Perempuan

0
23
Perempuan

Cerpen Zaiun Arifin

“Coba kau jawab pertanyaanku,” seru seorang lelaki.

“Apa?”

“Bagaimana cara perempuan menjadi cantik?” tanyanya, lalu mengambil jeda. “Kau tahu, maksudku, cantik dari segi fisik. Semua perempuan mengagungkan itu, bukan? Aku tidak menerima jawaban cantik secara kepribadian. Itu lain hal.”

“Kau sungguh mau tahu?” tanya prempuan itu terkekeh. Laki-laki itu mengangguk.

“Tentu saja dengan merawat diri. Seperti misalnya, memakai krim setiap pagi dan malam, menggunakan sabun cuci muka yang cocok, memakai tata rias yang tidak berlebihan,” perempuan itu terus melanjutkan penjelasan tentang berbagai macam perawat wajah dan tubuh untuk perempuan.

“Wow,” tanggap lelaki itu setelah si perempuan menyelesaikan penjelasannya. “Kenapa tidak sekalian saja kalian gunakan tahi kucing?”

“Kau gila?!” Perempuan itu melotot.

Lelaki itu mengangkat bahu. “Manusia asalnya dari tanah, kan? Tahi kucing juga biasanya ada di tanah. Jadi, apa salahnya? Siapa tahu itu resep manjur untuk membuat wanita menjadi cantik secara instan.”

Perempuan itu mendengus. “Kau sungguhan gila.” Ia mencebikkan bibir, lalu kembali merajut.

Lelaki itu menangkupkan tangannya di bawah dagu, menandakan gestur berpikir. “Mengapa wanita terobsesi menjadi cantik?” tanyanya lagi.

“Karena lelaki hanya memandang wanita dari fisik.”

“Perempuan juga begitu, bukan? Kalian memandang lelaki dari ketampanan dan bentuk fisiknya. Kurasa manusia memang diciptakan untuk tertarik pada sesuatu hal yang terlihat bagus dari segi visual.”

“Tidak semua perempuan seperti itu,” sergahnya, agak jengkel karena kegiatannya terus diinterupsi.

“Tidak semua laki-laki seperti itu juga, kalau begitu. Tapi kau tahu, kita tidak bisa melihat kepribadian seseorang hanya dari pertama kali melihatnya. Rasa tertarik tentu saja datang karena melihat penampilannya yang bagus.”

“Tapi aku bukan perempuan seperti itu,” bantahnya tidak terima. Kali ini ia menyingkirkan peralatan merajutnya, memilih memfokuskan perhatiannya ke arah lelaki di sampingnya.

“Oh ya? Lalu bagaimana dengan ratusan foto lelaki Korea yang memenuhi memori teleponmu? Apa kau sudah tahu kepribadian mereka dibalik layar seperti apa? Atau, bagaimana perilaku mereka sehari-hari?”

“Eh, itu..,” perempuan itu tergagap.

Lelaki di depannya tertawa. “Lakukan itu dirimu sendiri,” katanya lalu mengacak rambut si perempuan.

Perempuan itu mengernyitkan dahi, merasa ada yang janggal.

“Apa maksudmu?”

“Lakukan itu untuk dirimu sendiri—memakai krim wajah, sabun muka dan tata rias. Lakukan itu karena kamu mencintai dirimu sendiri. Bukan supaya terlihat sempurna dan cantik di mata orang lain. Lakukan hal itu karena kamu ingin menghargai dirimu sendiri.”

Perempuan itu terkejut, lalu menyembunyikan rona pipinya yang merah.

Raut wajah lelaki itu berubah serius. “Tapi kau harus tahu, aku tidak menjamin akan terus mencintaimu jika nanti wajahmu mulai keriput dan bentuk tubuhmu tidak lagi bagus. Aku bahkan tidak bisa menjamin kalau aku tidak akan pernah bosan dengan wajahmu.”

Kali kedua, perempuan tersebut terperangah.

“Mungkin manusia memang diciptakan untuk tertarik pada seseorang karena tampilan luarnya. Tapi, sekadar tampilan luar tidak akan membuat seseorang bertahan, yang membuat seseorang bertahan adalah ini,” laki-laki itu mengarahkan telunjuknya ke arah kepala. “Karena kecantikan dan ketampanan bisa memudar seiring usia.”

Perempuan itu terdiam, perpaduan reaksinya antara bingung dan terkejut. Lelaki itu menatapnya intens.

“Jadi, kalau suatu saat kamu bertanya apa yang membuatku bertahan sampai sejauh ini, jawabannya bukan karena cantiknya rupamu,” ia menarik nafas, “tapi karena itu kamu. Kombinasi kamu, pikiranmu dan tawamu selalu dapat membuatku candu.”

“Kamu memang selalu semenyenangkan itu.”

Lelaki itu terkejut mendengar si perempuan juga menirukan ucapannya bersamaan, kemudian mereka tertawa.

“Terima kasih,” ucap si perempuan dengan senyum lebar yang tidak berhenti menghiasi wajahnya, serta hangat yang menjalari pipi. Rasanya ribuan kupu-kupu saja tidak cukup untuk menjelaskan bahagia yang memenuhi dadanya. Terkadang, cinta memang sesederhana itu.-

Zainul Arifin atau sering disebut Mbrosot adalah sastrawan kelahiran Palang, Tuban Jawa Timur. Meski telah diberi nama yang mempunyai arti “perhiasan orang arif” ia mengaku lebih suka disebut dengan julukan Mberosot yang masih belum diketahui artinya sampai saat ini. Selain seorang sastrawan ia juga salah seorang koki di kafe basabasi. Tepatnya ia orang yang penting dalam peran perkembangan kafe basabasi.

sumber gambar: popbela.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here