Sebuah Dompet di Alam Mimpi

0
33
Sebuah Dompet Di Alam Mimpi

Endri Maeda

Seharusnya Dea sudah tidur, melanjutkan mimpi yang baru saja menghilangkan dompetnya. Dea ingat betul, di sebuah kota yang tidak ia tahu, (itu terjadi di dalam miminya) kota di mana banyak lelaki berkumis tipis, perempuan berkebaya, anak-anak mengenakan topi bulat, dompet itu terjatuh.

Hampir semua posisi tidur sudah ia coba, sampai ia harus melakukan push up agar tubuhnya lelah lalu tertidur. Makan malam yang di hindari kebanyakan wanita juga sudah dia lakukan, dia berpikir jika perut terisi maka otak akan fokus ke perut lalu tanpa sadar ia akan tertidur. Ia juga berusaha merasakan aliran darahnya, mengosongkan pikiran, membaca buku, hinga mencoba memikirkan hal yang paling berat. Tapi tetap saja, semua yang ia lakukan tidak bisa membuatnya tidur.

Waktu itu pukul sepulu malam, ia tidur dengan perasaan gelisah memikirkan pernikahan yang sebenarnya ia belum siap. Sebenarnya bukan belum siap, tapi karena ibunya yang memaksa, tepatnya ia terpaksa. Dea belum bisa melupakan kekasihnya yang satahun meninggalkannya kerena kecelakaan pesawat. Tidak ada yang tersisa, jasad kekasihnya sudah tidak ditemukan. Saat ini yang masih ada pada dirinya hanya cincin tunangan yang diberikan sehari sebelum kekasihnya meninggal. Tapi sial, ia menaruh cincin itu di dalam dompet.

Ia terlentang, melihat langit-langit rumah. Di luar, tepat pukul setengah empat pagi angin berhembus lumayan kencang. Angin menyelindap lewat sela-sela kamar, melewati gorden dan terus menyelindap hinga membentur kulit putihnya. Ia merasakan itu, Dea mulai berpikir harus tidur pagi itu juga supaya ia bisa segera mengambil dompetnya kembali. Munkgin ia akan melakukan dengan cara yang entah.

Justru bukan tempat yang ia inginkan dirinya kembali ke alam mimpi. Tidak ada wanita berkebaya dan anak kecil memakai topi bulat, semua lelaki yang ia lihat tidak ada yang berkumis. Kota terlihat berbeda, banyak orang-orang berjalan terburu-buru. Banyak orangtua di pingir jalan berdiri di atas trotoar, mengenakan baju putih, rambut dibiarkan terurai. Dea masih kebingungan di mana ia kini berada, apakah ia harus kembali terbangun lalu tidur lagi supaya ia kembali ke alam mimpi sebelumnya, atau sebaiknya. Tunggu dulu!

“Kau tampak kebingungan, Nak,” seorang nenek menghampirinya.

“Tidak. Aku baik-baik saja,” jawab Dea seperti orang yang sudah peham dengan tempat itu.

“Nampaknya kau mencari sesuatu.”

Dea diam, hanya membalas dengan senyuman kecil di bibirnya.

“Ikutlah denganku, aku tahu apa yang kau cari.”

Setelah beberapa lama Dea berdiri di atas trotoar bersama nenek itu akhirnya sebuah bus berhenti di depan mereka. Sepertinya semua orangtua yang berdiri di trotoar semata hanya menunggu sebuah bus. Tapi entah, mau kemana mereka.

“Perjalanan kalian akan menyenangkan, orangtua,” kata supir bus ketika memasukan gigi pertamanya.

Bus melaju dengan tenang meninggalkan kota. Dea masih terpikirkan apakah ia harus mencubit pipinya lalu terbangun, atau mengikuti nenek ini saja. Tapi tidak ada salahnya ia mengikuti dulu, jika ada apa-apa yang mencurigakan ia bisa saja mencubit pipinya agar terbangun.

“Dompetmu akan ketemu, Nak,” suara kakek tua dari belakang.

“Sebentar lagi kita akan sampai, anak muda,” kata sopir.

“Tak apa. Semua orang di sini sudah mengetahui hal itu. Tidak usah takut, Kamu tidak perlu mencubit pipimu seperti itu, nanti berdarah. Kami tidak menyediakan obat kalau kau terluka. Semua akan baik-baik saja, tenanglah,” kata nenek di sampingnya dengan tenang.

“Di mana aku bisa menemukan dompet itu?”

Suatu tempat, di mana kau telah menjatuhkannya. Tidurlah, kita akan melewati satu hutan lagi.”

Dea mencoba mengalihkan pikirannya yang kacau dengan melihat keadaan di luar sana. Pohon-pohon besar dengan umur ratusan terlihat seperti berlomba-lomba menuju langit. Yang tumbang dan kering adalah yang gagal, mungkin karena musim panas yang panjang, atau telah terjadi hujan petir lalu mengenainya hinga pohon itu harus tumbang. Atau bisa saja pohon itu lelah karena usianya dan tak kunjung sampai ke langit.

“Tidurlah, Anak muda. Kita tidak akan sampai kalau kau tidak segera tidur,” kata supir.

Akhirnya Dea tertidur di alam mimpinya. Tidur, mimpi, lalu tertidur kembali. Mungkin dirinya perlu bangun dua kali untuk menuju ke alam nyata lalu melanjutkan pernikahannya. Atau, bisa saja ia akan ke alam mimpi selanjutnya dan tertidur di alam mimpi itu, seperti itu seterusnya untuk menemukan dompetnya, dan, jika itu terjadi maka butuh banyak waktu untuk kembali ke alam nyata.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here