Puisi Firmansyah Evangelia: Kota Terapung

0
44
kota terapung

Kota Terapung

;pelosok-pelosok berlimbah
Kami cemas berkuasa di kota terapung
Mabuk analogi berbagai mozaik tak lagi mambang mencipta ruang

Sebagaimana mendoner mimpi, memeras asa, serta menghentikan gemuruh mesin kapal perang di kepala
Barangkali, tangis drastis paling tragis
Sempurna memancar di zaman kami
Sinis, stanza resah memboyong kami di sepanjang lelah
Lenyap sukaria, kisah, cerita, Bahkan nyamuk-nyamuk kian pindah ke kota lain

Kini, tinggal sebuah luka yang bertaut di laut jiwa
Rotan menetak, memartil ironi tak tamat-tamat mencipta ngeri
Hinga ganas mata kemarau,terkurung erat menjadi nasib
Sungguh malang kotaku, kelam khazanah dari sejarah
Disini, tinggal bising beringas yang tersisa;
Gong-gong anjing, raungan macan, desis ular,suara naga dan segalanya
Biarkan kami tetap merintis tragedi sengsara
Di kota-kota hilang makna

Sejenak, pirau menebar serejang dari semerbak kemenyan mantra-mantra tua
Sesekali, sejawat dendam pada lebam celah ronggang yang terus membara di dada
Gesa kolusi mengepul sionis mendidis menyisih Kristal sungai
Semalu merobak serpihan nama di belantara doa
Maka, cukup ku tanggalkan segenap keresahan
Bahwa: tak pernah ada rumus perih paling taji
Selain tancap belati kerap gentayangan dalam mimpi.

Annuqayah,2019

Sepotong Senja di Pulauku

Sepotong senja di pulauku
Adalah kesetiaan paling sacral
Sebab, kesaksian mata silaunya
Menyimpan sebongkah perkasa diksi
Yang kerap melahirkan mozaik puisi tak kunjung usai
Hingga, majas-majas kerdil di tubuh kertas
Kembali mengembara ke jantung langit

Atas nama doa dan pengharapan
Aku mesti harus melangkah melampaui arah
Di mana tempatku mengeja duri-duri sakti
Dari segenap kesucian dzikir yang hakiki

Barangkali, hidup adalah kematian
Ketika aku tak mampu bangkit dari katerpurukan
Sebab, rute-rute garis hidup
Tunggal tak kunjung tanggal di pekarangan nasib

Kali ini, aku masih getir, Tuhan
Melafal riwayat sekuntum daun
Sebab, bilamana sungai-sungai
Masihlah tak henti-henti mengalir ke hilir jiwa

Maka, cukuplah sepotong senja
Yang kan mewakili ranggas-riangnya kata-kata.

Annuqayah,2019

Senandung Ombak

Seperti mutiara berkilauan di rongga-rongga mata
Matahari jatuh di permukaan laut
Menyulap ombak jadi warna pelangi

Di langit, bidaddari-bidaddari samodra berkejaran
Menjelma duyung jelita saat kaki menyentuh buih
Camar-camar beterbangan
Dengan keriangan bocah laut mengejar ikan

Di pantai, bulan menyelimuti bakau menyentuh pucuk-pucuk kelapa
Di cakrawala, gambar-gambar bintang menjelma mata angina
Wewangi hutan jadi sempurna bersama aroma cengkeh
Pohon-pohon dan ceruk goa rundu dalam baying
Rumah-rumah sempurna dari tengkorak-tengkorak beserta jejak
Riwayat-riwayat tersimpan di kebisuan karang
Sabar menunggu hempas gelombang
Seperti perempuan sabar menghitung purnama
Menunggu kekasih datang dari balik pasang lautan
Bersama bau tuna bakar dan keringat nelayan

Esok, fajar adalah leret-leret cahaya sorga
Bocah-bocah riang berjalan menenteng gate-gate atau jupi
Berebut, mencebur ke laut yang menjelma warna kupu-kupu.

Annuqayah, 2019

Description: Description: E:\Capture Andre (2).PNG

Firmansah Evangelia.nama pena dari Andre Yansyah , lahir di pulau giliyang, yang terkenal kadar  Oksigennya setelah Yordania, 12 September 2002 ,tepatnya di dusun baru desa banra’as RT:03 RW:06, alumni MI,MTS pondok pesantren Nurul Iman, menyukai puisi dan tater sejak aktif di beberapa komunitas , di antaranya:PERSI (penyisir sastra iksabad ), LSA (lesehan sastra annuqayah) , Ngaji puisi, Mangsen puisi , Sanggar kotemang, poar ikstida. Beberapa karyanya pernah di muat di : Radar Madura, Nusantara News, Majalah Sastra Simalaba, Buletin Leluhur,Buletin Bindhara, Majalah Pentas, Potrey Prairey, Harian pringadi,dll. Buku puisinya : Duri-duri bunga mawar(FAM publising 2019),Rubaiyat Rindu(Jendela Sastra Indonesia 2019). Bisa di hubungi lebih dekat di akun Fb: Andre Serizawa dan via Email:andreansyahpersi@gmail.com.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here