Cerpen Eko Nurwahyudin: Potret Ganjil Mbah Anggoro

0
60

Hari ini, selasa kliwon. Teranglah, pasar bukan main ramainya. Lebih ramai daripada pilihan lurah. Tukang parkir sibuk menata motor. Warung gulai Pak Cipta antreanya minta ampun. Begitu pun warung bakso dan mi ayamnya Mak Wik, warung nasi pecelnya Mbah Rewang dan tentu saja warung kopinya Mbak Nella, berjubel penuh. Warung-warung mereka yang kecil tidak memungkinkan menampung keramaian pasar tiap selapanan. Pembeli-pembeli mereka terpaksa numpang duduk di lapak orang atau di parkiran.

Di keramaian seperti sekarang ini, kucing-kucing pasar bukan main girangnya. Tak perlu capek-capek mengeong, tak perlu lihai-lihai mencuri. Ikan gratis tis-tis pasti ada untuk hari ini. Pedagang banyak untung. Laris manis tanjung kibul, dagangan habis, duit ngumpul.

Lain kucing, lain orang. Itulah prinsip sederhana yang terpatri dalam kepala para pedagang jauh. Mereka menggelar lapaknya sejak pagi di timur pasar. Lapak yang tidak tertata. Pedagang obat kuat bersebelahan dengan pedagang kolor dan sandangan, pedagang onderdil kendaraan bersebelahan dengan pedagang bibit tanaman, pedagang kemenyan, kembang setaman dan pedagang jimat mengapit pedagang perlengkapan sholat. Pokoknya, siapa datang paling pagi, dialah yang dapat menempati.

Pernah sekali waktu, seorang bergamis dongkol melihat ketidaktertaan para pelapak yang mengitari arena sabung ayam.Ia mengaku dari kota. Ke pasar ini sekedar mengantar istrinya belanja untuk mertuanya di kampung. Hanya mampir.

Mulanya di sana, di lapaknya Mbah Badiran orang itu mengoceh, memusyrikan. Mbah Badiran yang tidak terima digurui akhirnya berdiri. Hampir orang jauh itu ia pukul. Untunglah orang-orang yang lewat juga melerai. Pak Mustajab pedagang songkok yang melapak di sebelah Mbah Badiran juga langsung menenangkan Mbah Badiran.

Sabung ayam jadi sepi, orang-orang menggerombol dengan cepatnya. Suasana menegang ketika lelaki bergamis itu justru meledek Pak Mustajab. Ia meragukan keberagamaan Pak Mustajab sebatas KTP. Mas Gendon, tukang parkir buru-buru melerai dan menyeret lelaki bergamis itu ke tempat parkir. Tiba-tiba seorang tua pedagang perkakas pertanian menyusul dan menyuruh Mas Gendon untuk tidak meneruskan permasalahan ini. Mas Gendon maupun lelaki bergamis itu masih saja adu mulut. Si pedagang perkakas tani itu hanya meyakinkan kepada lelaki bergamis itu kalau keberagamaan tidak usah diragukan. Lelaki bergamis itu malah memarahi si pedagang perkakas tani. Sontak saja, si pedagang tani memberitahu “Aja keminter mundhak keblinger, aja cidra mundhak cilaka” serta mengingatkan ia kalau tadi ia hampir kena pukul atas perlakuannya yang tidak menyenangkan.

Lelaki bergamis itu terus saja mendebatnya, mengeluarkan dalil-dalil Qur’an. Mas Gendon marah ingin mengusirnya namun tetap ditahan si pedagang perkakas tani. Orang-orang kembali menggerombol. Pak tua penjual perkakas tani itu tiba-tiba menembang.

