Politik Tan Malaka

0

Endri Maeda


Kepercayaan rakyat Indonesia pada kekuatan mistik atau hal-hal goib sangtalah kental, lebih-lebih pada zaman penjajah. Seperti halnya kepercayaan pada suatu tempat yang diangapnya angker, atau kepercayaan terhadap sebuah lahan yang tidak bisa ditanami.

Kepercayaan  itulah yang dimanfaatkan penjajah untuk menguasai lahan, membujuk rakyat Indonesia dengan hal-hal mistik. Begitu juga sakit, rakyat akan lebih percaya dengan hal-hal mistik dibanding kekuatan alam atau ilmu-ilmu kedokteran.

Di sisnilah Tanmalaka hadir dengan buku yang berjudul MADILOG, khususnya bab 1, LOGIKA MISTIK, membahas kekuatan Dewa Rah dengan ilmu alam. Ada tiga poin yang dapat saya ambil, antara lain ialah, Dewa Rah (Logika Mistik) lebih besar dibanding dunia dan seisinya, Dewa Rah sama-sama besar dengan kekuatan alam, dan terakhir kekuatan ilmu alam lebih besar dari kekuatan Dewa Rah.

Tiga poin di atas semata-mata bukan mengunggulkan antara Dewa Rah atau pun ilmu alam. Hanya saja Tan Malaka berusaha untuk menyadarkan masyarakat agar lebih mengenal ilmu alam. Memang di sini Tan Malaka lebih menekan terhadap keunggulan ilmu alam. Namun tujuan inti dari Tan Malaka ialah salah satu upaya agar masyarakat mengenal ilmu alam dan tidak gampang dibodohi oleh penjajah.

Dewa Rah atau yang berbau dengan mistik identik dengan hal-hal goib. Salah satu firman Dewa Rah yang terdapat dalam buku ialah, “dengan sabdanya maka bumi dan seisinya akan tercipta”. Sedangkan ilmu alam ialah ilmu yang mempelajari sebab dan akibat.

Dalam buku tersebut, khususnya bab pertama juga terdapat tiga teori. Yang pertama teori agamis, teori tentang ketuhanan. Mempercayai segala sesuatu bersumber dari Dewa Rah tanpa memikirkan asal muasal atau sebab terjadinya suatu perkara. Seperti yang  terdapat pada masyarakat Indonesia pada zaman penjajahan, percaya bahwa gagal panen adalah kehendak dari Dewi Sri, tanpa memikirkan cara membajak atau sejenisnya. Padahal dalam ilmu alam, hal-hal seperti itu bisa diartikan karena faktor-faktor tertentu.

Kedua yaitu teori Sains, selain mempunyai keyakinan adanya Dewa Rah, juga melakukan exsperimen atau mempraktekanya. Teori ini sangatlah populer. Banyak masarakat mengunakan teori Sains, Khususnya orang-orang beragama. Ketika terjadi gagal panen, orang akan percaya bahwa itu kehendak Dewi Sri, selain mempercayai kehendak Dewi Sri, masyarakat juga mencari tahu sebab terjadinya gagal panen dengan memperhatikan cara membajak atau cara memupuk yang benar, atau lebih tepatnya mengunakan teori ilmu alam.

Yang terakhir ialah teori Atheis, khususnya masyarakat yang tidak mempercayai adanya Tuhan. Masyarakat ini akan condong terhadap kekuatan ilmu alam, tidak mengenal adanya keyakinan terhadap kekuatan Dewa Rah. Salah satu keunggulan orang Atheis ialah lebih pintar dalam bidang ilmu alam dibanding orang-orang yang mempercayai adanya Dewa Rah.

Dalam bab ini terdapat unsur politik yang bertujuan untuk mensejahtrakan masyarakat Indonesia dari penjajah secara perlahan. Dalam hal pengetahuan, Tan Malaka mulai mengarahkan rakyat untuk mengetahui tentang ilmu-ilmu alam seperti fisika, biologi dan sejenisnya. Bahwa suatu benda atau sebuah tempat yang memunculkan akibat pasti ada sebab yang dapat ditelusuri. Seperti halnya sebuah listrik. Menurut ilmu fisika, benda yang dapat menimbulakan energi sehingga dapat memancarkan tekanan listrik, pasti ada sebab yang dapat ditelusuri. Kabel yang disalurkan ke sebuah neon akan memancarkan cahaya, tidak mungkin kabel itu tidak memiliki sebuah energi di dalamnya. Ilmu fisika telah membuktikan adanya energi yang mengalir disetiap kabel yang bisa menyalakan neon atau lampu.

Hal-hal sepert itu, tentang kekuatan ilmu alam, ditekankan kepada masyarakat Indonesia supaya tidak dibodohi penjajah, supaya dapat menganalisis sebab gagal panen yang terjadi di lahannya, atau sakit yang diderita.

sumber gambar;

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here