Pedagang yang kehabisan barang dagangannya tidak langsung pulang, itu sama saja kerugian besar kalau itu mereka lakukan. Mereka akan pulang sebentar untuk mengambil dagangannya lalu kembali lagi berjualan. Dari perahu nelayan terlihat dermaga seperti akan tenggelam.

Senja sebentar lagi akan datang dari perjalanannya. Orang-orang sudah tidak terlihat mondar-mandir seperti dua jam yang lalu. Yang tidak kebagian tempat duduk sengaja membeli koran untuk dibuat tempat duduk. Ada yang sengaja membawa tikar dari rumah. Yang tidak membawa tikar dan kehabisan koran terpaksa duduk di atas alas kaki masing-masing.

Suasana menjadi lebih tenang. Suara-suara memelan. Tidak ada anak kecil yang menangis. Semua anak kecil duduk manis bersama keluarganya masing-masing. Para pedagang asongan menaruh dagangannya lalu duduk seperti yang lain.

“Bolehkah aku menjadi senja, Kasih?” tanya seorang lelaki kepada kekasihnya.

“Ya, setelah itu aku akan mengunjungimu di setiap sore yang jingga di pantai ini,” jawabnya sambil tersenyum melihat mata kekasihnya.

Senja datang bersama gadis pemuja senja. Gadis itu berjalan tenang membawa bunga di tangannya menuju ujung dermaga. Kini semua orang diam. Ombak begitu tenang, angin berhembus membuat daun-daun menari seperti mendengar sebuah musik. Para nelayan memarkir perahu mereka lalu duduk di atasnya. Terlihat sepasang kekasih yang sudah tua menghampiri gadis pemuja senja lalu memberikan seikat bunga. Gadis itu tersenyum, melanjutkan langkahnya yang semakin tenang. Dari kejauhan, terlihat anak kecil berlari membawa seikat bunga dan menghampiri gadis itu lalu memberikan bunganya juga.

Senja terlihat jingga sempurna. Gadis itu berdiri tepat di ujung dermaga menghadap senja. Beberapa saat kemudian dua orang datang menghampirinya. Orang itu tidak kebetulan, mereka sudah di minta oleh gadis pemuja senja untuk melanjutkan pernikahannya bersama kekasihnya yang sudah lama menghilang. Gadis itu percaya, kekasihnya tidak mati. Sore itu juga pernikahan gadis itu dengan senja harus segera dilakukan.

sumber gambar;
https://pxhere.com/id/photo/801460

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here