Mingkar-mingkuring angkara
Akarana karenan mardi siwi
Sinawung resmining kidung
Sinuba sinukarta
Mrih kretarta pakartining ilmu luhung
Kang tumprap ing tanah Jawa
Agama ageming aji
Jinejer ing Wedhatama
Mrih tan kemba kembenganing pambudi
Mangka nadyan tuwa pikun
Yen tan mikani rasa
Yekti sepi sepa lir sepah asamun
Samasane pakumpulan
Gonyak-ganyuk nglelingsemi

Belum selesai ia menembang, lelaki bergamis itu menyela, “Apa maksudmu Pak?” tanyanya dengan suara tetap tinggi.
“Tuan bisa mengaji?”
Lelaki bergamis itu hanya diam.
“Kalau tuan bisa mengaji, tolong saya diajarkan. Saya malu, saya sudah tua tapi tidak bisa mengaji. Saya ingin jadi orang yang lebih sabar. Saya ingin mati dalam keadaan yang benar. Saya ingin mati dalam keadaan baik, melakukan hal-hal baik. Alangkah senangnya kalau Tuan mau mengajari saya mengaji” pinta si penjual perkakas tani itu.
Mas Gendon, Pak Mustajab, para bobotoh, dan orang-orang nampak heran. Terkecuali Pak Badiran, penjual imat itu mengutuk lelaki bergamis itu dalam hatinya.
“Pergi. Pergi! Pergi sana yang jauh! Orang tidak tahu sopan santun!” cetus Pak Badirun yang menyuruk maju dari tengah gerombolan.
“Apa maksudmu? Orang musyrik kok ngomong sopan santun?” cela lelaki bergamis itu.
“Sudah-sudah. Tuan, saya sungguh-sungguh ingin bisa mengaji seperti Tuan. Tuan mau kan datang ke sini lagi? Sebab di pasar ini saya hanya mengaji pada bobotoh ayam, tukang parkir, pedagang kupluk, pedagang jimat, pedagang-pedagang lainnya. Saya hanya mengaji dari mereka cara menghormati sesama. Saya ingin belajar mengaji dari Tuan. Saya ingin bisa lebih bersabar. Saya ingin mati dalam keadaan membuat orang lain senang”.
“Suruh pergi saja orang itu. Ia cuma pintar bikin ribut!” bantah Pak Badiran.
“Saya senang lihat Pak Mustajab sering dikasih bekal air minumnya Pak Badiran. Kalau Pak Badiran bisa baik sama Pak Mustajab, kenapa enggak bisa sama Tuan ini?” ujar pedagang perkakas tani itu.

Orang-orang masih keheranan. Beberapa membubarkan diri kembali berkeliling atau menarik diri ke arena sabung ayam lagi. Lelaki bergamis itu diam terpaku mencerna tiap kalimat dari pedagang perkakas.
“Tuan mau kan mengajari saya mengaji. Saya menyesal dengan masa muda saya. Saya ragu dengan masa tua saya, apakah saya cukup mampu mati dalam keadaan membuat orang lain senang?”
“Bubar! Bubar!” perintah Mas Gendon.

Orang-orang yang menonton membubarkan diri satu per satu. Mereka saling menggumam. Berjalan sambil menggumam. Lelaki bergamis itu terdiam. Mematung saja.


Pedagang perkakas tani itu bernama Mbah Anggoro. Mungkin bukan nama sebenarnya. Sejak peristiwa keributan itu, orang-orang jadi kenal namanya. Apalagi setelah peristiwa kecopetan – telunglapan setelah keributan. Bukan hanya satu pasar, kini satu kelurahan, satu kecamatan kenal namanya. Maklum, korban yang kecopetan orang DPRD. Sekedar mengingatkan, sebelumnya, mana ada orang yang

mengenalnya. Bahkan pedagang yang biasa melapak di sebelahnya hanya memanggilnya, Mbah Bendho sesuai dagangannya yang paling laris. Kalau saja yang laris gathulnya ya dipanggil Mbah Gathul, kalau aritny yang laris ya Mbah Arit. Lelaki tua penjual perkakas itu memang jarang berbicara. Tak hanya pada calon pembelinya, kepada siapapun ia begitui.

