Sajak Hendri Krisdiyanto: Idul Adha di Kota Jogja

0
60
Idul Adha di Kota Jogja



Pada Suatu Sore Masa Lalu

Tiba-tiba seorang gadis berkata di belakangku
Apakah senja hanya dibuat untuk seorang pemurung?
Katanya lirih seolah berkata pada dirinya sendiri
Aku tak menoleh meski duduk di depannya
Apakah senja disaksikan hanya oleh orang-orang berbahagia?
Gadis itu kembali berbicara yang entah pada siapa
kali ini aku menoleh dan berkata:
Pada suatu sore masa lalu seseorang yang akhirnya menjadi kekasih
Mereka berkenalan di suatu senja.

Lalu, kujulurkan tanganku dan berkata lagi
Namaku, Hendri Namamu Kris, bukan?

Jogja, 2019

Pasar

Dalam mimpi terlihat sebuah pasar
Di luar kamar yang kulihat
Langit mendung dan gerimis jatuh
Perlahan-lahan

Orang-orang berlarian berteduh
Di keramaian pasar yang padat
Tak ada yang dapat bergerak untuk pulang
Dan hujan yang jatuh ke tanah
Ke mana akan mengalir?

Jogja, 2018

Menuju Pasar

Aku bergegas meninggalkan rumah
Dengan setiap ingatan tentang barang-barang
Yang mesti kubeli dan bawa pulang
Aku berjalan seorang diri
Membelah jalan dan padatnya kendaraan

Tentu tak ada yang mampu
Menerka nasib dan waktu

Di jalan
Langit mendung
Aku mempercepat langkah
Dengan harap semoga hujan tak turun
Sebelum aku tiba.

Jogja, 2018

Tiba di Pasar

Masih tentang mendung yang berkabung
Di langit Jogjaku, Kekasih
Kini aku menepi di samping toko
Dengan barang di tangan, bajuku setengah kuyup
Hujan turun lebat, menguasai setiap pandang.

Orang-orang tak ada yang keluar
Bunyi petir sanggup membuat satu sama lainnya Bergeming, gemetar menahan dingin.

Jogja, 2018

Pulang Dari Pasar

Hujan telah reda
aku pulang menyusuri
tepi-tepi jalan yang lembap
orang-orang melepas dingin

Langit berawan
Pakaianku kering perlahan
Di depan pintu
Ibu menunggu dengan senyum penuh rindu.

Jogja, 2018

Aku Ingin Kau Jadi Alamku

Aku ingin kau jadi alamku yang sunyi
Di dalamnya akan aku tanam bunga-bunga
Sementara agar orang-orang sibuk
Memandang mekarnya dan mencium harumnya

Kubuat langit dengan senja setiap saat
Agar orang-orang ramai membicarakan
Alam yang tak pernah tampak fajarnya

Aku ingin segera menyaksikan segalanya
Alam yang sunyi dengan senja setiap saat

O, aku ingin kau jadi alamku.

Agustus, 2018

Bersama Teman Lama

Kami duduk berdua di taman
Dengan udara beku
Dan suasana kaku
Setiap kata yang keluar dari mulutku
Adalah kenangan dari masa-lalu

Langit mendung
Gerimis jatuh perlahan
Kita berteduh berduaan

Lalu, kau berkata, dan bertanya
“Dari apakah dingin terbuat?”
Aku tak menjawab Kemudian memelukmu erat-erat
Di dekat telingamu aku berbisik
“Dalam pelukan dingin hanya Sebatas bayang”.

Agustus, 2018

Idul Adha di Kota Jogja

Aku merasa tak berdaya
Menampung setiap jarak
Yang mengasingkan diriku
Dari tanah asal lahirku
Anak ayam punya keteduhan sendiri
Pada sayap ibunya yang menutupi
Namun, aku terlepas dari keteduhan
Kampung halaman yang sejuk abadi
Kini, setiap kepulangan adalah rindu itu sendiri.

Hendri Krisdiyanto lahir di Sumenep, Madura. Alumni Annuqayah daerah Lubangsa. Karyanya pernah dimuat di: Minggu Pagi, Kabar Madura, Koran Dinamikanews, Nusantaranews, Radar Cirebon, Radar Banyuwangi, Buletin Jejak, Tuban Jogja, Flores Sastra, Apajake.id, Buletin kompak, Jejak publisher, Majalah Simalaba, Antologi bersamanya :Suatu Hari Mereka Membunuh Musim(Persi, 2016), Kelulus (Persi, 2017) The First Drop Of Rain, (Banjarbaru, 2017) dan Suluk Santri, 100 Penyair Islam Nusantara (Hari Santri Nasional, Yogyakarta, 2018) Sekarang aktif di Garawiksa Institute, Yogyakarta.



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here