Cerpen Michael Musthafa: Seorang Lelaki Yang Membeli Senyum Dengan Ceritanya.

0
154
Seorang Lelaki Yang Membeli Senyum Dengan Ceritanya

Kemari dan duduklah. Aku  akan bercerita tentang suatu masa di mana akan ada seorang lelaki berbadan kurus yang datang padamu dengan membawa sebuah keranjang berisi cerita-cerita. Ia bermaksud mengajakmu bekerjasama untuk saling mendapat keuntungan. Lelaki itu akan memberikan cerita-ceritanya padamu dan kau harus memberikan senyummu padanya.

“Mengapa harus demikian? Siapa dia?” Kau bertanya dengan dahi mengerut seperti garis-garis.  Kau tentu antusias sekali. Tetapi, bisakah kau sedikit bersabar dan tidak melontarkan pertanyaan sementara aku akan meneruskan ceritaku?

Perlu kau ketahui bahwa ia mempunyai banyak koleksi cerita dan ia mengumpulkannya hanya untuk membeli senyummu. Dalam beberapa cerita, ia memasukkan bumbu kelucuan-kelucuan sehingga saat kau mendengarnya,  kau akan tertawa atau minimal tersenyum, tanpa kau sadari sekalipun. Dalam hatinya, ia bersorak ria merayakan sebuah keberhasilan. “Pencapaian yang luar biasa,” gumamnya.

Lalu lelaki itu beranjak meninggalkanmu seorang diri dalam ruang yang kosong. Membawa sebuah keranjang untuk diisi peristiwa-peristiwa yang dipungutnya di jalanan. Lalu, kembali lagi keesokan harinya, atau minggu depannya atau entah kapan saat keranjangnya sudah penuh dengan cerita. Ia akan membagikan ceritanya dan dalam satu akan memperoleh senyummu. Senyummu? Iya. Dan apa yang membuat ini terasa penting?

Jadi, lelaki itu memang aneh dan hidup sengsara. Ia datang dari sebuah negeri yang jauh dan memilih tinggal di kota ini selama beberapa waktu. Ada banyak kekecewaan yang telah dijumpainya. Menurutnya, kota ini terlalu sesak, bukan sesak dengan manusia, melainkan penderitaan. Tidak ada manusia yang bahagia dan mereka berusaha memasang topeng untuk menutupi kesedihannya. Dalam sebuah topeng, mata tak sanggup memandang apapun yang ada di sekitarnya, hanya ada satu arah penglihatan yang jauh ke depan dan dalam topeng pula, tak ada yang tahu bahwa mereka sedang tersenyum atau cemberut.

Begitulah memang pada kenyataannya. Manusia di kota ini berjalan dengan memusatkan pandangan ke depan tanpa menolah-noleh. Tak peduli apakah di kanan-kirinya ada orang lain yang ingin digandengnya, atau kaki mereka tak sengaja menginjak lengan seorang anak kecil yang sedang memungut botol bekas.

Di trotoar itu, terdapat seorang kakek yang kurus dan berjenggot putih. bajunya sobek-sobek dan tak pernah berganti selama berhari-hari. Mungkin juga ia sudah sebulan tidak pernah mandi. Rambutnya acak-acakan dan kumisnya tebal. Ia tidur di trotoar itu dalam kondisi kelaparan, dengan alas kardus dan tanpa makanan. Di sampingnya, banyak berlalu lalang tapi sama sekali tak menghiraukannya, membiarkannya tetap kelaparan.

Kakek itu menderita tak mampu mencukupi kebutuhan dirinya sendiri, orang-orang yang berlalu-lalang di sekitarnya menderita sehingga lupa mempedulikan apa-apa di sekitarnya dan lelaki yang membawa keranjang berisi cerita-cerita itu juga menderita saat menyaksikan kejadian itu. Mengapa menjadi sedemikian menderita?

Barangkali memang benar kata Gautama Buddha, bahwa hakikat hidup ini adalah penderitaan. Tetapi, tak bisakah kita beranjak sedikit lebih jauh dari penderitaan? Dalam penderitaan, Lelaki itu memeluk keranjangnya erat-erat. Ia mulai berpikir untuk membahagiakan dirinya sendiri sebelum menjadi bagian dari apa yang disaksikannya barusan di sebuah trotoar, seorang kakek yang malang dan orang-orang yang tak peduli. Tetapi bagaimana caranya membahagiakan diri sendiri? Tersenyum. Ia menebak-nebak sendiri jawabannya. Ia yakin pada jawaban itu tetapi tak tahu bagaimana caranya. Mungkin aku perlu senyuman dari orang lain, pikirnya, akhirnya.