Begini cerita kecopetan itu:
“Bukan orang jauh. Copetnya bukan satu orang. Mereka berkelompok. Ada orang desa yang ikut” terang Mbah Anggoro.

Orang-orang tak percaya. Orang-orang mencurigai satu sama lain. Bahkan ada orang menuduh yang bukan-bukan pada Mbah Anggoro.

“Sebentar,” lelaki tua itu tersenyum menanggapi. Ia memejamkan mata. “Tuan siapa namanya?” tanya Mbah Anggoro pada orang DPRD. “Baiklah,” kembali ia memejamkan mantra. “Kalau dompet Tuan ketemu apa yang hendak Tuan lakukan?” tanyanya.
“Ya, mereka harus dihukum. Harus dipenjara. Negara ini kan negara hukum”. “Kalau mereka mencuri karena terpaksa?”
“Pokoknya mereka saya laporkan. Biar hukum di negara ini yang bekerja.”
“Saya tahu siapa salah satu komplotan itu. Ia orang asli desa sini. Kalau saya
kasih tahu dan dompet Tuan kembali Tuan bersedia janji?” “Janji apa?”
“Tuan tidak akan melaporkan memenjarakan mereka. Bagaimana?”
“Tidak bisa begitu. Negara ini kan negara hukum. Hukum harus ditegakkan. Tidak boleh tebang pilih”
“Kalau tidak mau berjanji ya sudah.”
“Ya sudah bagaimana?”
“Ya sudah tidak saya beri tahu. Bagaimana?”

Orang DPR itu tampak menmbang-nimbang. Orang-orang yang meyaksikan dibuat bingung. Memang masuk akal juga namanya orang mencuri ya harus dihukum. Biar kapok. Biar jera.
“Yang penting kan dompet Tuan kembali. Duitnya juga belum mereka apa-apakan. Mereka sebenarnya orang baik, tapi terpaksa jadi copet. Tuan bersedia janji kan?”
“Ya mau bagaimana ya?” katanya ragu. Ia terdiam. Berpikir agak lama. Orang-orang saling berbisik. Ada juga yang terpelongo. Bingung.
“Ya sudah. Oke. Saya janji. Kalau bapak bohong saya akan laporkan polisi dengan menyebarkan berita bohong!”

Mbah Anggoro tampak tersenyum. Mengangguk dan berkata, “Tuan datanglah ke pabrik tahu desa ini. Salah satu komplotan copetnya seorang buruh pabrik yang berumur empatpuluh enam. Carilah. Tapi ingat janji Tuan, kalau tidak, nanti Tuan yang malah dipenjara”.

Orang DPRD itu langsung mecarinya. Seorang penjual krupuk menawarkan diri mengantarkannya.


Percaya atau tidak, dugaan Mbah Anggoro benar-benar tidak meleset. Duit, KTP, ATM, dan lain-lain di dompet itu masih utuh-tuh. Komplotan pencopet itu beranggotakan tiga orang. Pelakunya, Damirin (37) bersama pasangannya Ira Maheswari (34) sebagai eksekutor dan Daksa (46) sebagai pengalih perhatian dan menadah. Polisi menangkap pelaku kecuali Damirin yang masih buron. Para pelaku sesuai Pasal 363 KUHP tentang Pencurian dengan Pemberatan diancam dengan hukuman penjara selama sembilan tahun.

Begitulah, keterangan berita di koran, selain pemaparan runtutan kejadian. Koran itu sama sekali tidak memberitakan sosok Mbah Anggoro.


Lain di koran, lain di pasar. Kalau di koran yang berhasil menemukan pencopet itu polisi, kalau di pasar? Tak apalah. Tak usah repot-repot ngotot, pedagang dan tukang parkir di pasar toh tak baca koran. Mereka tahunya cuma berdagang. Cuma cari uang.

Lain prasangka, lain kenyataan. Karena peristiwa copet, pasar itu bukannya sepi malah membeludak ramai. Pedagang-pedagang jauh kini tiap selasa boleh berjualan di timur pasar. Terkecuali, sabung ayam yang hanya boleh diadakan tiap selapanan.

