Cerpen Rifqi Hasani: Ketika Takdir Harus Berpisah

0
107

Setelah salat magrib, para santri berbondong-bondong mengambil kitab suci Al-Qur’an, lalu mereka membaca salah satu dari surah yang terdapat di dalamnya dan ada pula yang membaca secara bergantian atau berkolompok (tadarus), sehingga musala ramai dengan lantunan ayat Al-Qur’an. Namun, di kalangan mereka ada yang tidak mengaji melainkan hanya duduk menghadap ke barat sembari mengangkat kedua tangannya dan dilihat dari kejauhan, seakan-akan ada sesuatu yang ia pikirkan saat itu. Lama-kelamaan aku kembali melihat santri tersebut dan tanpa setahu siapapun, dia mengeluarkan air matanya. Karena merasa kasihan, aku melangkah menghampirinya untuk menanyakan apa yang telah terjadi sehingga membuat dirinya menangis.

“Kenapa Adek menangis, apakah ada masalah yang sedang menimpa Adek?” tanyaku sambil mengusap bahunya.

“Ada Kak,” jawabnya.

“Coba ceritakan sama Kakak,” kataku dengan cemas.

“Udah seminggu semenjak kepergian Ibu saya Kak. Namun, saya masih tidak sanggup untuk kehilangan Ibu selamanya,” katanya dan kemudian air matanya kembali mengalir deras di atas pipinya.

“Oh…, Adek yang sabar ya, itu adalah cobaan bagi Adek, dan Adek jangan menangis, nanti Almarhumah Ibu Adek ikut menangis juga, karena melihat Anaknya menangis di sini,” aku mencoba menenangkannya.

“Iya Kak, terimakasih,” jawabnya.

Akhirnya dia kembali tersenyum dan bahagia, walaupun jiwanya masih terasa sakit. Setelah itu, aku berpamit kepadanya untuk pergi ketempat semula aku mengaji. Sebelum melantunkan ayat suci Al-Qur’an, seperti biasa aku membaca sebuah kalimat yang hampir setiap hari aku lontarkan ketika hendak melakukan sesuatu. Kalimat itu tidak lain adalah kalimat Basmalah yang menjadi pembuka dari segalanya. Selesai membaca Basmalah, akupun mulai mengaji dari surah Al-Baqarah ayat: 11 dengan nada yang merdu, sehingga ada sesuatu kedinginan memasuki tubuhku. Namun, ketika aku khusyu’ membaca Al-Qur’an, tiba-tiba saja terdengar teriakan seseorang sedang memanggilku. Aku terkejut mendengarnya dan tanpa berpikir panjang, mau tidak mau harus berhenti mengaji dan pergi mencari sumber suara tersebut. Perlahan aku mulai bangkit dari tempat mengajiku dan melangkah pergi mencari sosok orang yang tadi memanggilku. Ternyata orangnya adalah Hasan, teman pondokku. Kalau dilihat dari ekspresi wajah, agaknya dia seperti orang cemas atau khawatir dan rasanya ada sesuatu yang ingin disampaikan kepadaku.

“Rif, kamu dipanggil pengurus tuu, katanya ada telpon dari Ayah kamu,” katanya.

“Oh…, makasih yaa,” jawabku sambil senyum tipis.

“Sama-sama Rif,” balasnya.

Tanpa harus membuang waktu sedikit pun, aku langsung pergi menuju kantor pesantren dengan hati penuh penasaran, karena baru kali ini ayah menelpon secara mendadak bahkan jarang pula ayah menelpon pada saat magrib menjelang isya’ ini. Perasaanku tiba-tiba berubah tidak enak ketika memegang sebuah handpone. Aku kepikiran sama ibu yang selama ini menderita penyakit jantung dan semoga dia baik-baik saja tidak seperti yang aku pikirkan saat ini. Namun, aku yakin ibu sekarang sudah sehat dan ketika kiriman nanti bisa ikut bersama ayah, karena semenjak aku dimondokkan sekalipun tidak pernah ibu mengirimku. Hanya sosok ayah yang sejak dulu selalu siap menguras tenaganya demi masa depanku. Sedangkan sosok ibu hanya menyumbangkan doa untukku, agar cita-cita yang aku dambakan bisa tercapai dan membuat ibu kembali tersenyum melihat aku menjadi orang sukses kelak.

