Cerpen Zainal Muttaqin: Esek-esek dan Trauma Sumirah.

0
116

Panggilanku Sumirah. Gadis desa yang terkenal baik, lugu dan penurut. Perawakan yang tidak kurus, juga tidak gemuk, alias sedang-sedang saja. Dan kulit yang termasuk kategori putih.

Banyak warga desa mengenalku sebagai kembang desa. Selain itu, ada juga yang mengenalku sebagai gadis pintar. Oleh karenanya banyak kawan-kawan, terutama lelaki yang menyukaiku karena faktor cantik, bahkan sebagian masyarakat memujiku karena pintar.

Bagiku semua sifat tersebut adalah hal yang wajar. Dan mungkin ada beberapa orang di dunia yang seberuntung seperti aku. Pada intinya, semua sifat tersebut adalah anugerah Tuhan, dan jangan sampai pembaca yang mempunyai perawakan seberuntung aku menjadi sombong nan angkuh. Ingat! sombongmu itu hanya sementara, dan kalau Tuhan berkehendak sesuatu, sepertihalnya tua atau hal yang tidak terduga, kau akan menjadi sadar ternyata ada batasnya seorang menjadi angkuh, dan kau akan merasa betapa hinanya kita ini yang hanya sebatas seorang hamba.

Sudah-sudah cuk! Malah ceramah. Kembali lagi ke ceritaku.

Pendidikan bagiku merupakan asupan yang menyenangkan, utamanya dalam membaca yang merupakan hobiku sejak kecil. Dari membaca aku dapat menambah wawasan baru. Dari membaca pula aku dapat membuka jendela dunia.

Pendidikan terakhirku adalah sekolah menengah atas (SMA). Dan beruntungnya, waktu itu aku mendapatkan nilai bagus untuk ujian nasional (UN), sekitar 39,00. Dari nilai itulah, yang menjadikan semangatku untuk lanjut belajar lagi, yakni kuliah di kota Yogyakarta.

Kuasa Tuhan tidak dapat diketahui oleh angan manusia. Tentunya atas dasar kekuatan doa dan usaha, maka jalan menuju kebaikan akan terbuka selebar-lebarnya. Dan benar, Tuhan mengabulkan panjatan doaku. Aku keterima di perguruan tinggi, di salah satu universitas Yogyakarta.

Berita gembira ini, langsung kusampaikan kepada Ibu, Bapak, dan secara tidak langsung keluarga besarkupun mengetahuinya. Hingga menyebabkan polemik antar seluruh keluargaku, ada yang setuju alias mendukung, “wah, keren ya, Sumirah bisa keterima kuliah,” ada juga yang menolaknya “ngapain Sumirah kuliah di Jogja! Bahaya kalau cewek kuliah jauh-jauh, kita nggak bisa mantau kegiatannya!”.

Singkat serita, dari hasil perdebatan tersebut yang menurutku menyebalkan. Akhirnya menemukan titik kesepakatan. Aku tetep berangkat kuliah ke Yogyakarta.

Yogyakarta, melihat kotanya saja sungguh indah. Apalagi budayanya yang sangat keren, seperti: mueseum afandi, pertunjukan gamelan, wayangan, museum sonobudoyo, dan lain sebagainya. Belum lagi wisatanya: malioboro, tugu jogja, keraton yogyakarta, dll. Belum lagi terkait pendidikan, yang terkenal sebagai kota pelajar.

Tepat hari Senin, aku sampai di Yogyakarta. Kemudian langsung aku tuju kampus yang telah menerimaku sebagai mahasiswa baru. Sesampainya di kampus, segera aku selesaikan administrasi maupun biaya yang sudah ditetapkan oleh kampus.

Waktu cepat berlalu, orientasi pengenalan akademik kampus (OPAK) dimulai. Hari pertama terasa seperti waktu SMA, dimana mahasiswa baru disuruh nyanyi dan menghafalkan yel-yel, membawa peralatan aneh, juga hukuman yang harus dipikul bareng-bareng oleh seluruh mahasiswa baru.