Kok bisa begitu? Lihat saja di timur pasar, di bawah pohon trembesi. Tentu kau tahu jawabannya. Ibarat gula dirubung semut. Orang-orang berdatangan sekedar ingin melihat, mendengar, dan mengetahui sendiri sosok Mbah Anggoro. Namun, Mbah Anggoro tidak urusan dengan kemauan mereka. Banyak dari mereka yang kecewa. Mereka yang lain tentu paham bahwa Mbah Anggoro hanya sudi berurusan dengan kebutuhan mereka.

“Ia memang tak becus dagang. Orang berdagang ya nurutin kemauan pelanggan.” cela penjual ember.
“Ilmu dagangnya pakai ilmunya DPR. Enggak banyak omong, banyakin pencitraan. Cerdas! Boleh ditiru tuh” kata penjual lotre.
“Kalau saja jadi tukang bekam atau penjual bulu perindu pasti dia sukses” kata penarik odong-odong.

Ya, sebagai pedagang perkakas tani, penampilannya nyleneh. Ia memakai blangkon, bertelanjang dada, memakai stagen, dan batik sido luhur. Ia hanya menggelar lapakya, merokok klobot, dan menikmati pohon trembesi yang teduh. Kalau ada orang lewat sekitar lapaknya, pertanyaan tidak umum selalu ia ulang-ulang. Apalagi sedang bergerombol begini, tentu kesempatan baik.

“Maaf Tuan-Tuan apakah di sini ada yang lahir mangsa kapitu?” tanyanya.
Tak ada jawaban. Orang-orang saling berpandangan. Ada juga yang mengangkat bahu.


Para pedagang sudah berberes. Tukang parkir sudah pulang. Truk terakhir di timur pasar ini sudah pergi. Sebentar lagi pasar itu dikuasai sepi.

Aku berjalan gamang ke lapak Mbah Anggoro yang tinggal sendirian. Pedagang lain di deretan lapaknya, sudah pulang membiarkan Mbah Anggoro yang tertidur.
“Permisi,” ujarku berulangkali membangunkannya.

Lelaki pedagang perkakas itu terbangun. Menguap. Mengusap-usap mukanya. Ia menoleh kesekitar. Pasar sudah sepi.
“Maaf Mbah, saya membangunkan,..”
“Oh tak apa. Tak apa. Saya justru berterimakasih. Kalau tidak ada Tuan, mungkin saya bisa sampai malam” selanya cepat sambil menutupi malu.
“Iya Mbah, maaf benar kalau saya mengganggu tidurnya Mbah,” kataku basi-basi. “Saya ada keperluan sama Mbah,” ujar lelaki itu.
“Ya. Bagaimana? bagaimana?” tanya Mbah Anggoro.
“Sebelumnya perkenalkan Mbah, saya Eko orang desa sini. Saya penasaran sama Mbah. Emm, bagaimana ngomongnya ya? Dengar-dengar dari orang pasar Mbah..,”
“Iya benar. Saya jual gathul, jual pacul, jual ganco, jual bendho, ini saya jual semua Tuan” selanya lagi sambil menunjuk-nunjuk barang dagangannya.