Bunyi handpone mengejutkan aku dari kelamunan dan di layarnya tertulis nama Sunanto yang tak lain adalah ayahku. Aku ambil handpone tersebut dalam keadaan tangan bergetar, sehingga getarannya semakin kencang ketika jari jempolku menekan dari salah satu  banyaknya tombol yang lain sebagai menerima sebuah panggilan.

“Halo, assalamu’alaikum,” ayahku mengucap salam sebagai mengawali dari perkataannya.

“Wa’alaikumsalam, ada apa Ayah?” tanyaku penasaran.

“Ada kabar gembira untukmu, Nak,” katanya.

“Kabar apa?” tanyaku lagi.

“Ibu kamu sekarang sudah sembuh, Nak, dan katanya besok mau pergi ke situ.”

“Alhamdulillah, akhirnya Ibu sembuh juga, aku gak sabar untuk segera ketemu dengannya Yah. Kira-kira Ayah dan Ibu jam berapa mau kesini?” tanyaku bercampur senang.

“Insyaallah, besok pagi Nak,” jawab ayah.

“Oh…, ya udah, Yah, aku mau pergi ke musala untuk meneruskan ngajiku, assalamu’alaikum,” kataku sembari tersenyum.“Wa’alaikumsalam,” jawabnya.

Aku sangat bersyukur kepada Tuhan yang Maha Esa, karena telah mengangkat penyakit ibu dan memberi kesempatan untuk kembali sehat seperti dulu. Dari terlalu senangnya, aku sampai lupa untuk berbicara dengan ibu. Namun, hal itu tidak aku jadikan sebagai penyesalan, apalagi besok aku akan bertemu dengan ibu dan rasanya sudah cukup sepenuhnya.

“Aku rindu kamu, Ibu,” kata-kata itu terus menghantui pikiranku, bahkan hati pun merasa tidak sabar untuk segera bertemu dengannya dan dengan dia pula aku bisa menjadi anak yang shaleh, bertaqwa kepada Allah (menjahui larangan_Nya dan mengerjakan apa yang telah diperintah_Nya), dan menyuruh berbakti kepada kedua orang tua atau para kiai yang telah meluangkan waktunya demi memberikan ilmu kepada semua santrinya, meski hanya satu huruf yang beliau ajarkan kepada kita. Hal itu merupakan pesan ibu kepadaku yang sampai sekarang masih melekat erat di dalam pikiranku.

Jarum jam menunjukkan angka 10 menandakan waktu tidur telah tiba. Tetapi, kata-kata “aku rindu kamu, Ibu,” masih saja menjadi teman pikiranku, seakan-akan aku berpikir bahwa kata-kata itu sudah sulit dihilangkan dari memori otakku. Dan obat satu-satunya adalah bertemu langsung dengan ibu. Sedangkan dengan perlahan aku mulai terlelap ke alam mimpi dan rohpun berpamit pergi kepada tubuh untuk mencari dunia mimpi yang indah.

***

Lantunan adzan subuh membuat keheningan berpecah belah di malam yang penuh dingin itu. Seruan para pengurus pesantren untuk membangunkan semua santri sudah berhasil. Mereka mampu mambelah dunia mimpi hanya dengan seruannya, sehingga semua santri termasuk aku tidak tahan lagi dan akhirnya aku mulai membangkitkan badan, walaupun masih ada sebuah bisikan makhluk yang menyuruh untuk kembali mengukir mimpi.

Dengan semangat yang ada, aku melangkahkan kaki menuju arah musala, meski sebagian ragaku masih barkeliaran dan pikiran terbayang kemana-mana. Sesampainya di tiras musala, aku meletakkan baju beserta kopiah dan pergi ketempat pengambilan wudu untuk menghilangkan sesuatu penghalang atau mengusir rasa kantuk yang masih melekat memenuhi wajahku. Satu atau dua menit berselang, aku selesai mengambil wudu dan iqamah pun dikumandangkan oleh takmir musala yang menandakan salat jama’ah subuh akan dilaksanakan. Aku bergegas mengambil baju dan kopiah sembari mancari shaf untuk mengerjakan salat jama’ah dengan khusyu’.

