Puisi Astarajingga Asmasubarata; KAMAR NOMOR 1965

0

MENEPI KE TEGOWANU

Panjangkan pandangmu
Di jembatan rawa Tegowanu
Tunggulah, sunyi akan bergetar
Dan bau anyir itu

Tercium juga di hidung yang radang
Tentu tak ada rumpun kembang
Hanya rumput kering
Terbakar terik matahari, meski

Pada kegersangan itu kau dengar juga
Jerit kengerian yang merah
Apa yang menyembul di benakmu

Dari 52 tahun sejarah kelam
Adalah rahasia terpendam
Yang sengaja diluputkan
Dan diabaikan sebuah Buku Hitam

Pada seantero pandang
Di parit kumuh itu kau dengar juga
Luapan harapan untuk ditemukan
Bukan sebagai korban
Hanya secuil ingatan

Sebuah bangsa yang beranjak dewasa
Yang hendak kau akrabi kini

(sorowajan, 2018)

KAMAR NOMOR 1965

Setelah larik pertama
Aku bertahan menunggu
Sebuah pintu terbuka
Membawa sabda biru
Dan kesuwungan yang samar

Dalam pejam mata
Menyala di luar cahaya

Kemudian kusepuhkan
Bunga Harum dari Bukit Duri
Di antara bait-baitnya
Yang basah dan dingin

Kutuk sejarah segetir biji mahoni
Aku telan sebagai konvensi —
Mengerang di luar sajak ini

(sorowajan, 2018)

ANNO 1998

Di matamu kudengar jerit tertahan saat jemarimu yang lentik
Gemetar membuka halaman-halaman bisu buku sejarah itu
Ingatanmu menjelma ruang yang memantulkan raung

Dari bau hangus rumah dibakar dan jenazah menggelepar
Bekas luka di sekujur tubuhmu fasih berkisah tentang tangis
Juga merahnya darah dari sela lipatan kelaminmu yang memar

Dan pada diam pungkasan kulihat nyeri sesuatu yang kudus
Menyaru dendam yang berangsur luruh saat melunaskan maaf

1998 adalah kerlap-kerlip lampion di sebuah kuil tua terpencil
Tetap gigih menyala menolak dipadamkan oleh angin —
Nyala itu menari-nari dalam ingatanmu yang biru lagi dingin —

Sedang dari pejam matamu tak kutemukan tafsir lain atas
Sesak yang pelan-pelan menyeruak di dada seperti ombak
Merobek lambung kapal — karam, sesekali berlayar dan singgah
Dalam mimpi negeriku yang sedih dan berlumur darah

(sorowajan, 2018)

JALAN SETAPAK MENUJU RUMAHMU,

SEBUAH JEJAK

Jalan setapak menuju rumahmu masih mengenalku
Sebuah jejak menginjak guguran daun jati. Di ujung
Tikungan itu sebuah gubuk masih khusyuk menemani

Para petani yang sejenak menghindari terik tengah hari
Kapuk-kapuk yang beterbangan di udara seakan menyapa
Dan memahami sunyi yang akan kupersembahkan

Untukmu sebelum rembang petang tiba. Kuharap tak ada
Haru saat mengusap gurat namamu di bilah batu
Aku datang bukan untuk mengukur rindu yang mewaktu
Bukan pula untuk belajar kebajikan pada serakan kamboja

Di pelataran rumahmu yang membuat mataku berbicara:
Jika cinta senantiasa abai pada jarak, aku adalah lumut

Di luar musim yang melekati gurat namamu di bilah batu;
Betapa nonsens, di sini kefanaan tak punya penghabisan

(sorowajan, 2018)

PADA AMPAS JERUK PERAS ITU

Pada ampas jeruk peras itu
Aku mengenali nasibku;

Diseduh dengan dua sendok gula
Plus tambahan es batu

Di saat cuaca panas
Dari tenggorokan si Haus

Aku seolah mendengar gemericik
Sungai di kampung halaman

Yang ramai tawa anak-anak
Juga lalu-lalang penambang pasir

Hari ke hari adalah pisau waktu
Irisan demi irisan riwayatku:

Nasib baik atau nasib buruk
Diterima dengan sabar yang sama
Sebagaimana petuah orang bijak

Tapi ampas jeruk peras
Warnanya mengingatkan aku

Sepulang berenang di sungai sore itu
Ada bendera kuning ke arah rumah

Dan berita kematian dari bisik tetangga
Terasa kecut di lidahku yang muda. O,

Aku menemukan nasibku
Pada ampas jeruk peras itu, Bapa

Urapilah aku dengan legi anggur
Dari harum darahMu yang ritus

(sorowajan, 2018)

MALAM DI DUSUN MAJA

Malam di Dusun Maja
Gemerisik dedaunan kersen bertukar
Hening dengan nyanyi jangkrik
Memberi aroma magis pada kopimu

Kau yang seutuhnya diam
Seolah sedang menghitung jumlah
Selisih waktu dan kesepianmu
Setelah dingin merambati punggungmu

Yang minim dirahmati pelukan
Malam di Dusun Maja
Kunang-kunang berkitaran menghibur
Pot tanpa bunga — menghibur benak

Ihwal maut pada katup mata terakhir ibumu
Pendar lampu bohlam bergoyang
Mencipta bayangan perempuan silam
Menitipkan rasa sakit pada lambaian

Tangannya ke arahmu di antara gelap
Dan derai gerimis yang ritmis
Kau masih seutuhnya diam, tapi
Tak lagi melirik arloji ketika koak gagak

Melintas di atas pohon kersen itu —
Metafora tak lahir dari matamu. Tak

(sorowajan, 2018)

SAJAK KATAK

Saya katak di luar tempurung
Tak gentar diburu ular untuk nyemplung

Kata orang-orang, nyanyian saya
Memanggil hujan menghibur petani

malang

Yang ladangnya dijarah untuk perumahan
Bahkan ada seorang Presiden

Memelihara saya di belakang istananya
Untuk menggenapi senyap:

“Infrastruktur buat apa?
Kami tak makan infrastruktur. Takbir!”

Kamu boleh saja tertawa serta
Meyakinkan diri bahwa semua itu tak

Pernah terjadi di negerimu yang heuheu
Pada 1686, seorang penyair

Di pinggir kolam tua begitu khusyuk
Menyimak riak saat saya melompat masuk:

Saya katak di luar tempurung
Tak gentar diburu ular untuk nyemplung

Lantas kamu termenung

(sorowajan, 2018)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here