“Maaf Mbah, saya bukan hendak beli apapun. Tapi saya mau.., ah bagaimana ya?”
Lelaki tua itu memperhatikan. “Ya?”
“Kata orang-orang sini Mbah..,”
“Benar Tuan, saya sedang mencari seorang lelaki yang lahir mangsa kapitu. Tuan
kenal?”
“Tidak Mbah. Sebenarnya saya ingin..,”
“Ah, jangan-jangan Tuan yang saya cari?”
“Saya tidak mengerti Mbah. Benar-benar tidak paham.”
“Tuan seorang wartawan?” tanyanya tiba-tiba.
“Sebenarnya, itu yang mau saya bilang tadi. Jadi maksud saya hendak..,” “Sebentar, sebentar. Sudah sering saya melapak di sini, tapi saya tidak pernah lihat Tuan? Tuan betul orang desa sini? Asli sli?”
“Ya, tapi saya merantau. Kebetulan saya pulang kampung. Baru senin kemarin saya pulang besok rabu saya balik lagi ke kota. Saya dengar tiap pemblicaraan di pos kamling, di warun klontong, di warung kopi tentang Mbah, tentang DPRD yang kecopetan, banyak lagi. Saya jadi penasaran mau ketemu langsung. Sekalian kalau boleh saya ingin tanya-tanya.”
“Saya ini orang biasa saja Tuan. Cuma pedagang begini-ni” terangnya merendah. “Tuan, kalau boleh tahu Tuan lahir bulan apa?”
“Januari Mbah. Memang kenapa?” tanyaku wartawan itu keheranan.
“Oh” ujar Mbah Anggoro singkat menambah bingung. “Saya ini orang jauh. Jauh sekali” tambahnya sambil menghela nafas. Agak lama ia terdiam, nampak berpikir. “Tuan tidak takut dengan saya? Saya ini bukan orang baik-baik”

Wartawan itu bingung bukan main. Diamatinya Mbah Anggoro betul-betul. Wajahnya, penampilannya, cara duduknya, sampai rokok klobotnya. Betul-betul wartawan itu mengamati.
“Saya ini bukan orang baik-baik,” ulang Mbah Anggoro “Tuan benar tidak takut sama saya?”
“Ah, Mbah bercanda. Mbah ini kan tidak ada potongan kriminil? Mbah nglawak nih?”
“Ya sudah kalau Tuan tidak percaya. Kalau Tuan tidak keberatan saya mau minta tolong,”
“Minta tolong apa Mbah?”

“Saya ingin bukan cuma seluruh pasar, desa, kecamatan yang kenal saya. Kalau bisa satu kabupaten, satu provinsi sampai satu negara kenal saya sebagai komplotan pencuri. Tuan wartawan koran nasional kan? Tentu tuan bisa bantu saya.”

Sejurus wartawan semakin puyeng. Kucing-kucing pasar berjalan-jalan dari atap pasar, turun ke tembok, meloncat ke bawah. Di bawah lincak parkiran itulah ia rebah. Di timur pasar, tinggalah mereka berdua setelah penjual buah pulang.
“Maaf Mbah, betul-betul saya tidak paham. Niatan saya memang ingin mewawancarai. Tapi sebagai seorang wartawan, manamungkin saya bikin berita bohong”
“Saya juga tidak bohong kok. Saya memang komplotan rampok. Memang tidak banyak yang tahu kalau saya ini anak buahnya benggol ulung Gobang Kinosek. Dalam komplotan, bagian saya sebagai canguk. Ya, sedikit-dikit bisa aji sirep beganda dan aji welut putih. Buat jaga-jaga saja, biar selamat” terang Mbah Anggoro. “Mau bagaimana lagi Tuan, hidup jadi kuli tlosor begini-begini saja. Masak seumur hidup, terus-terusan kerjanya macul. Apalagi sejak patuh menaikkan pajak dan sering menyuruh bayar pungutan-pungutan lain, sikep yang menampung saya serba kekurangan. Itu belum termasuk beban lain. Sering juga kami dituntut ikut kerigaji, kerigan dan gugur gunung. Mulanya saya juga tidak mau ikut-ikutan komplotan. Tapi karena yang mengajak saya ada benarnya juga. Saya sadar masak kita yang mati-matian kerja dapatnya dikit, sedangkan patuh, leyeh-leyeh terima untung” ungkap Mbah Warno. “Saya pergi malam-malam, tanpa pamit. Saya tidak lagi kembali. Hati saya semakin mantap apalagi sejak orang-orang gede jadi kacungnya Landa.”

Daun-daun trembesi berguguran diterpa angin sore. Gugur seperti semua rahasia pedagang perkakas tani itu.