***

Hati sangat gembira ketika melihat kembali wajah mentari memancarkan sinar kehangatan bagi manusia ataupun kepada seluruh tumbuhan dan benda lainnya yang terdapat di muka bumi. Pagi itu, aku berada di depan kamar sedang menunggu sosok ibu dengan hati yang tidak sabar akan kedatangannya. Sehingga tidak disengaja, pandangan mata tertuju pada seorang santri di samping kamarku. Dia tampak bahagia, karena bisa dikunjungi oleh kedua orang tuanya dan bahkan, ia pun dicium serta dipeluk sebagai obat rindu ibunya yang selama ini terpendam di dalam hatinya. Sedangkan aku baru kali ini akan merasakan cium dan pelukan perdana dari seorang ibu. Ketika jam menunjukkan pukul sembilan pagi, keramaian dengan perlahan mempadati kawasan pondokku. Tapi, tiba-tiba saja terdengar seruan salah satu santri sedang memanggil namaku.

“Rifqi, ada Ayah kamu di tempat pemarkiran,” katanya dengan penuh semangat.

Tanpa harus mengucapkan terimakasih, aku langsung masuk kedalam kamar untuk mengambil kopiah dan bercermin, agar kelihatan rapi ketika berhadapan dengan orang tua. Setelah itu, aku terburu-buru dan seperti orang yang tak sabar untuk segera bertemu dengan kekasihnya. Aku berlari keluar kamar dan pergi menuju tempat pemarkiran di mana orang tua barada. Rasa senang dan rasa tidak sabar bercampur menjadi satu di dalam jiwa, sehingga langkah kaki tak terkendali lagi. Aku terus melangkah, meskipun banyak orang tua santri yang menghalangi jalanku. Akhirnya aku bisa melihat sosok ayah di tempat parkir dan di waktu bersamaan hatiku dipenuhi dengan tanda tanya, karena tidak melihat seorang ibu di samping ayah.

“Assalamu’alaikum,” aku mengucap salam sembari mencium tangan ayah.

“Wa’alaikumsalam,” jawabnya dengan wajah sedih.

 “Mana Ibu, Yah, katanya mau kesini dan kenapa wajah Ayah kelihatan sedih, apakah Ibu sakit lagi?” tanyaku cemas.

Ayah tidak menjawab melainkan menggelengkan kepalanya yang bertanda bahwa ibu tidak sakit lagi.

“Trus, Ayah kenapa, kok sedih,” kataku penasaran.

“Kamu yang sabar ya, Nak,” ucap ayahku sambil mengusap pundakku.

“Yang sabar gimana, Pak?” tanyaku lagi.

“Ayah kesini tidak mau mengirimmu melainkan mau menjemputmu untuk pulang.”

“Sebenarnya apa yang terjadi, Yah. Ayah jangan membuat Rifqi penasaran. Sekarang katakan dengan jujur, apakah Ibu sakit lagi?”

“Ibumu tidak sakit, Nak.”

“Trus, kenapa?” aku mulai kesal kepada ayah.

“Seakarang Ibumu sudah bahagia di alam sana,” kata ayah dan langsung memelukku.

Aku benar-benar tidak percaya kepada kuasa Tuhan yang mentakdirkan ibu kembali sehat tadi malam. Namun, Tuhan juga mentakdirkan ibu meninggal sebelum bertemu aku. Dan apabila takdir sudah tiba memisahkanku dengan ibu, maka tidak ada seorangpun yang bisa menolak kuasa Tuhan dan aku harus ikhlas atau pasrah menghadapi takdir yang menimpaku saat ini, serta berdoa kepada_Nya.

Yaa Allah, tempatkanlah ibu hamba di tempat kekasihmu di surga, ampunilah segala dosa-dosa ibu hamba, dan semoga hamba dapat bertemu dengannya, meskipun lewat mimpi, yaa Allah. Amien.

Perpustakaan LS, Ahad, 29 September 2019

*Pengurus Perpustakaan PPA. Lubangsa Selatan, siswa MA Tahfidh Annuqayah, anak asuh sanggar basmalah, dan santri kelahiran kampung DASUK.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here