Hari kedua sama dengan hari pertama, cuman ada tambahan seperti perkenalan para dosen, juga materi pengenalan kampus. Hari ketiga merupakan ending dari perjalanan OPAK. Semua skenario yang  kuanggap menyebalkan akhirnya terungkapkan, mulai dari panitia keamanan yang suka marah-marah, hingga hampir terjadi pertengkaran antara mahasiswa baru dengan panitia keamanan, dan berakhir dengan siram-siraman air juga permintaan maaf dari seluruh panitia.

Kuliah aktif dimulai. Mahasiswa pelan-pelan mulai dijejali tugas-tugas yang diberikan oleh dosen. Bagiku tugas mahasiswa jauh berbeda dengan tugas diwaktu sekolah, yang membuat kepalaku pening. Seperti: belajar menulis makalah, membuat materi presentasi, presentasi di depan mahasiswa, mengerjakan tugas lapangan, mengerjakan tugas kelompok, dll.

Berjalanannya lika-liku kuliah, membawaku jatuh ke dunia asmara. Ada kakak tingkat (namanya Gatot) yang suka denganku sejak OPAK. Bahkan sampai bela-belain untuk bisa berkenalan denganku, dan meminta informasi nomor HP dari temen-temen sekelasku.

Memang sebenarnya ujian terberat dalam belajar adalah cinta. Apa alasannya? Bagiku cinta bisa menjadikan kita semangat dalam belajar, asal dilakukan dengan serius (sampai ke pernikahan) dan saling mendukung (kelebihan dan kekurangan) antar pasangan tersebut. Begitupun sebaliknya, cinta bisa menjadikan kita buta, jika dilakukan dengan nafsu, akibatnya sering terjadi: possessive, over protective, having sex, making love, dll.

Ujian cinta ini ternyata menimpa diriku. Waktu itu aku telah selesai mata kuliah ekonometrika, dan kemudian melanjutkan perjalanan pulang ke kos. Kebetulan Gatot secara sengaja, menungguku disuatu sudut jalan dekat fakultas.

“Dek Sumirah, jujur, memandangmu adalah impian, mencintaimu adalah cita-cita, maukah kau jadi pasanganku dek?” ungkap Gatot dengan percaya diri disertai malu-malu.

Mendengar pernyataan Gatot yang tiba-tiba, membuatku panik. Keringat tidak wajar terpaksa keluar dari tubuhku. Wajah yang tadinya tegar, terpaksa membungkuk malu.

Memang  harus diakui, di dunia perkuliahan, jatuh cinta memang merupakan hal wajar. Seperti: ada kakak kelas yang jatuh cinta dengan adek kelas, ada sesama angkatan yang saling suka, dan lain sebagainya. Apalagi yang suka adalah kakak kelas terkenal, itu bisa menjadi kebanggaan tersendiri. Termasuk Gatot, lelaki yang ganteng, aktivis, juga terkenal di fakultas.

“Em… A… Apa be… benar abang suka Sumirah? Aku gadis kampung biasa bang, dan tidak punya apa-apa,” Jawab Sumirah dengan gagap malu.

“Beneran dek Sumirah, abang serius,” jawab Gatot dengan penuh keyakinan.

“Kalau abang yakin, Sumirah juga suka kog bang,” jawab Sumirah dengan wajah menunduk malu.

Ada perasaan senang ketika kuungkapkan kata “suka” pada Gatot, bisa jadi Gatot pun merasakan perasaan yang sama denganku. Tapi ada rasa penyesalan, bagaimana dengan perkuliahanku nanti? Apakah dengan pacaran membuatku fokus untuk kuliah? Atau sebaliknya, akan lupa dengan tujuan awal? Ah biarkanlah berjalan dulu, mungkin ini hanya perasaanku saja.

Dibulan pertama kami sangat romantis, apapun kegiatan kami lakukan bareng, mulai dari makan bareng, ngopi bareng, nugas bareng, jalan bareng, kemana-mana bareng. Dunia serasa milik berdua, begitulah kata orang-orang yang sedang jatuh cinta.

Tapi semua berubah dibulan berikutnya, sifat pribadi Gatot pelan-pelan mulai terlihat, mulai dari cemburuan, suka marah-marah, suka ngancem, suka ngatur. Dari sifat over itu, aku mulai muak dan tidak betah berpacaran dengan Gatot. Gara-garanya aku tidak fokus kuliah, nilaiku menurun, tugasku terbengkalai, waktu untuk kuliah terbuang sia-sia. Hingga aku ungkapkan ke Gatot untuk minta putus dari hubungan ini.

