Sore Terakhir di Bulan April

1

Cerpen: ZV

Baik Rara atau Toro sudah mendengar tentang kabar itu. Beberapa televisi sudah menyiarkan. Katanya nanti sore kiamat. Nanti sore adalah senja terakhir.

Mereka tidak memercayainya. Biasalah, isu hari kiamat mau datang sudah klise, apalagi baru kemarin ada yang sampai satu desa pindah ke tempat lain (pesantren) sambil membawa segala persediaan karena konon seminggu lagi kiamat. Eh, tapi toh ya masih baik-baik saja.

Namun meski demikian, ada sebayang getaran di benak Rara yang memberi ruang kepercayaannya pada berita tersebut. Yang membuatnya ingin pergi ke tepi laut berjarak 1 kilometer dari rumahnya. Disebut tepi laut sebab memang bukan pantai. Itu lebih mirip seperti trotoar di samping jalan raya yang membelok mengikuti garis tanjung. Membentur langsung pada hantaman ombak lautan.

“Ya semisal toh salah, kabar kiamat itu palsu, aku tidak rugi. Masih bisa melihat laut sore di utara,” Rara meyakinkan dirinya dalam hati sambil berbisik pada Toro mengajaknya ke tempat tadi.

Di sana, apa yang disuarakan Rara terjadi. Dia lebih banyak memandang laut. Lautan utara. Ketimbang ngobrol sama Toro. Berkali-kali Toro tampak mau mengajak diskusi seputar berita kiamat, tapi hanya angin dan keras ombak menghantam sisi bawah trotoar yang terdengar merespons.

Empat kali Toro menanyakan ihwal itu sampai akhirnya hanya dijawab, “Tidak mungkin lah ya, situasi seindah ini, permukaan laut yang bergerak acak, warna keemasan yang bergantian terpantul, dan suara bising jalanan yang memadu dengan suara ombak, akan berakhir Maghrib nanti.”

“Loh, bukankah biasanya keindahan yang terlalu itu pertanda akhir?” Toro membantah meski agak ragu. Meski dia tahu jika tidak akan ada jawaban lain akan ia dapat.

“Entahlah. Haihaihai. Ayok balik. Aku udah puas,” tapi rupanya Rara menjawab. Mood-nya sedang baik barangkali dan langsung mengajak pulang.

Jam tangan Toro sudah menunjukkan pukul 17.40 WIB. Sekarang bulan April. Sebentar lagi pasti mentari terbenam.

Mereka beranjak. Berjalan menuju barat, sebab tempat tadi berada di sebelum timur rumah Rara. Sepanjang menghadap barat, yang itu berarti bertatapan langsung dengan sorot mentari yang mulai melemah, Rara menunduk. Sekali-kali dia tidak ingin melihat matahari terbenam. Itu adalah hal yang paling ia benci sejak semua orang memberlakukan senja sebagai milik pribadi mereka masing-masing.

Lain pengalaman lain rasa. Toro bodoh amat dengan perkara privatisasi senja. Ia menikmati setiap bias sinar keemasan yang menerpa permukaan lengannya, permukaan tepi jalan raya, permukaan atap mobil, sampai permukaan pipi Rara, yang di setiap kesempatan, Toro meliriknya.

“Ayolah, Ra. Tidak usah paranoid begitu. Lihat mereka tenggelam,” ajak Toro perlahan.

Rara merespons hanya dengan bilang, tidak. Bodo! Toro kembali sibuk dengan kehangatannya dan silir angin laut. Tidak ingin banyak memaksa.

Sampai akhirnya, Toro mendapati pemandangan yang jarang terjadi. Sangat jarang atau bahkan baru kali ini. Satu menit berjalan, mentari sudah tenggelam. Lelap. Tapi barusan ini, kautahu apa yang terjadi? Mataharinya muncul kembali! Nongol lagi! Ia kembali muncul di garis pukul 17. 35 bulan April. Terjarak tiga jari dari lautan jika diukur posisi Toro berdiri.

Toro berada di persimpangan. Antara bingung, heran, takut, ingat kiamat, dan yang jelas teringat gadis di sampingnya yang masih saja merunduk. Dia semacam heboh. Mengoyak pelan bahu Rara dengan tangan kirinya, tapi Rara masih bersikukuh. Dasar keras kepala!

Mentari sudah empat kali terbenam. Dalam satu sore! Eh Rara masih tidak percaya. Toro pada ujungnya mengangkat dagu Rara ke atas. Rara tidak berdaya. Mungkin sebab kaget.

Baru ketika matahari terbenam untuk kelima dan terbit, eh muncul maksudnya, lagi buat enam kalinya, Rara mau melihat mentari sore. Tapi kali ini, matahari sore yang benar-benar menggemaskan.

Rara tidak bisa berkata-kata. Bola matanya bergerak pelan. Kiri ke kanan. Kanan ke kiri. Sorot matanya memantulkan penuh redup keemasan yang di waktu bersamaan, tangan kanan Toro masih memegang dagu Rara. Untuk beberapa saat, di tengah kegundahannya atas kiamat, Toro terjerembap dalam jebakan mata gadis di sampingnya itu.

Toro baru menyadari satu hal. Telah lama ia mencari sesuatu yang bisa memalingkannya dari candu matahari terbenam. Dan bangsat, kenapa aku baru menemukannya tepat ketika senja sudah berada di ambang kematiannya.

“Ternyata, melihat matahari terbenam lewat dua bola matamu jauh lebih membius ya, Rara. Ini ibarat perpaduan yang tidak ada presedennya. Bisa kaubayangkan, rumit matamu terpadu dengan ketelanjangan matahari sore,”

Bisikan Toro berhasil menyadarkan Rara, tapi tetap saja diabaikan. Sambil membimbing kasar muka Toro ke arah barat laut, ia bilang: “Lihat, Ro. Itu ada pelangi. Dia tampak malu. Di sampingnya ada ultramen, satu paket dengan monster. Di sebelah kiri mentari, yang masih saja bergerak muncul-tenggelam, tiba-tiba berterbangan burung-burung camar berperawakan besar sebesar kepala monster yang terus memukuli ultramen. Bayangan-bayangan itu nampak kecil dari sini, tapi pastinya di cakrawala sana besar. Mereka hanya bayangan. Eh atau jangan-jangan asli. Ini bagaimana. Apa yang terjadi, Toro. Apa benar yang di berita tadi pagi jika sore ini kiamat. Jika sore ini senja paripurna, Toro?”

Toro tidak menjawab Rara. Pertama sebab dia juga bingung, kedua karena orang-orang yang tadinya berpencar sekarang berbondong, berhamburan, menuju sisa bahu jalan yang langsung berbatasan dengan laut. Entahlah orang-orang itu takut atau menikmatinya. Yang jelas mereka sibuk dengan apa yang terjadi di cakrawala nun jauh di barat sana dan mentari yang masih saja demikian, padahal jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam.  

sumber gambr: senjamenakutkan.com

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here