Aku sudah menulis yang penting-penting saja. Tentang kemauannya yang ingin satu negara mengenalnya, sangat menggelikan kalau diiyakan. Lagipula siapa ia? Orang parpol bukan, menteri bukan, pejabat bukan, DPR bukan, Presiden? Ah sudahlah, kalau dipikir-pikir malah bikin ketawa.

Ceritanya tentang menjadi salah satu komplotan maling, paling ngibul doang. Biasa, ilmunya pedagang kan begitu. Ia pikir saya wartawan yang gampang ditipu apa? Dasar tukang dagang, jadi mau ketawa.

Tertang dirinya, saya hanya menulis kegigihannya dan dandanan nylenehnya. Tidak. Saya tidak menulis sedikitpun tetang cerita DPRD yang kecopetan. Terlalu berabe. Nanti perkranya sampai kemana-mana. Nanti citra polisi bagaimana?

Inilah korannya. Kita lihat pada halaman 3. Loh. Loh kok tidak ada. Apa-apaan ini. Harusnya di sini-ni. Dekat berita demo para petani. Ini kok tidak ada? Padahal bukan pemberitaan yang berbahaya. Tentu aku paham betul berita yang bakal kena sensor.

Aku segera menghubungi kantor. Tak lama kantor mengabari sudah memuatnya. Tidak ada sensor untuk berita saya.

Tiba-tiba seorang kurir pos memberi saya paket. Seingat saya, memang tidak ada sanak kerabat yang bilang ingin mengirim sesuatu. Cepat-cepat aku membukanya. Siapa yang mengirim ini?

Sebuah koran lama Ketjoe Serkuler. Koran itu menerangkan bahwa telah terjadi pengkecuan di desa Onggopatran, Klaten. Seorang Bekel Sumowedono menjadi korbannya. Ia kehilangan f 1.117,50. Pengkecuan pada tanggal 9 Januari 1875 dilakukan oleh gerombolan kecu dari Yogyakarta dibantu seorang penduduk desa yang bertindak sebagai petunjuk arah. Korban cedera dalam pengkecuan itu dua orang penjaga rumah bernama Tumpuk dan Kamidin.

Aku memeriksa kembali berkas yang kukirim. Pihak kantor kuhubungi kembali, namun mereka membenarkan kembali telah menerbitkan hasil wawancaraku. Aku memeriksa kembali berkas yang kukirim ternyata memang telah terkirim. Aku membacanya kembali apakah ada yang keliru kutulis?

Aku terkaget, tak salah kah? Aku sudah memotretnya. Benar. aku tidak memotret lapaknya. Aku mengecek kamera. Astaga. Tidak mungkin! Potret lelaki penjual perkakas itu tidak ada. Tidak. Tidak. Mana mungkin aku hanya memoto lapaknya dan pohon trembesi?

Buru-buru aku menelfon keluarga di desa. Mereka tidak mengenal Mbah Anggoro. Mereka hanya mengenal Mbah Wirot sebagai satu-satunya pedagang perkakas tani di timur pasar, Kerabat juga berpendapat sama. Mas Gendon, tukang parkir yang juga temanku, tidak tahu juga. Mereka hanya mengenal Mbah Wirot. Kata mereka, Mbah Wirot memang sudah ama dagang di sana. Semua orang tahu, Mbah Wirot satu-satunya pedagang perkakas tani di timur pasar itu. Hanya ia, selama lima tahun tak ada pedagang perkakas tani yang lain!

Dengan ketidakpercayaan mengempal dalampikiran, aku membolak balik ulang tiap halaman koran. Benar-benar halaman satu pun tidak ada berita tentang Mbah Anggoro.

Koran ini banyak memuat berita korupsi, demo besar-besaran petani dan tingkah nyleneh DPR.

Eko Nurwahyudin Yogyakarta, 2 Oktober 2019

sumber gambar: fikhsyen shasha

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here