“Janganlah kau putuskan abang dek” kata Gatot dengan wajah sedih, “kalau putus, nanti aku bunuh diri!” lanjut Gatot dengan nada ancaman.

Mendengar ancaman Gatot membuatku kepikiran. Bagiku Gatot sudah seperti orang buta. Di nasehati tidak lagi terdengar ke dalam hati, selalu suka mengancam bunuh diri, maunya menang sendiri. Padahal aku hanya ingin fokus ke dunia perkuliahan. Ah sudahlah, dari pada masalah sepele gini diributin.

“Ya sudah bang, Sumirah maafin abang,” jawab Sumirah dengan keterpaksaan “Tapi abang janji ya, jangan cemburuan lagi, apalagi suka kasar sama Sumirah” lanjutnya.

Gatot lalu mengangguk, pertanda siap memenuhi janji Sumirah.

Esoknya hubungan kami membaik. Kamipun mulai menjalani aktivitas seperti biasanya. Juga saling menasehati jika terjadi kesalahan diantara kami.

Suatu malam Gatot main ke kosku, kemudian dia memaksaku untuk menutup pintu kos (silakan pikirkan sendiri, apa yang mereka lakukan). Bahkan kejadian ini diulangnya terus, seperti di waktu keadaan sepi, terkadang di tempat pariwisata yang tergolong sepi, selain itu juga di sudut jalan yang sepi, dll.

Dan bodohnya aku, kenapa mau dijadikan pelampiasan nafsu esek-esek? Ah entahlah, yang penting aku tidak hamil (Asu, ini bukan tentang tidak hamil Sumirah! Kau sekarang posisinya jadi korban cuk!).

Hari demi hari terasa berat, batinku semakin kacau, dan juga perasaanku. Aku takut kalau Gatot tidak mau bertanggung jawab atas perbuatannya. Aku takut dia tidak mau menikahiku.

Dan benar terjadi, Gatot kini perlahan mulai menjauhiku. Terlihat dari WA-nya yang singkat, tidak mau diajak ketemuan, tidak romantis, dll. Sesekali Gatot mau diajak ketemu, tapi bicaranya singkat, dia lebih mementingkan bermain game di HP-nya dari pada berbicara denganku.

Semua usahaku untuk bertahan berakhir sia-sia. Gatot ternyata selingkuh, diam-diam dia mempunyai pasangan lagi selain aku. Aku semakin stress. Aku bagaikan korban nafsu sesaat oleh lelaki badjingan itu. Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi, apakah Gatot harus kulaporkan kepada yang berwajib? Ataukah kulaporkan kepada orangtuanya Gatot? Tapi, ketika kusampaikan pernyataanku, apakah mereka percaya? Apakah Gatot mau bertanggung jawab? Apakah Gatot mau menikahiku tanpa adanya paksaan?

Aku hanyalah gadis lemah yang tidak kuasa atas segalanya. Harapanku, semoga kisah ini menjadi pembelajaran bersama bagi para pembaca, khususnya para perempuan yang sudah menjadi korban, dan juga para perempuan yang belum jadi korban.

Jaga diri kalian baik-baik, wahai para perempuan yang tangguh! Jangan sampai kalian terbutakan dan terbodohkan akan perihal cinta. Bukan bermaksud untuk mengharamkan dalam bercinta. Tapi sadarlah wahai para perempuan yang tangguh!, bisa jadi cintamu itu menjadi kenyataan (sampai ke pernikahan, asal ada komitmen), bisa jadi cintamu itu hanya sebatas pelampiasan nafsu sesaat, dan setelah itu kau ditinggalkan (menderita) selamanya.

Dan untukmu wahai lelaki, jangan kau nodai kami, jangan kau sakiti kami, jangan kau renggut masa depan kami demi kepuasan nafsumu.

#Biografi

Penulis bernama Zainal Muttaqin, atau biasa dipanggil dengan Cak Inal. Penulis adalah peneliti Ekonomi Syariah, mahasiswa pascasarjana UIN Sunan Kalijaga.

ilustrasi: unsplash

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here