Kemudian lelaki itu mencari senyuman. Di suatu jalan, ia bertemu Tukang Ojek dan bertanya, “Di mana ada senyuman?” Si Tukang Ojek, “Wah nggak tahu ya, Mas. Coba aja cari di toko-toko. Barangkali di sana ada yang jual senyuman. Mari saya antar!” Lelaki itu menuruti. Sampai di sebuah toko, Ia bertanya ke kasir, “Apa di sini menjual senyuman?”

“Mohon maaf, tidak ada, Mas. Toko-toko tidak menyediakan senyuman. Di sini hanya ada kepalsuan.” Lelaki itu kecewa. Ia mengunjungi hampir seluruh toko di kota ini dan tak satupun menyediakan sebuah senyuman. Apa yang terjadi selanjutnya?

Pada suatu hari, ia berteduh di bawah pohon rindang di pinggir jalan raya. Keranjangnya ditaruh di pangkuannya. Ia berniat istirahat karena kelelahan mencari segores senyum yang nyaris tidak ada di kota ini. Tetapi, matanya tiba-tiba menangkap sesuatu. Apa? Seorang gadis. Seorang gadis berdiri di depan sebuah toko bercat merah yang ada di seberang jalan dan tengah tersenyum.

Lelaki itu terpaku memandangnya. Ada kesejukan yang tertabur di hatinya seperti salju. Matahari bersembunyi di balik awan yang tebal. Tak ada lagi panas. Ia merasa tertarik pada senyum yang menyiramkan kesejukan itu, tapi tak punya uang. Lalu bagaimana? Ia punya banyak cerita dalam keranjangnya. Dan ia ingin membeli senyum itu  dengan cerita-cerita. Ia beranjak dari duduknya dan menghampiri gadis itu. Si Gadis terkejut dan entah mengapa merasa ada sesuatu yang aneh. Tetapi, Lelaki itu tak menghentikan langkahnya. Saat tiba didepannya, ia mengambil beberapa potong cerita dalam keranjangnya dan menyodorkannya pada gadis itu, “Boleh aku menukar senyummu dengan beberapa potong cerita ini?” Katanya. Ngomong-ngomong. Gadis itu adalah kau.

“Apa? Aku? Cerita macam apa ini? Konyol. Kau sedang tidak meramal, bukan?” Ujarmu saat merasa jengkel. Terus terang cerita itu bukan benar adanya, bukan fiksi. “Siapa sebenarnya lelaki itu?” Kau menambahkan.

Aku tak ingin membuatmu kebingungan. Tetapi, lelaki itu sebenarnya boleh siapa saja. Siapa saja bisa menjelma lelaki itu, bahkan penulis cerita tentang kita ini punya kesempatan untuk menjadi lelaki itu. Dan memang rasanya, dialah orangnya.

“Maksudmu, penulis cerita ini menyukai senyumku dan ia membelinya dengan beberapa potong cerita? Yang benar saja. Aku hanyalah karakter yang ada di dalam pikirannya. Tidak nyata, dan gila jika ia berpikir bahwa ia akan hidup satu ruang denganku.” Katamu.

Oh tidak, bukan begitu. Kaupun bisa menjelma menjadi siapa saja yang penulis itu mau. Bisa saja kau adalah seseorang yang sedang membaca kisah ini, seorang gadis manis yang ditakdirkan untuk dihadiahi cerita ini, lalu kau tersenyum padanya dan kejadiannya menjadi persis seperti yang kusampaikan barusan. Biar jelas, kita tanyakan pada penulis cerita ini, gimana Pak Penulis Cerita?

***

Maaf, ini saya ibu kandung dari penulis cerita ini. Ada apa ini? Saya dengar, tokoh cerita yang dibuatnya telah memfitnah anak saya sebagai lelaki yang membeli senyuman seorang gadis dengan ceritanya. Bajingan, tokoh cerita sialan. Berani-beraninya, anda memperlakukan seperti itu pada anak saya. Sekarang dia terserang gangguan mental karena mendapat perlakuan yang memalukan ini.

Tolong ya, jangan sembarang menuduh. Anda ini hanya tokoh buatan anak saya dan mengapa kalian bersikap lancang pada penulisnya? Anak saya ingin menulis cerita tentang kalian untuk diberikan pada pacarnya, entah siapa. Tetapi sekarang mentalnya ambruk dan mengurung diri di kamarnya. Sekarang saya akan menghukum kalian untuk datang sendiri pada pacar anak saya, lalu meminta padanya segores senyum untuk menyembuhkan penyakit mental anak saya. Pergi! 

gambar: citogog

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here