Puisi-puisi Faisal Alif: Pada Sebuah Gubuk

0
116
Pada Sebuah Gubuk

Kau, Aku dan Tempat Pulang Tengah Malam

Fai-q
Kau duduk dengan riang
dalam mataku yang linang
bulirnya jatuh di dada
membentuk duka lara.

apa warna sedih?

Kau berlalu
Bus membawamu ke titik terjauh
Meninggalkan jejak, menembus jarak
Sementara aku,
Seperti sedang dalam perang
Penghabisan.

Rindu menajamkan pedang
Menghunus
Membabat habis
Sisa hidupku
Di hadapanmu

Yogyakarta, 2019
Di dalam kamar

Aku lihat semua barangku mengeluh
Kursi yang malas ditempati
Korek yang kehilangan api
Puntung yang masih panjang
Buku yang tak pernah dibaca
Serta kepalaku yang masih menolak
Untuk waras

Pikiranku pergi
Jauh sekali
Ke arah timur
Mencari-cari
Apa yang sudah kau lakukan
Hari ini?

Aku bukan seorang peramal
Aku hanya penghayal
Yang tidak ingin berpikir
Kecuali tentang engkau

Yogyakarta, 2019
Dua Warna Yang Aku Suka

Tiba-tiba seperti penutup rambutmu
Sangat lucu dan aku rindu

Aku juga suka
Warna malam
Warnanya Sama
seperti warna bajumu
Saat kau membaca puisi
Dan aku diam-diam merekamnya

Sekarang aku melihat engkau
Dalam ponsel
Aku pandang sepuasnya
Kuulang-ulang
Sampai aku tidur
Engkau sebagai mimpinya

Yogyakarta, 2019
Fa I Qyu Kirahe

Fa
Tangga keempat nada
Dan aku menolak pindah
Jika engkau sebagai lagunya

I
Aku mencintaimu
Terjamahkan
Dalam bahasa ingirs

Qyu
Semoga engaku
Yang terbubuh
Dalam takdir
Yang aku tulis
Sebelum lahir

Kirahe
Ini kata;-kata absurd
Sama seperti kepalaku
Saat ini.

Yogyakarta, 2019
Setelah kau pergi

Setelah kau pergi aku lebih sering berkhayal
Membayangkan semua yang tak penting
Aku suka melupakan dan meneggelamkan
Namun sebagai lelaki yang mencintaimu
Tentu aku masih bisa bernyanyi
dengan suara yang tidak kau dengar
Tapi itu ada, mungkin kau kurang menyimaknya
Sebagaimana angin
aku membayangkanmu adalah puisi-puisi jatuh
meninggalkan bekas darah pada kata-kata
lalu menyusup kedalam angan.

Sorowajan, 2017
Tentang puisi

I
Puisi adalah ruang kosong
Yang menyimpan gema
Tak ada siapa-siapa
Selain udara yang kaku

II
Setelah aku mencintaimu
Puisi adalah tempat berlibur bagi penat
Semua kata kurakit
Dari luka, duka maha sakit

Sorowajan, 2017
Ingatan

I
Aku ingin kembali pada masalalu
Pada masa aku masih kanak bermain hujan
Menghiraukan nasehat ibu
Sementara, batuk dan pileg siap menyerang di setiap waktu

II
Ingin aku kembali pada masalalu
Saat hendak tidur aku digendong, dinynyian dengan merdu
“Dung dung dung anak bule montaktedung ejemuana
Kalamon tedung espoana”
Namun sekarang hidup sendiri di kejauhan sebuah pilihan
Untuk senyum ibu di masa mendatang

Grawiksa Institute, 2017
Pada Sebuah Gubuk

            ;Azam Tanjalil Anfal
Ini hujan membawaku ke subuah gubuk
Katamu.
Dalam puisi yang pernah kau baca
Aku berucap
Benar

Ternyata puisi lebih dulu tahu
Ke mana kita akan berlindung
Dari gigil hujan
Gemetar bagi kilat yang menyambar

Hujan reda
Kau, aku berlalu

Yogyakarta, 2019

Faisal Alif sebenarnya Muhammad Rizal, Mahasiswa yang tersesat di Prodi Hukum Tata Negara Fak Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga aktif di Garawiksa Yogyakarta, alumni Pondok Pesantren Annuqayah. E-mail, rizalmoehammad56@gmail.com

sumber gambar: unsplash

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here